Foto: Dokumen Pribadi
Oleh: Tgk. Muhammad Al-Mustafa ME
Di Aceh, ulama bukan hanya dipandang sebagai guru agama. Mereka adalah penuntun masyarakat, penjaga tradisi, sekaligus penanda arah perubahan. Dalam lintasan sejarah itulah nama Tgk. H. Nuruzzahri Yahya, yang lebih akrab disapa Waled NU, menempati posisi yang istimewa.
Ia bukan sekadar pemimpin Dayah Ummul Ayman, melainkan seorang pembaru pendidikan Islam yang membuktikan bahwa tradisi salaf dapat berjalan seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan tuntutan zaman.
Lahir pada tahun 1951 di Desa Mideun Jok, Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen, Waled NU tumbuh dalam lingkungan keluarga yang menjadikan agama sebagai fondasi kehidupan. Ayahnya, Tgk. H. Yahya, dan ibunya,
Sa'diah, menanamkan kedisiplinan, kesederhanaan, serta kecintaan kepada ilmu sejak usia belia. Nilai-nilai itu kemudian menjadi bekal yang membentuk karakter seorang ulama yang kelak dikenal luas karena keluasan ilmu, ketegasan sikap, dan kepeduliannya terhadap masa depan generasi Aceh.
Perjalanan intelektualnya dimulai dari tradisi dayah yang telah berurat akar di Aceh. Ia menempuh pendidikan di Dayah MUDI Mesra Samalanga di bawah asuhan ulama besar Abon Aziz. Di sana ia ditempa bukan hanya untuk menguasai kitab-kitab turats, tetapi juga memahami makna keikhlasan, adab kepada guru, dan tanggung jawab moral seorang penuntut ilmu.
Setelah memperdalam ilmu agama di Aceh, ia melanjutkan pengembaraan ke dunia akademik melalui Universitas Hasyim Asy'ari dan Pesantren Darul Hadits Malang. Perjalanan itu memperluas cakrawala berpikirnya tanpa mengubah akar tradisi yang telah tertanam kuat dalam dirinya.
Pengalaman belajar di berbagai lingkungan pendidikan membuat Waled NU menyadari satu kenyataan penting. Dunia sedang berubah. Kemajuan teknologi, perkembangan ilmu pengetahuan, dan perubahan sosial menuntut lahirnya model pendidikan Islam yang tidak hanya menjaga kemurnian akidah, tetapi juga mampu membekali umat dengan keterampilan hidup.
Ia melihat bahwa banyak lulusan pesantren memiliki kedalaman ilmu agama, namun belum seluruhnya memperoleh kesempatan untuk berkiprah lebih luas dalam dunia profesional. Sebaliknya, pendidikan modern sering kali menghasilkan generasi yang cerdas secara akademik, tetapi miskin nilai-nilai spiritual.
Dari Kegelisahan Lahir sebuah Gagasan Besar
Pada tahun 1990, Waled NU mendirikan Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Ummul Ayman di Samalanga. Bagi dirinya, mendirikan dayah bukan sekadar membangun ruang belajar, tetapi membangun pusat peradaban. Dayah harus menjadi tempat lahirnya manusia yang utuh berilmu, berakhlak, mandiri, dan mampu memberi manfaat bagi masyarakat.
Kepercayaan masyarakat terhadap kepemimpinannya membuat Ummul Ayman berkembang pesat. Tidak berhenti di Samalanga, lembaga ini kemudian membuka cabang di Pidie Jaya.
Di sana Waled NU tidak hanya membangun kompleks pendidikan, tetapi juga menghadirkan rumah bagi anak-anak yatim dan korban konflik Aceh. Baginya, pendidikan adalah bentuk kasih sayang yang paling nyata. Anak-anak yang kehilangan keluarga tidak boleh kehilangan masa depan.
Yang membedakan Ummul Ayman dengan banyak lembaga lain adalah keberanian Waled NU merumuskan sistem pendidikan yang disebut Kurikulum Semi-Terpadu. Konsep ini lahir jauh sebelum gagasan integrasi ilmu menjadi pembicaraan luas di berbagai perguruan tinggi Islam.
Menurut Waled NU, ilmu agama tidak boleh dipertentangkan dengan ilmu umum. Keduanya berasal dari Allah dan sama-sama diperlukan untuk membangun kehidupan. Karena itu, di lingkungan Ummul Ayman para santri mempelajari fikih, tauhid, tasawuf, tafsir, dan hadis melalui kitab-kitab kuning, tetapi pada saat yang sama mereka juga memperoleh pendidikan formal, pendidikan vokasi, keterampilan organisasi, hingga penguasaan bidang-bidang profesional.
Ia sering menegaskan bahwa seorang santri tidak cukup hanya mampu berdakwah di mimbar. Santri juga harus mampu berdiri di tengah masyarakat sebagai guru, pengusaha, birokrat, petani modern, akademisi, maupun pemimpin yang membawa nilai-nilai Islam ke dalam setiap bidang kehidupan.
