Menyemai Cahaya: Kisah Fitriah, Guru Fisika dan Al-Qur'an

 

Foto; Dokumen  Pribadi

Oleh: Keisha Talula Malaika

Fitriah, S.Pd., CLQ, lahir di Serang, Banten, pada 31 Juli 1999. Ia adalah seorang Guru Fisika dan Pendidik Al-Qur'an. Ia merupakan anak pertama dari pasangan Zulkifli dan Maryati. Fitriah tumbuh di tengah keluarga sederhana yang menanamkan nilai kerja keras dan kesabaran. 

Sejak kecil, ia terbiasa berpegang pada motto hidup yang selalu diulang dalam hati: “Janganlah berputus asa atas rahmat Allah.” Kalimat itu bukan hanya menjadi pegangan, tetapi juga sumber semangatnya ketika harus menghadapi berbagai tantangan.

Mengawali pendidikan di MIN 5 Kota Lhokseumawe, Fitriah telah menunjukkan minat yang besar terhadap pelajaran dan kegiatan literasi sejak usia dini. Kemampuannya dalam seni berbicara dan menulis mulai terlihat sejak duduk di bangku sekolah dasar. 

Setelah menamatkan pendidikan dasar, ia melanjutkan ke MTs Misbahul Ulum dan MAS Misbahul Ulum, tempat bakatnya semakin terasah dan terarah.

Selama masa sekolah, ia aktif mengikuti berbagai perlombaan dan sering kali membawa pulang piala kemenangan. Beberapa di antaranya adalah Juara 1 Lomba Baca Puisi saat kelas 5 MIN, Juara 1 Lomba Pidato tingkat madrasah aliyah pada tahun 2016, serta Juara 1 Lomba Menulis Puisi saat berkuliah pada tahun 2019. 

Kemampuan literasinya tidak berhenti di ajang kompetisi; karya puisinya turut diterbitkan dalam buku antologi yang dapat ditemukan di Google Books sehingga mampu menjangkau pembaca yang lebih luas.

Keinginannya yang kuat untuk menjadi guru membawanya melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi dengan mengambil program studi S-1 Pendidikan Fisika. Kesempatan ini menjadi semakin berarti karena ia terpilih sebagai penerima beasiswa Bidikmisi, sebuah program yang mendukung mahasiswa berprestasi dari keluarga kurang mampu. 

Selama kuliah, Fitriah tidak hanya fokus pada bidang akademik, tetapi juga terus mengembangkan diri melalui berbagai kegiatan literasi, organisasi, dan kompetisi ilmiah.

Selain pendidikan formal, ia juga memperdalam ilmu agama melalui pendidikan nonformal hingga mendapatkan gelar CLQ (Certified Leadership in Qur’an) yang membekalinya menjadi pendidik Al-Qur'an bersertifikat.

Tahun 2019 menjadi titik penting dalam perjalanannya. Saat masih berstatus sebagai mahasiswa, ia sudah mulai mengajar sebagai guru IPA (Fisika) di SMP IT Al-Jam’iatul Islamiyah. Kemudian pada tahun 2022, ia melanjutkan pengabdiannya dengan mengajar di SMA IT Dataqu Imam Syafi'i

Pengalaman ini semakin mengasah kemampuannya, dan ia percaya bahwa mengajar adalah panggilan hati. Perjuangannya membuahkan hasil manis. Pada tahun 2022, ia berhasil meraih Medali Emas Tingkat Guru se-Indonesia dalam ajang MSC POSI pada bidang Fisika. Tidak berhenti di situ, pada tahun yang sama ia juga meraih Juara 1 Lomba Karya Tulis Ilmiah Al-Qur'an (KTIQ) tingkat kecamatan.

Di luar jam sekolah, ia aktif berkontribusi di Bait Tahfidzul Qur’an Ukhtani. Di sana, ia membimbing para siswa dalam memperbaiki bacaan Al-Qur'an, sekaligus menanamkan nilai-nilai keislaman.

Fitriah bukanlah tipe guru yang hanya berkontribusi di ruang kelas. Ia mendirikan Bimbingan Belajar (Bimbel) Taman Alfitri Cendekia, sebuah lembaga yang membantu anak-anak menguasai calistung, memperbaiki bacaan Al-Qur'an, dan mempelajari Kitab Jawi. 

Melalui bimbel ini, ia ingin mencetak generasi cerdas yang mendapatkan kesempatan belajar yang layak, tanpa memandang latar belakang mereka.

Pada tahun 2024, ia terpilih sebagai Finalis Duta Baca Kota Lhokseumawe. Baginya, literasi adalah pintu menuju kemajuan, dan ia berkomitmen penuh untuk menumbuhkan minat baca di kalangan siswa serta masyarakat luas.

Tahun 2025 menjadi babak baru baginya saat ia terpanggil untuk mengikuti Program Pendidikan Profesi Guru (PPG). Melalui program ini, ia mendapatkan kesempatan untuk meningkatkan kompetensinya sebagai seorang pendidik profesional.

Perjalanan hidup Fitriah menjadi bukti nyata bahwa latar belakang sederhana bukanlah penghalang untuk meraih mimpi. Dengan kerja keras, doa, dan kesabaran, ia telah membuktikan bahwa mimpi masa kecilnya untuk menjadi seorang guru kini telah terwujud, bahkan melampaui apa yang pernah ia bayangkan.

 

Penulis adalah Siswa Kelas XII.1 Program Unggulan SMA N 1 Lhokseumawe.

 

Berita Terkait

Posting Komentar

0 Komentar