Oleh: Azla Nur Aghla
Nur Arfah, yang akrab disapa Bu Arfah, adalah seorang guru fisika yang mengabdi di SMA Negeri 1 Lhokseumawe. Lahir di kota yang sama pada 19 September 1977, ia merupakan putri bungsu dari empat bersaudara. Ayahnya, H.M. Amin, adalah seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS), sementara ibunya, Hj. Rukiah, berprofesi sebagai guru. Kini, Bu Arfah menetap di kawasan Lancang Garam, Lhokseumawe.
Perjalanan pendidikannya dimulai di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) pada tahun 1984. Ia kemudian melanjutkan ke jenjang menengah pertama di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTSN) Lhokseumawe pada tahun 1990, dan menamatkan pendidikan menengah atasnya di SMA Negeri 1 Lhokseumawe pada tahun 1993.
Sosok ayah menjadi inspirasi terbesar bagi Bu Arfah. Ayahnya adalah seorang politikus yang aktif di pemerintahan, pengusaha, dan organisatoris dengan jaringan yang luas. Melihat ayahnya sebagai sosok yang penuh kegiatan dan berpengaruh, Bu Arfah termotivasi untuk menjadi "orang besar" sepertinya.
Setelah lulus SMA, Bu Arfah bercita-cita menjadi seorang dokter. Berbagai upaya ia tempuh untuk mewujudkan impian tersebut, namun takdir berkata lain. Meski belum berhasil, semangatnya tidak pernah padam.
Ia tetap gigih memperjuangkan masa depannya dengan melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Harapan Medan, mengambil jurusan Teknik Elektro. Selama masa kuliah, jiwa organisasinya terasah saat menjabat sebagai sekretaris Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Teknik.
Setelah meraih gelar sarjana, Bu Arfah memulai perjalanannya di dunia pendidikan. Ia mencari pengalaman dengan mengajar di TK Srikandi, lalu menjadi guru di SMA Negeri 3 Lhokseumawe, hingga akhirnya diangkat menjadi PNS pada tahun 2005 dan ditempatkan di SMK Jeunieb.
Masa pengabdian di SMK Jeunieb menjadi periode yang paling berkesan baginya. Menghadapi siswa yang seluruhnya laki-laki menjadi tantangan tersendiri yang mengajarkannya cara berbaur dengan masyarakat setempat.
Kariernya di sana terus menanjak; ia sempat menjabat sebagai kepala jurusan dan pengalamannya diperkaya dengan mengikuti berbagai pelatihan dan diklat di Semarang, Tegal, Bali, Malaysia, hingga Jerman.
Perjalanan kariernya kemudian berlanjut ke SMA Muhammadiyah, tempat ia dipercaya menjabat sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum. Hingga akhirnya, ia mengabdi di almamaternya, SMA Negeri 1 Lhokseumawe, hingga saat ini.
Di tengah keragaman siswa yang dihadapinya, Bu Arfah selalu tegas menanamkan nilai-nilai toleransi, kesopanan, dan akhlak mulia. Ia memegang teguh sebuah prinsip hidup: menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain. "Sepintar apa pun dan setinggi apa pun karier kita, jika tidak berguna bagi orang lain, semua itu tidak ada manfaatnya," ujarnya.
Ia menekankan pentingnya adab di atas ilmu. Menurutnya, ketika seorang siswa memiliki adab dan etika, ia akan mampu menghargai guru, dan dari situlah proses belajar yang baik dapat terwujud.
Semangatnya untuk menebar manfaat tidak hanya terbatas di lingkungan sekolah. Di tempat tinggalnya, ia aktif menggerakkan kaum perempuan di Lancang Garam dengan bergabung dalam komunitas pemberdayaan perempuan, di mana ia juga menjabat sebagai sekretaris. "Perempuan itu harus berguna. Alangkah baiknya jika kita juga berguna bagi orang lain, bukan hanya untuk keluarga, tetapi juga di lingkungan sekitar," pesannya.
Saat ini, Bu Arfah tengah melanjutkan pendidikannya ke jenjang Magister Pendidikan IPA di Universitas Syiah Kuala (USK), membuktikan bahwa semangat belajar dan mendedikasikan diri untuk bermanfaat bagi banyak orang tidak pernah berhenti dalam dirinya.
Penulis adalah Siswa Kelas XII- 1 Unggul SMA N 1 Lhokseumawe
0 Komentar