Pandangan inilah yang membuat Ummul Ayman melahirkan lulusan yang memiliki keseimbangan antara kecerdasan intelektual, ketangguhan spiritual, dan kemandirian ekonomi.
Meski membuka ruang yang luas bagi ilmu pengetahuan modern, Waled NU tidak pernah mengurangi porsi pendidikan agama. Justru penguasaan ilmu fardhu 'ain menjadi syarat utama yang harus dimiliki setiap santri.
Kitab-kitab klasik seperti Hasyiyah al-Bajuri, I'anatut Thalibin, hingga Kanzur Raghibin tetap menjadi bacaan pokok yang dipelajari secara bertahap melalui sistem sanad keilmuan yang kuat.
Bagi Waled NU, kitab kuning bukan sekadar warisan masa lalu. Ia adalah mata rantai ilmu yang menghubungkan generasi sekarang dengan para ulama terdahulu. Karena itu, siapa pun yang belajar di Ummul Ayman harus menghormati guru, menjaga adab, serta memahami bahwa ilmu hanya akan membawa keberkahan apabila dipelajari dengan kerendahan hati.
Selain dikenal sebagai pendidik, Waled NU juga merupakan seorang penulis. Kesibukannya memimpin lembaga pendidikan tidak menghalanginya melahirkan karya-karya yang hingga kini masih dipelajari para santri. Di antaranya adalah Sulam Nuhu, Sulam Saraf, Sulam Tauhid, Farduin, serta nazam Jauharah Tauhid yang ditulis dalam bahasa Aceh.
Penulisan kitab-kitab tersebut menunjukkan kepeduliannya agar ilmu agama dapat dipahami secara lebih mudah oleh masyarakat, khususnya generasi muda Aceh.
Penggunaan bahasa Aceh dalam sebagian karyanya menjadi bukti bahwa beliau tidak pernah memisahkan dakwah dari budaya lokal. Sebaliknya, bahasa daerah dijadikan jembatan untuk memperkuat pemahaman akidah dan kecintaan terhadap tradisi keilmuan Islam.
Namun, ukuran keberhasilan seorang ulama tidak hanya dilihat dari banyaknya kitab yang ditulis atau lembaga yang dibangun. Keberhasilan terbesar Waled NU tampak pada perubahan sosial yang lahir melalui pendidikan. Ribuan anak yatim, korban konflik, dan generasi muda dari berbagai daerah memperoleh kesempatan untuk belajar, tumbuh, dan membangun masa depan melalui Ummul Ayman.
Di tengah masyarakat Aceh pascakonflik dan pascatsunami, kehadiran Ummul Ayman menjadi simbol harapan. Dayah ini tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga memulihkan kepercayaan diri masyarakat bahwa pendidikan adalah jalan terbaik untuk bangkit dari luka sejarah.
Dari ruang-ruang kelas, balai pengajian, hingga asrama sederhana, lahirlah generasi yang memiliki kemampuan memimpin, berdakwah, dan berkarya di berbagai bidang kehidupan.
Hari ini, ketika banyak orang berbicara tentang integrasi ilmu, pendidikan karakter, atau penguatan sumber daya manusia, sesungguhnya Waled NU telah lebih dahulu mempraktikkannya melalui sistem pendidikan yang ia bangun lebih dari tiga dekade lalu.
Ia membuktikan bahwa modernisasi tidak harus menghapus identitas. Sebaliknya, kemajuan akan menjadi lebih kokoh apabila bertumpu pada nilai-nilai agama dan tradisi yang kuat.
Warisan Waled NU bukan hanya berdiri dalam bentuk bangunan pesantren yang megah. Warisan itu hidup dalam ribuan alumni, dalam kitab-kitab yang terus dipelajari, dalam para guru yang meneruskan sanad keilmuan, dan dalam masyarakat yang merasakan manfaat pendidikan yang beliau rintis.
Dari Samalanga, cahaya ilmu itu terus menyebar ke berbagai penjuru Aceh dan Nusantara, menjadi bukti bahwa seorang ulama dapat menjadi pendidik, pemikir, penulis, sekaligus arsitek peradaban.
Sejarah kelak akan mencatat Waled NU bukan hanya sebagai pimpinan Dayah Ummul Ayman. Ia adalah seorang pembangun peradaban yang meyakini bahwa kejayaan umat tidak lahir dari pertentangan antara agama dan ilmu pengetahuan, melainkan dari kemampuan memadukan keduanya dalam kehidupan yang nyata.
Dari keyakinan itulah ia mengabdikan seluruh hidupnya, meninggalkan jejak yang akan terus dikenang oleh generasi-generasi yang datang sesudahnya.
Penulis adalah Mahasiswa Doktoral Program Studi Islam UINSUNA dan Pengajar pada Dayah Ummu Aiman Samalanga

0 Komentar