Ketika Suara Menyatukan Kami

 



Foto: Dokumen  Pribadi

Oleh: Cut Mazaya Elponka

Suatu hari, aku duduk di pojok kelas, menikmati bekal yang tak sempat kusantap tadi pagi. Aku bersenandung halus, menandakan aku sangat menikmati makanan ini. 

Aku memang punya hobi menyanyi. Sering sekali, saat sendirian, aku tanpa sadar mulai bernyanyi. Tiba-tiba terdengar ketukan pintu. Ternyata kakak kelasku, Mela.

Ia menghampiriku dengan senyuman cerah. Sepertinya ada kabar baik. Ia langsung memberitahukan niatnya datang ke sini. 

Ternyata, ia berencana membuat ekstrakurikuler baru bernama “Paduan Suara” dan mengajakku bergabung agar ekskul ini semakin ramai. Aku merasa tertarik dan mengiyakan ajakannya. Sebelum menjadi anggota tetap, aku harus mengikuti seleksi, dan aku terpilih menjadi salah satu dari sembilan orang yang lolos.

Keesokan harinya, Mela memanggil semua anggota paduan suara untuk berkumpul di sebuah kelas kosong. Ia mengabarkan bahwa ada perlombaan yang diadakan oleh Pekan Kebudayaan Daerah (PKD).

“Adik-adikku tersayang,” sapa kakak pembimbing kami. “Kita hanya punya waktu tiga minggu untuk berlatih sebelum Pekan Kebudayaan Daerah (PKD) dimulai. 

Kakak harap kalian semua bersedia meluangkan waktu. Karena ini pertemuan pertama kita, alangkah baiknya kalian saling mengenal. Sekarang, Kakak izin pamit sebentar karena ada urusan yang harus diselesaikan.

Kakak pembimbing kami pergi, meninggalkan kelas kosong yang hening. Rasanya canggung. Kami semua saling memandang, tidak tahu harus memulai dari mana. 

Sampai akhirnya, salah satu dari kami dengan mata berbinar mulai bersenandung. Awalnya, hanya melodi-melodi lembut yang mengalun, tetapi kemudian yang lain mulai menyambut. 

Kelas kosong ini perlahan berubah menjadi sebuah pertunjukan dadakan. Kami tidak sedang latihan, kami hanya bernyanyi, berbagi cerita lewat lagu, dan menemukan irama yang sama di antara perbedaan.

Kami menemukan setitik harapan. Kami akhirnya menciptakan sebuah lagu berjudul “Serpihan Harmoni”. Judul itu terinspirasi dari kami, sekelompok orang dengan latar belakang dan karakter berbeda, yang berhasil menyatukan serpihan-serpihan diri menjadi sebuah harmoni yang indah.

Waktu tiga minggu berlalu begitu cepat. Tibalah hari yang kami tunggu. Kami akan tampil di acara Pekan Kebudayaan Daerah dengan perasaan gugup sekaligus bahagia. 

Di balik panggung, kami saling menguatkan, berbagi senyum cemas dan semangat. Saat nama grup kami dipanggil, sorak sorai penonton menyambut dengan hangat. 

Di atas panggung, kami menyanyikan lagu yang telah kami latih sepenuh hati. Setiap irama, nada, dan ketukan yang kami bawakan menyentuh hati pendengar.

Di akhir pertunjukan, tepuk tangan terdengar begitu keras. Tangisan yang tiba-tiba pecah mengiringi pengumuman juara. Nama grup kami disebut sebagai pemenang. Kami terkejut, tak percaya. Rasanya seperti mimpi. Kami berlari ke atas panggung bersama Mela untuk menerima piala.

Malam itu, kami tidak hanya membawa pulang sebuah piala, tetapi juga kenangan abadi tentang persahabatan, kerja keras, dan mimpi yang akhirnya terwujud.

 

Penulis adalah Siswa Kelas XI.2 Program Unggulan SMA 1 Lhokseumawe 



Berita Terkait

Posting Komentar

0 Komentar