Oleh: Kesya Inaaya Muliyana
Di kota Lhokseumawe, hiduplah seorang gadis kecil berusia 10 tahun bernama Inaya. Ia tinggal bersama ibunda dan kedua abangnya. Kisah ini berawal pada suatu Jumat siang yang terik, tepatnya pukul 11.30, di ruas jalan depan Kantor DPR.
Pada hari itu, seperti biasa, Inaya dijemput oleh ibundanya sepulang sekolah. Setelah memanggil Inaya, sang ibunda kemudian memanggil kedua abangnya. Mereka berempat berboncengan di atas satu motor; Inaya duduk di depan, sementara kedua abangnya berada di belakang.
Saat melintas di depan Kantor DPR, tiba-tiba sebuah motor menyalip dan menyenggol kendaraan mereka. Keseimbangan pun hilang, motor itu oleng hingga akhirnya mereka berempat terjatuh ke aspal.
Baca Juga
Ketika Suara Menyatukan Kita
Kedua abang dan ibunda Inaya tidak mengalami luka berarti. Namun, nasib nahas menimpa Inaya. Tubuhnya yang mungil tertimpa oleh badan motor yang berat.
Orang-orang yang berada di sekitar lokasi bergegas menolong. Sayangnya, Inaya tak mampu bangkit. Kakinya terasa begitu sakit hingga ia tidak bisa berjalan.
Seorang satpam yang berjaga di gerbang Kantor DPR segera mengangkat tubuh kecilnya dan memindahkannya ke sebuah becak. Mereka membawanya ke Rumah Sakit Kasih Ibu.
Setibanya di sana, ia bertemu dengan ayahnya yang kebetulan bekerja di rumah sakit itu. "Jangan di sini, bawa ke Rumah Sakit Kesrem saja," ucap sang ayah cemas. Tanpa menunggu lama, mereka segera membawa Inaya ke Rumah Sakit Kesrem untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Baca Juga
Cerpen: Semesta di Ujung Lorong
Di Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Kesrem, mimpi buruk Inaya berlanjut. Dokter terpaksa meluruskan kakinya yang bengkok. Inaya menjerit sekuat tenaga.
"AAAAA, SAKIT! KAKI INAYA SAKIT, BUNDA!" teriaknya pilu.
"Tahan, ya, Nak. Sedikit lagi kakinya lurus," bisik sang bunda, mencoba menenangkan.
Tak lama, kaki itu berhasil diluruskan kembali. Inaya kemudian dibawa ke ruang rontgen untuk memastikan ada atau tidaknya tulang yang patah.
Hasilnya menunjukkan bahwa tulang kakinya hanya retak. Inaya pun harus dirawat di rumah sakit tersebut selama dua minggu.
Setelah itu, ia diizinkan pulang menggunakan kursi roda karena kakinya masih terasa nyeri dan belum bisa menapak dengan normal.
TIGA MINGGU KEMUDIAN
Tiga minggu berlalu dalam kebisuan dan rasa sakit. Inaya hanya bisa berbaring di tempat tidur, tak mampu melakukan apa pun.
Khawatir dengan kondisinya yang tak kunjung membaik, keluarganya membawa Inaya ke Rumah Sakit Cut Meutia untuk dirontgen ulang.
Hasil pemeriksaan bagai petir di siang bolong. Dokter berkata, "Kaki Inaya mengalami patah tulang. Ini harus segera dioperasi di Medan karena di sini tidak ada peralatannya untuk anak-anak."
Perjalanan jauh pun ditempuh. Setibanya di Medan, Inaya dibawa ke Rumah Sakit Adam Malik.
Di sana, ia kembali menjalani rontgen untuk melihat dengan jelas bagian tulang yang patah. Namun, harapan untuk segera dioperasi pupus ketika dokter menjelaskan, "Alat untuk operasinya harus dipesan dulu dari Jakarta."
Tak tega melihat putrinya menahan sakit lebih lama, sang ibunda bertanya, "Dok, apakah bisa dirujuk ke rumah sakit lain agar bisa langsung ditangani?"
Dokter itu pun mengerti dan segera menelepon beberapa rumah sakit lain. Syukurlah, ada satu rumah sakit di Medan yang memiliki peralatan yang dibutuhkan. Inaya pun segera dirujuk ke sana.
Baca Juga
Smansa: Bukan Sekadar Mimpi
Setibanya di rumah sakit yang baru, ia ditempatkan di UGD untuk menunggu kamar rawat inap yang kosong.
Semalaman Inaya berada di sana. Keesokan paginya, kabar baik datang: sebuah kamar telah tersedia. Inaya segera dipindahkan dan diminta berpuasa sesuai arahan dokter sebagai persiapan operasi.
Sore harinya, Inaya didorong menuju ruang operasi. Selama tiga jam, tim dokter bekerja keras untuk menyambung tulangnya. Dua buah pen berbentuk seperti sendok makan seukuran pulpen dipasang di bagian pahanya.
Setelah operasi selesai, Inaya kembali ke ruang perawatan. Serangkaian obat harus diminumnya setiap hari sesuai resep. Karena kakinya belum bisa lurus sempurna, sebuah jeriken berisi air seberat 2,5 liter digantungkan di ujung kakinya sebagai penarik.
Setiap malam, Inaya merintih kesakitan. Hati ibundanya teriris. Tak tega, setiap kali perawat sudah pergi, sang ibunda diam-diam melepaskan jeriken itu dari kaki putrinya dan memasangnya kembali sesaat sebelum perawat datang memeriksa.
Tidur Inaya tak pernah nyenyak, rasa sakit itu selalu membangunkannya di tengah malam.
DUA MINGGU KEMUDIAN
Dokter akhirnya mengizinkan Inaya untuk melanjutkan masa pemulihannya di rumah, dengan syarat ia harus rutin meminum obat. Inaya dan ibundanya sangat bahagia mendengar kabar itu. Hari yang mereka nanti-nantikan akhirnya tiba.
Perjalanan pulang selama tujuh jam di dalam mobil terasa begitu panjang bagi Inaya. Setibanya di rumah, ia langsung dibawa ke kamar oleh ibundanya untuk beristirahat.
Selama lebih dari sebulan, hidupnya hanya dihabiskan dengan berbaring dan duduk. Jika ingin ke dapur atau kamar mandi, ia mengandalkan kursi roda kesayangannya.
Setiap hari ia berjuang untuk sembuh, menyantap makanan yang dipercaya dapat mempercepat pertumbuhan tulangnya. Perlahan, ia mencoba berjalan dengan bantuan kursi rodanya.
Dukungan mengalir tanpa henti. Teman-teman sekolah, rekan kerja ibundanya, serta sanak saudara silih berganti datang menjenguk. Kehadiran mereka menyalakan kembali semangat Inaya untuk sembuh.
Perjuangan panjang itu akhirnya membuahkan hasil. Setelah lima bulan, Inaya dinyatakan sembuh total.
Ia harus merelakan tiga bulan masa sekolahnya, namun akhirnya bisa kembali belajar bersama teman-temannya, meskipun pada awalnya masih harus dituntun untuk berjalan sampai ke dalam kelas.
Penulis adalah Siswi kelas XI.2 Program Unggulan SMA 1 Lhokseumawe.
0 Komentar