Pudarnya Sebuah Kata , Kita


Foto: Dokumen Pribadi                                                                                             

Oleh :Zakiatul Aqliah

Hari itu, langit tampak cerah, meski hatiku sedikit mendung. Seragam putih abu-abu yang masih kaku menempel di tubuhku. Dengan langkah pelan, aku melewati gerbang besar SMA Harapan Bangsa. Halaman luasnya penuh siswa baru yang sibuk mencari kelompok.

Di tengah kerumunan siswa baru, saya melihat wajah yang kukenal.

“Lia!” Suara itu terdengar riang.

Aku menoleh. “Aluna?”

Dia tersenyum lebar. “Ya ampun, tidak menyangka bertemu kamu di sini!”

Kami pernah bertemu saat lomba pramuka di SMP. Sekolah kami berbeda, tetapi waktu itu tenda kami berdampingan. Sejak itu, kami menjadi dekat meski jarang bertemu lagi.

Saat Pembagian kelas, aku merasa senang, aku dan Aluna ternyata sekelas. Dalam hati, aku berharap bisa duduk sebangku bersamanya. Namun, harapan itu sirna saat melihat dia sudah duduk bersama Rita, teman SMP-nya. Aku berdiri di depan pintu kelas, sedikit bingung.

"Hai, Liah! Mau duduk di mana?" tanya Aluna sambil melambai.

“Hmm… di mana saja boleh,” jawabku.

"Eh, duduk bareng Lili saja. Dia sendirian, tuh," ujarnya sambil menunjuk ke baris belakang.

“Boleh,” jawabku singkat.

Lili menyapaku hangat dan kami mulai memperkenalkan.

Hari-hari awal terasa menyenangkan. Kami sering ke kantin bersama, berbagi bekal, bercanda di sela pelajaran, dan bahkan berfoto bersama saat pulang sekolah. 

Namun, seiring berjalannya waktu, suasana mulai berubah. Aluna, Rita, dan Lili mulai sering bersama teman-teman baru mereka. Sering kali aku hanya menjadi pendengar candaan mereka dan melihat mereka tertawa. Sedangkan aku, aku tidak tahu apa-apa, aku hanya duduk diam.

Suatu siang di kantin, aku melihat mereka duduk di meja yang penuh tawa. Aku berdiri cukup lama di dekat pintu, menunggu ada yang memanggil. 

Tapi, tak seorang pun menoleh.Aku menghela napas. Mungkin mereka tidak sadar aku ada, atau mungkin mereka memang tak lagi mengingatku.

Hari-hari berikutnya, aku mencoba untuk tidak terlalu berharap. Aku mulai berbaur dengan teman-teman lain: Haura yang suka melucu, Indah yang pintar menggambar, dan Wina yang selalu membawa camilan.

Rasa sedih itu sedikit berubah menjadi penerimaan. Aku sadar, tidak semua orang yang datang akan selamanya ada. Beberapa hanya singgah untuk mengajarkan arti kebersamaan, lalu pergi. 

Kini, setiap kali aku membuka album foto dan melihat foto kami bertiga, aku tersenyum. Bukan karena ingin kembali, tetapi karena aku bersyukur pernah punya “kita” di masa itu.

Kita yang tertawa, bercerita, dan berbagi mimpi.

Penulis adalah Siswa Kelas  XI-2 Program Unggulan SMAN 1 Lhokseumawe



Berita Terkait

Posting Komentar

0 Komentar