Foto: Dokumen Pribadi
Oleh: Fahrul Reza
lili Zarlina, S.Pd yang akrab disapa Ibu Lili, lahir di Idi, Aceh Timur, pada tanggal 20 Agustus 1967. Beliau adalah putri bungsu dari enam bersaudara, buah hati pasangan Bapak Abubakar dan Ibu Fatimah.
Sejak kecil, Ibu Lili tumbuh dalam lingkungan keluarga yang penuh kasih sayang dan kedisiplinan. Kini, beliau menetap di Jalan Darussalam, Gang Patriot Nomor 87, Lhokseumawe.
Perjalanan pendidikan Ibu Lili dimulai dari SD Negeri 5 Idi, dilanjutkan ke SMP Negeri 1 Idi, dan SMA Negeri 1 Idi. Setelah menyelesaikan pendidikan menengahnya, beliau melanjutkan studinya di jurusan Fisika, Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh.
Semangat belajarnya tidak berhenti sampai di situ; saat ini beliau sedang menempuh pendidikan S2 di Universitas Malikussaleh (UNIMAL).Selain dikenal sebagai sosok yang tekun dalam pendidikan, Bu Lili juga memiliki bakat besar di bidang seni, terutama menyanyi dan menari.
Bakat tersebut sudah terlihat sejak masa sekolah dasar, terbukti dengan beberapa kali meraih juara lomba di tingkat kabupaten. Saat SMP dan SMA, prestasinya semakin bersinar, bahkan pernah menjadi siswi teladan yang diikutsertakan dalam studi banding.
Ketika menempuh bangku kuliah, Bu Lili semakin mendalami minat seninya dengan bergabung di Sanggar Cut Nyak Dhien Meuligoe Aceh. Dari sana, beliau berhasil meraih juara kedua dalam ajang Fashion Show Baju Adat Aceh tingkat Provinsi, sebuah pencapaian yang membanggakan.
Karier Ibu Lili sebagai pendidik dimulai pada tahun 1994 di SMA Negeri 1 Kuala Simpang. Dua tahun kemudian, beliau pindah mengajar ke SMA Negeri 1 Lhokseumawe, menggantikan seorang guru fisika senior.
Sejak saat itu, nama Bu Lili semakin dikenal berkat dedikasinya dalam mengajar. Selama bertahun-tahun, beliau berhasil meraih penghargaan sebagai Guru Teladan atau Guru Berprestasi.
Setelah mengabdi selama 17 tahun di sekolah tersebut, pada tahun 2013 Bu Lili mendapat tugas baru sebagai pengawas sekolah di Kacabdin Lhokseumawe. Menariknya, beliau sempat kembali mengawasi sekolah tempatnya dahulu mengajar, yaitu SMA Negeri 1 Lhokseumawe.
Perjalanan hidup Bu Lili tidak selalu mulus. Salah satu pengalaman pahit yang paling membekas adalah ketika beliau harus kehilangan anak pertamanya, Nailul Oktar, yang meninggal dunia pada usia 17 tahun.
Peristiwa ini terjadi saat beliau masih aktif mengajar dan menjadi cobaan berat dalam hidupnya. Meskipun demikian, Bu Lili berusaha tegar dan tetap mengabdikan diri di dunia pendidikan.
Di sisi lain, berbagai prestasi dan penghargaan menjadi titik terang dalam kehidupannya setelah menjadi pengawas. Beliau berhasil meraih peringkat pertama Pengawas Berprestasi di tingkat kabupaten/kota, serta peringkat kedua di tingkat Provinsi Aceh.
Saat ini, beliau juga dipercaya menjabat sebagai Ketua Musyawarah Kelompok Pengawas Sekolah (MKPS).
Dalam kehidupan pribadi, Bu Lili menikah pada tahun 1992 dan dikaruniai tiga orang anak, yaitu almarhum Nailul Oktar, Mola Andriska Dewi, dan Andara Salsabila.
Uniknya, anak-anak Bu Lili memilih cita-citanya sendiri tanpa paksaan dari orang tua, bahkan salah satunya memilih jalan untuk menjadi seorang dokter.Bu Lili adalah sosok yang patut menjadi teladan. Keteguhan hatinya dalam menghadapi cobaan, kesungguhannya dalam mengajar, serta komitmennya terhadap pendidikan dan seni menjadikannya pribadi yang mengagumkan.
Beliau selalu berpesan kepada anak-anak didiknya agar rajin membaca, karena membaca adalah gerbang menuju pengetahuan. Menurutnya, bukan hobi atau bakat yang harus diutamakan, melainkan akhlak yang baik dan keikhlasan dalam menjalani hidup.
Hobi dan bakat, bagi Bu Lili, akan berkembang dengan sendirinya ketika seseorang sudah memiliki dasar akhlak yang kuat.
Penulis adalah Siswa Kelas XII-1 Program Unggulan SMA Negeri 1 Lhokseumawe

0 Komentar