Oleh: Fathina As Syura
Bapak Safrizal, S.Pd., Gr., atau yang akrab disapa Pak Jordan, adalah sosok guru Pendidikan Jasmani yang dikenal disiplin, tegas, dan inspiratif di SMA Negeri 1 Lhokseumawe. Julukan “Pak Jordan” ia dapatkan semasa SMA karena kepiawaiannya bermain basket, yang mengingatkan teman-temannya pada legenda NBA, Michael Jordan.
Lahir di Lhokseumawe pada 25 Januari 1982, beliau merupakan putra dari pasangan Sarli dan Nurhasanah. Saat ini, beliau menetap di Desa Meuria Paloh, Kecamatan Muara Satu, dan telah membina keluarga bersama istri tercinta serta dikaruniai seorang anak laki-laki.
Perjalanan pendidikannya dimulai dari SD Negeri Uteun Bayi (1988–1994), SMP Negeri 4 Lhokseumawe (1995–1997), hingga SMA Negeri 3 Lhokseumawe (1998–2001) jurusan IPS. Masa SMA beliau dilalui di tengah situasi politik dan keamanan yang tidak stabil akibat konflik Aceh. Meskipun demikian, semangatnya untuk berolahraga tidak pernah surut. Beliau aktif mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di bidang basket dan voli, meski saat itu belum tergabung sebagai atlet resmi.
Menjadi mahasiswa di awal tahun 2000-an bukanlah hal yang mudah, terutama bagi Pak Jordan yang berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi sederhana. Ia harus membagi waktu antara kuliah dan bekerja sampingan. Namun, semangatnya terhadap dunia olahraga tak pernah padam. Di sela-sela kesibukannya, ia tetap berlatih dengan disiplin tinggi, bahkan kerap membawa peralatan olahraga ke kampus untuk digunakan pada waktu senggang.
Bakat dan konsistensinya mulai menarik perhatian para dosen dan pelatih. Ia dipercaya mewakili fakultas dalam berbagai kejuaraan daerah di cabang atletik, bola basket, dan voli. Semangat juang inilah yang akhirnya membawanya ke titik balik penting dalam hidupnya: pada tahun 2003, Pak Jordan dipanggil oleh pelatih daerah yang bekerja sama dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) untuk bergabung sebagai atlet binaan nasional cabang atletik. Sejak saat itu, beliau mengikuti berbagai kejuaraan nasional di bawah binaan Pusat Pendidikan dan Latihan Mahasiswa (PPLM) Kemenpora di berbagai kota, seperti Bandung, Palembang, Semarang, Jakarta, hingga Papua.
Setelah lulus dari FKIP Jurusan Penjaskesrek Universitas Syiah Kuala (USK) pada tahun 2007, Pak Jordan memulai karier mengajarnya sebagai guru honorer di SMA Negeri 3 Lhokseumawe. Ia juga sempat mengajar di SMP PIM, MAN 3 Rukoh Banda Aceh, serta menjadi asisten dosen di USK selama dua tahun. Pada tahun 2010, beliau diangkat sebagai PNS dan mulai mengabdi di SMA Negeri 1 Lhokseumawe. Di luar mengajar, beliau aktif sebagai wasit nasional, pelatih, dan Pembina OSIS.
Prestasinya pun tidak sedikit: juara KKP Aceh 2023, atlet nasional, pelatih nasional, wasit nasional, dan pembina OSIS yang sukses. Momen paling membanggakan baginya adalah ketika melihat anak didiknya berhasil, terutama saat para alumni kembali untuk mengucapkan terima kasih atas didikannya.
Moto hidup yang selalu ia pegang adalah, "Belajar dari kesalahan, hidup harus terus maju, dan tetap menikmati hidup." Prinsip utamanya adalah disiplin dan ikhlas, terutama dalam menjalankan tugas sebagai guru. Ia bersyukur atas perjuangan hidupnya: dari keluarga sederhana, kini mampu memiliki rumah, kendaraan, dan dihargai sebagai pendidik. Impian terbesarnya adalah dapat menunaikan ibadah haji dan umrah.
Harapan Pak Jordan untuk pendidikan Indonesia adalah agar pemerintah tidak terus-menerus mengganti kurikulum dan lebih peduli terhadap nasib guru, terutama guru honorer. Ia ingin dikenang sebagai guru yang bekerja dengan tulus, penuh dedikasi, serta peduli pada sekolah dan siswa-siswinya.
Pesan terakhir beliau untuk para siswa sangat jelas: “Belajarlah selama masih bisa. Tuntutlah ilmu selagi sehat. Raihlah cita-cita yang kalian impikan. Jangan pernah menyerah, apa pun keadaan dan kondisi kalian.
”
Sebagai seorang guru, Pak Jordan tidak hanya mengajarkan teknik olahraga, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kehidupan. Setiap pembelajarannya mengandung pesan moral, kedisiplinan, dan semangat pantang menyerah. Perjalanan hidupnya adalah bukti bahwa jalan menuju keberhasilan tidak selalu mudah, tetapi dapat diraih dengan tekad, kerja keras, dan keikhlasan.
Bapak Safrizal, S.Pd.,Gr. bukan hanya seorang guru olahraga. Beliau adalah simbol semangat, pengabdian, dan keteladanan sosok yang membuktikan bahwa cinta pada olahraga dan pendidikan mampu membentuk karakter, membangun masa depan, dan menginspirasi banyak orang.
Penulis adalah Siswa Kelas XII Unggul SMA Negeri 1 Lhokseumawe
0 Komentar