Sumber: Dokumen Pribadi
Oleh: Afifah Nailatul Izzah Siregar
Pagi
pertama di Paya Bakong, 1998. Hari itu udara terasa berat, bukan hanya karena
kelembapan udara, tapi juga karena ketegangan yang tidak terlihat. Ibu Nurul
Fitri, ia adalah seorang guru yang datang dari kota untuk memperjuangkan dunia
pendidikan. Ia melangkah perlahan menuju sebuah sekolah dengan bangunan kayu
tua yang berdiam diantara semak belukar. Ibu Nurul Fitri menyambut pagi sambil
menyapu lantai dan membersihkan meja serta kursi yang telah diselimuti oleh
debu. Jendela kelas itu tak lagi utuh dan papan tulisnya telah dipenuhi oleh
retakan.
Wanita Senja Memeluk Rindu
Keheningan
di ruang kelas itu membuatnya bertanya-tanya dalam hati, apakah masih ada
anak-anak yang akan datang hari ini. Ia menanti suara langkah kaki kecil yang
biasa memenuhi lorong sekolah, namun yang terdengar hanyalah keheningan yang
seolah semakin menekan dadanya. Setelah setengah jam menunggu, muncul sebuah
bayangan kecil di ambang pintu, ternyata itu adalah seorang gadis yang sedang melangkah
perlahan memasuki ruang kelas dengan penuh hati-hati dan sambil memegang erat
pensil patah yang dimilikinya.
“I-ini
ibu guru?” Bisiknya sambil memastikan bahwa ini guru yang mengajar di kelasnya
pada hari itu.
“Iya
nak, sebelumnya perkenalkan nama ibu Nurul Fitri, panggil saja Ibu Fitri. Boleh
ibu tahu nama kamu nak?” Ujarnya.
“Nama
saya Sari bu guru.” Balasnya sambil tetap menggenggam pensil patah yang
dimilikinya.
Ternyata Sari merupakan satu-satunya murid yang hadir pada hari itu. Lalu pembelajaran dimulai di tengah kesunyian yang mencekam. Ibu Fitri mengawali pembelajaran dengan menceritakan arti dari keberanian, di pertengahan cerita itu suara “Duar!” terdengar dari kejauhan. Saat suara tembakan itu pertama kali terdengar dari luar sekolah Seketika tubuh bu Fitri menegang dan ketakutan, di sisi lain, Sari tersentak dan cepat-cepat untuk menyembunyikan pensil itu di balik punggungnya. Wajah sari berubah pucat, karena trauma yang pernah dimiliki sebelumnya.
Pada saat itu sekolah bukanlah tempat yang aman untuk berlindung, namun Ibu Fitri tetap harus berusaha mengendalikan perasaan takut Sari dan juga dirinya sendiri. Walaupun hatinya diliputi oleh rasa takut, bu Fitri tetap berusaha mengalihkan perasaan Sari dengan mengajaknya untuk belajar dibawah pohon manga besar yang ada diluar. Mereka menggambar awan, lalu menghitung jumlah semut yang berjalan menuju batang pohon, dan yang lebih penting senyuman manis Sari muncul dari bibirnya.
Setelah Ayah Menikah Lagi
Dari situ bu Fitri sadar bahwa belajar juga bisa dilakukan secara fleksibel yang artinya tidak menjadikan sesuatu sebagai alasan untuk tidak belajar, Karena ilmu itu berawal dari hal yang paling kecil. Lewat pengamatan sederhana Sari bisa lebih mengerti bagaimana cara menghitung walaupun hanya menggunakan semut sebagai figur mereka dalam menghitung.
Singkat cerita, bu Fitri, guru muda yang penuh tekad, mengantar Sari pulang ke rumahnya. Sari, gadis kecil itu berjalan sambil memegang tangan bu Fitri erat-erat, mata kecilnya melirik ke arah hutan lebat di pinggir jalan, tempat suara ledakan sesekali terdengar.
"Bu,
kapan perang ini berakhir?" tanya Sari dengan suara gemetar, sambil
menarik napas dalam-dalam.
Bu
Fitri tersenyum tipis, meski hatinya berat. "Kita harus tetap kuat, Sari.
Pendidikan adalah senjata kita untuk masa depan yang lebih baik. Kamu sudah
hebat sekali hari ini." Sesampainya di rumah Sari, bu Fitri memastikan
gadis itu masuk dengan selamat, lalu berjalan pulang sendirian. Jalanan desa
yang biasanya ramai kini sepi, hanya ada angin dingin yang membawa bau asap
dari arah barat. Tiba-tiba, ia melihat seorang pria tua berdiri di depan
rumahnya, memandang ke arah langit yang mendung.Itu adalah Pak RT setempat,
pria berusia 60-an tahun dengan wajah keriput penuh bekas luka perang lama.
"Assalamualaikum,
Pak," sapa bu Fitri sambil mendekat, hatinya berdegup kencang karena suara
tembakan yang semakin dekat.
