Foto: Dookumen Pribadi
Oleh: Asha As Syawali
Benarkah kolom komentar di platform TikTok dapat mencerminkan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia? Di era digital saat ini, TikTok tidak hanya berfungsi sebagai media hiburan, tetapi juga telah berkembang menjadi ruang publik tempat masyarakat menyampaikan opini, emosi, dan penilaian secara terbuka. Sayangnya, kolom komentar kerap diisi oleh penggunaan bahasa yang kurang tepat, hujatan, ujaran yang saling meniru tanpa pemahaman mendalam, serta penyebaran informasi yang belum tentu kebenarannya.
Komentar di platform TikTok sangat mengikuti topik yang sedang dibincangkan oleh khalayak ramai. Melalui kolom komentar tersebut, masyarakat menyampaikan berbagai hal berdasarkan pendapat masing-masing. Fenomena komentar teratas di platform ini juga memiliki pengaruh besar dalam membentuk opini atau argumen publik, karena banyak pengguna cenderung mengikuti arus komentar populer tanpa melakukan verifikasi langsung terhadap topik yang sedang dibahas.
Seperti halnya pada topik yang sedang ramai diperbincangkan di TikTok, wafatnya seorang influencer secara mendadak di kediamannya menjadi sorotan publik, khususnya terkait kronologi kejadian dan dugaan penyebab kematiannya. Namun, berbanding terbalik dengan fakta yang ada, kolom komentar TikTok justru memunculkan berbagai spekulasi dari publik. Sejumlah oknum yang kerap disebut sebagai netizen menduga-duga berbagai kemungkinan, bahkan menyampaikan informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya.
Meskipun platform TikTok menjadi wadah bagi publik untuk mencurahkan ide serta sebagai sarana hiburan, seharusnya para netizen yang berkomentar di kolom komentar dapat bersikap bijak dalam menyampaikan pendapat pada unggahan orang lain. Adapun tujuan dari penulisan ini adalah untuk menyuarakan pandangan penulis kepada publik bahwa komentar yang disampaikan di kolom komentar mencerminkan pola pikir masyarakat, yang pada akhirnya menggambarkan kualitas sumber daya manusia Indonesia di era digital saat ini.
Etika Berkomunikasi dan Dampaknya terhadap Kesehatan Mental
Unggahan di media sosial sering kali bersifat personal karena berkaitan dengan pengalaman, perasaan, maupun pandangan hidup seseorang. Oleh karena itu, kolom komentar seharusnya menjadi ruang yang aman untuk berinteraksi secara sehat. Namun, komentar yang menghina, menyudutkan, atau menghakimi sering kali muncul tanpa mempertimbangkan perasaan pemilik unggahan. Sikap seperti ini menunjukkan kurangnya empati serta etika dalam berkomunikasi di ruang digital.
Komentar yang tidak bijak tersebut dapat menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan mental pemilik unggahan. Tekanan dari komentar buruk dapat menyebabkan stres, menurunkan rasa percaya diri, dan membuat seseorang merasa tidak dihargai. Jika dihiraukan, hal ini dapat memengaruhi kondisi psikologis secara berkelanjutan. Oleh karena itu, netizen perlu lebih bijak dalam menyampaikan pendapat agar media sosial tetap menjadi tempat yang positif dan saling menghargai.
Bersikap bijak dalam berkomentar dapat mencegah terjadinya konflik di media sosial. Banyak perdebatan dan pertengkaran di dunia maya bermula dari komentar yang disampaikan tanpa mempertimbangkan perasaan orang lain. Komentar yang provokatif atau bernada kasar sering kali memicu emosi dan berujung pada saling serang antar pengguna. Dengan menyampaikan pendapat secara santun, netizen dapat menjaga suasana diskusi tetap kondusif dan menghindari perpecahan yang tidak perlu.
Komentar yang bijak menunjukkan tingkat literasi digital yang baik. Literasi digital tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga mencakup etika dalam berinteraksi di ruang digital. Netizen yang memahami batasan dalam berkomentar akan lebih berhati-hati dalam menyaring informasi serta menyampaikan pendapat berdasarkan fakta, bukan emosi. Hal ini penting agar media sosial tidak menjadi tempat penyebaran ujaran kebencian dan informasi yang menyesatkan.
Sikap bijak dalam berkomentar dapat memberikan dampak positif bagi pembaca lainnya. Kolom komentar sering dibaca oleh banyak orang, sehingga komentar yang membangun dapat menjadi contoh dan inspirasi bagi pengguna lain. Sebaliknya, komentar negatif dapat memengaruhi cara berpikir pembaca dan menciptakan suasana yang tidak sehat. Oleh karena itu, setiap komentar yang dituliskan seharusnya mampu memberikan nilai positif bagi lingkungan media sosial secara keseluruhan.
Membangun Karakter Masyarakat di Era Digital
Kebiasaan berkomentar secara bijak dapat membentuk karakter masyarakat yang lebih beradab. Media sosial merupakan cerminan perilaku penggunanya. Apabila netizen terbiasa menggunakan bahasa yang sopan dan menghargai perbedaan pendapat, maka nilai-nilai tersebut juga akan terbawa dalam kehidupan bermasyarakat di dunia nyata. Dengan demikian, sikap bijak dalam menyampaikan pendapat di media sosial berperan penting dalam membangun budaya komunikasi yang sehat dan bertanggung jawab.
Baca Juga
Apabila permasalahan kurangnya sikap bijak dalam kolom komentar media sosial, khususnya di platform TikTok, tidak segera ditangani, maka dampak negatifnya akan semakin meluas. Media sosial berpotensi menjadi ruang yang sarat dengan ujaran kebencian, spekulasi tidak berdasar, serta konflik antarindividu. Kondisi ini tidak hanya merugikan pemilik unggahan, tetapi juga menciptakan iklim digital yang tidak sehat dan jauh dari nilai edukatif.
Lebih lanjut, kebiasaan berkomentar tanpa etika dapat membentuk pola pikir masyarakat yang permisif terhadap perilaku negatif. Jika dibiarkan, hal tersebut dapat menurunkan kualitas literasi digital dan mencerminkan kemunduran kualitas sumber daya manusia Indonesia di era digital. Generasi muda yang aktif mengonsumsi media sosial berisiko menormalisasi perilaku komunikasi yang kurang beradab.
Penutup
Sebagai simpulan, fenomena kolom komentar di TikTok memang dapat menjadi tolok ukur kualitas sumber daya manusia Indonesia saat ini. Setiap ketikan yang kita bagikan mencerminkan tingkat empati, kematangan emosional, dan kedalaman literasi digital kita sebagai bangsa. Oleh karena itu, perubahan ke arah yang lebih positif harus dimulai dari kesadaran diri setiap pengguna media sosial untuk berpikir sebelum mengetik. Dengan menjaga etika dan mengutamakan fakta di ruang digital, kita tidak hanya menciptakan lingkungan internet yang lebih sehat, tetapi juga membuktikan bahwa SDM Indonesia adalah pribadi yang beradab dan kompeten di tengah kemajuan teknologi global.
Penulis adalah Siswa Kelas XII.1 Unggul SMA Negeri 1 Lhokseumawe
0 Komentar