Tgk. Muhammad Thaib, Ulama yang Menyatukan Cahaya Dayah dan Peradaban Modern sang Pendiri Pesantren Misbahul Ulum Paloh Lhokseumawe

  .

Foto: Dokumen Pribadi 

Oleh: Martunis, M.Hum., M.Pd.

Di sebuah kampung bernama Paloh, Kota Lhokseumawe, pada tahun 1922, lahirlah seorang anak yang kelak mengubah wajah pendidikan Islam di Aceh. 

Namanya Teungku Muhammad Thaib bin Mahmud. Ia bukan hanya seorang ulama yang menguasai kitab-kitab klasik, melainkan juga seorang pembaru pendidikan yang percaya bahwa agama dan ilmu pengetahuan tidak pernah saling bertentangan. Keduanya justru menjadi dua sayap yang mengangkat martabat umat menuju kemajuan.

Perjalanan hidupnya bermula dari keluarga yang memadukan nilai religius dan semangat kemandirian. Ayahnya, Mahmud, dikenal sebagai pengusaha kontraktor jalan raya yang sukses di wilayah Aceh Utara hingga Bireuen. Sementara ibunya, 

Nurjannah, berasal dari keluarga ulama yang dihormati. Dari rumah sederhana itulah Muhammad Thaib belajar bahwa keberhasilan tidak hanya diukur dari kekayaan, tetapi juga dari manfaat yang diberikan kepada masyarakat.

Sejak kecil, kehidupan agama telah menjadi napas kesehariannya. Ia tumbuh dalam lingkungan yang menjadikan ibadah sebagai kebiasaan, akhlak sebagai pegangan hidup, dan ilmu sebagai jalan menuju kemuliaan. Pendidikan keluarga inilah yang kemudian membentuk watak kepemimpinan sekaligus keteguhan prinsip yang melekat sepanjang hayatnya.

Meski pendidikan formalnya hanya sampai Sekolah Rakyat pada masa kolonial Belanda, semangat belajarnya tidak pernah berhenti. Atas dorongan sang ayah, 

Muhammad Thaib memilih menempuh jalan para ulama dengan belajar di Dayah Meunasah Kumbang di bawah bimbingan Tgk. Muhammad Hasballah. Setelah gurunya wafat, ia melanjutkan pengembaraan ilmu ke Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga, kemudian ke Dayah Nasrul Muta'allimin Ie Rheut Bungkaih, Muara Batu.

Di pesantren-pesantren itulah ia menghabiskan masa mudanya menelaah kitab-kitab turats. Fikih, tauhid, tafsir, hadis, ushul fikih, nahwu, sharaf, balaghah, mantik hingga tasawuf dipelajarinya dengan kesungguhan. Baginya, ilmu bukan sekadar hafalan, melainkan jalan pembentukan karakter dan kedewasaan berpikir.

Namun, perjalanan hidup Muhammad Thaib tidak berhenti di ruang-ruang pengajian. Ia juga merasakan kerasnya dunia perdagangan. Pengalaman berdagang ke Kota Medan mempertemukannya dengan banyak tokoh pendidikan Islam modern, terutama dari lingkungan Al Jam'iyatul Washliyah dan Universitas Al Washliyah (UNIVA). Pertemuan-pertemuan itulah yang memperluas cakrawala berpikirnya.

Di Medan ia menyaksikan bahwa pendidikan Islam dapat berkembang tanpa kehilangan identitasnya. Ia melihat bagaimana ilmu agama dapat berjalan seiring dengan ilmu pengetahuan umum, penguasaan bahasa asing, dan pembentukan karakter. Pengalaman itu meninggalkan jejak mendalam dalam pikirannya.

Sekembalinya ke Aceh, Lahirlah sebuah Gagasan Besar

Ia mendirikan Dayah/Pesantren Modern Mishbahul Ulum, sebuah lembaga pendidikan yang memadukan tradisi dayah Aceh dengan sistem pendidikan modern. 

Di tempat itu kitab kuning tetap menjadi ruh pembelajaran, sementara ilmu pengetahuan umum, bahasa Arab, bahasa Inggris, kedisiplinan, dan keterampilan hidup mendapat ruang yang sama pentingnya.

Muhammad Thaib percaya bahwa umat Islam tidak cukup hanya menjadi saleh secara spiritual, tetapi juga harus mampu menghadapi tantangan zaman dengan ilmu pengetahuan dan kecakapan hidup. Baginya, ilmu agama membentuk hati, sedangkan ilmu umum membangun peradaban. Keduanya tidak boleh dipisahkan.

Sebagai seorang ulama, beliau tetap teguh memegang mazhab Syafi'i dan akidah Asy'ariyah. Namun, keteguhan itu tidak membuatnya menutup diri terhadap perubahan. Ia justru menunjukkan bahwa modernisasi dapat berjalan tanpa mengorbankan tradisi.

Di bawah kepemimpinannya, Mishbahul Ulum berkembang menjadi salah satu pesantren yang dikenal mampu menjaga keseimbangan antara penguatan akhlak, penguasaan ilmu agama, serta kesiapan menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. 

Sistem pendidikan yang dibangunnya menjadikan guru bukan sekadar pengajar, melainkan teladan hidup. Santri tidak hanya diajarkan memahami isi kitab, tetapi juga diajak menghidupkan adab, disiplin, dan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.

Warisan terbesar Tgk. Muhammad Thaib bukanlah bangunan pesantren atau banyaknya santri yang pernah belajar kepadanya. Warisan terbesarnya adalah sebuah paradigma pendidikan yang memadukan iman dengan ilmu, tradisi dengan pembaruan, serta spiritualitas dengan kecakapan hidup.

Ia membuktikan bahwa seorang ulama tidak harus memilih antara mempertahankan tradisi atau menerima modernitas. Keduanya dapat berjalan berdampingan apabila dilandasi keikhlasan, keluasan ilmu, dan visi yang jauh ke depan.

Kini, nama Tgk. Muhammad Thaib tidak hanya dikenang sebagai pendiri Pesantren Modern Mishbahul Ulum. Ia dikenang sebagai seorang pembaru yang menyalakan cahaya ilmu dari Paloh untuk Aceh. 

Cahaya itu terus hidup melalui ribuan santri, para guru, dan setiap insan yang meyakini bahwa pendidikan adalah jalan paling mulia untuk membangun peradaban.

Dalam sejarah pendidikan Islam Aceh, beliau telah meninggalkan jejak yang tak mudah dihapus zaman. Dari ruang-ruang dayah yang sederhana, ia mengajarkan bahwa ilmu bukan sekadar pengetahuan, melainkan amanah yang harus diwariskan, dijaga, dan terus dikembangkan demi kemaslahatan umat.


Penulis adalah Mahasiswa  Doktoral Program Studi Islam UINSUNA  dan Direktrur Pesantren Modern Misbahul Ulum Paloh Lhokseumawe 

  










Berita Terkait

Posting Komentar

0 Komentar