"Waalaikumsalam,
Ibu. Siapa Anda? Baru di desa ini?" Tanya Pak RT setelah menoleh.
"Saya
bu Fitri, guru baru di sekolah desa ini. Saya akan tinggal di sini beberapa
bulan untuk mengajar anak-anak." Bu Fitri memperkenalkan diri dengan
tenang, meski tangannya sedikit gemetar.
"Ibu,
pendidikan di sini sulit. Kami hanya ingin anak-anak makan dan pergi dengan
selamat. Belajar di tengah perang seperti ini... hampir mustahil. Mereka takut,
dan kami tak punya cukup tempat untuk hidup." Balasnya Pak RT menggeleng
pelan, ekspresinya serius.
Mendengar
itu, bu Fitri merasa tertantang dan tekadnya semakin kuat. Ia tidak akan menyerah.
"Pak, saya paham. Tapi pendidikan adalah harapan mereka. Saya akan buat
mereka merasa aman dan semangat."
Pak
RT hanya mengangguk, lalu pergi meninggalkan bu Fitri dengan pikiran penuh
rencana. Malam itu, bu Fitri menyiapkan misi pribadinya ia mengumpulkan
buku-buku sisa, alat tulis dan beberapa tas kecil di tengah gelapnya malam dan
hanya ditemani oleh satu lentera kecil, sebagai apresiasi bagi anak-anak yang
berani datang. Keesokan paginya Ia juga membersihkan ruang kelas yang bolong
akibat tembakan musuh, menambalnya dengan kayu dan kain yang ia temukan.
Melalui Sari, ia menyampaikan pesan "Ajak teman-temanmu datang ke sekolah
ya. Kita belajar sambil bermain, biar takutnya hilang."
Hari
berikutnya, saat bu Fitri menunggu di sekolah, suara tembakan dari kejauhan
membuatnya cemas. Jarum jam menunjukkan pukul 9 pagi biasanya Sari datang pukul
7.30.
"Mungkin
mereka takut," gumam bu Fitri.
Ia
mulai berkemas. Tapi tiba-tiba, pintu terbuka. Sari datang, tidak sendirian,
melainkan bersama enam teman lainnya. bu Fitri langsung bahagia, hingga air
matanya hampir menetes.
"Kalian
hebat sekali!" Ucap bu Fitri dengan raut wajah bahagia.
Seiring
hari, pengaruh bu Fitri menyebar. Anak-anak di desa itu semakin banyak yang
datang, belajar sambil bermain di tengah mencekamnya perang. Pak RT disana,
yang sering lewat sekolah, melihat perubahan itu dari luar pintu. Bangunan
sekolah satu kelas itu kini ramai, penuh tawa anak-anak.
"Terima
kasih, bu Fitri. Anda membawa perubahan. Anda mencerdaskan generasi penerus
bangsa. Kalian hebat sekali." Ucap Pak RT kepada bu Fitri dan anak-anak
yang ada di dalam kelas.
Bu Fitri tersenyum, tapi hatinya tahu perang belum berakhir. Sehingga Ia terus semangat mengajar, untuk menjadi cahaya di tengah kegelapan bagi generasi yang cemerlang.
***
Di
rumahnya yang sederhana, Bu Fitri duduk di samping Naila, remaja 15 tahun yang
mendengarkan dengan mata lebar. Naila adalah anaknya, yang selalu penasaran
dengan masa lalu ibunya. Bu Fitri baru saja menceritakan kisah pengajarannya di
desa perang itu, dan kini ia ingin menyampaikan akhir pesan pribadi.
"Wow,
Bun, keren banget bisa mengajar di saat perang begitu. Tapi... apa yang terjadi
setelahnya? Maksudku, akhir kisahnya gimana?" Tanya Naila penasaran.
"Ah,
akhirnya, Naila, perang itu berakhir setelah beberapa bulan. Tapi yang penting,
anak-anak itu seperti Sari dan teman-temannya mereka tumbuh jadi lebih kuat.
Mereka belajar bahwa pendidikan bukan cuma buku, tapi juga keberanian untuk
terus maju meski takut. Pesan pribadiku buat kamu. Ingatlah nak, jangan pernah
biarkan ketakutan menghentikan mimpi. Seperti aku dulu, aku pilih bertahan dan
menginspirasi orang lain. Kamu juga bisa, Naila. Jadilah cahaya di tengah
badai, seperti yang aku lakukan." Lanjut bu Fitri menceritakan layaknya
seorang ibunda terhadap anaknya.
"Iya,
Bun. Aku mau jadi seperti kamu. Terima kasih ya atas cerita menarik hari ini."
Balasnya dengan raut wajah yang penuh semangat.
Bu
Fitri memeluk anaknya erat, hatinya penuh haru. karena Ia tahu, kisahnya bukan
hanya sekedar masa lalu yang penuh trauma, tetapi juga menjadi pelajaran yang abadi.

0 Komentar