Oleh: Mukhlis, S.Pd., M.Pd.
Sebuah letupan yang meledak-ledak, seperti udara dalam balon helium, ia selalu mencari ruang-ruang hampa. Itulah esensi dari perasaan yang bergejolak, gundah gulana, atau bahkan kemarahan yang mendalam. Perasaan ngedumel terhadap sesuatu kehidupan yang bertetangan dengan jiwa dapat diumbar dalam bait-bait indah, melahirkan puisi-puisi yang sarat makna.
Namun, pertanyaan mendasar yang muncul adalah: seberapa dewasakah seseorang dalam mengekspresikan kekecewaan dalam sebuah puisi? Jawaban atas pertanyaan ini tidaklah rumit; ia sesederhana pikiran seseorang dalam mengelola konflik batin yang dialami.
Kedewasaan seorang penyair akan tampak dari karya yang dihasilkan, dari bagaimana ia memilih kata, menyusun rima, dan merangkai metafora untuk menyampaikan gejolak batinnya tanpa terjebak dalam emosi mentah yang merusak. Puisi yang dewasa bukan hanya tentang luapan emosi, tetapi juga refleksi, pemaknaan, dan bahkan kritik sosial yang disampaikan dengan estetika bahasa yang tinggi.
Para kritikus sastra, dalam perannya yang vital, seharusnya mengulas secara detail setiap puisi yang diulik, baik melalui esai atau artikel. Analisis mendalam terhadap struktur, tema, gaya, dan filosofi yang terkandung dalam puisi akan sangat membantu pembaca memahami karya tersebut secara komprehensif.
Ini jauh lebih konstruktif dibandingkan sekadar mengayun pentungan pada setiap kolom komentar, melontarkan kritik tanpa dasar atau sekadar melampiaskan ketidaksetujuan personal.
Pendekatan yang ilmiah dan analitis akan meningkatkan kualitas diskursus sastra dan memberikan ruang bagi pertumbuhan serta perkembangan para penyair. Kritik yang membangun, yang didasari oleh pemahaman mendalam, adalah pupuk bagi kreativitas, bukan racun yang mematikan semangat berkarya. Oleh karena itu, tanggung jawab seorang kritikus tidak hanya menilai, tetapi juga mendidik dan mencerahkan.
Membangun Diskursus Ilmiah di Ranah Maya
Hal yang sama juga berlaku pada setiap esai yang mengupas tentang sastra, pendidikan, dan budaya. Esai-esai semacam ini seharusnya ditulis dengan pendekatan perbandingan terhadap permasalahan yang sama, baik yang menerima maupun menolak suatu pandangan atau teori. Dengan demikian, fakultas dunia maya, yang kini menjadi arena utama bagi pertukaran ide dan informasi, dapat tampak lebih ilmiah dan berkelas.
Diskusi yang disajikan bukan sekadar opini pribadi, melainkan hasil dari telaah kritis terhadap berbagai perspektif. Ini akan memungkinkan pembaca untuk memperoleh pemahaman yang lebih holistik dan mendalam mengenai suatu isu, serta mendorong mereka untuk berpikir kritis dan membentuk pandangan mereka sendiri berdasarkan data dan argumen yang valid.
Bukan berarti tidak boleh bercanda ria di kolom komentar atau ruang-ruang diskusi virtual lainnya. Interaksi yang santai dan humoris seringkali dapat mencairkan suasana dan mempererat komunitas. Namun, agar pembelajaran berlangsung sistematis dan terstruktur, perlu ada pemisahan yang jelas antara ruang diskusi informal dan ruang diskusi yang membutuhkan kekritisan dan argumentasi ilmiah.
Ketika membahas isu-isu serius dalam sastra, pendidikan, atau budaya, fokus haruslah pada substansi dan kualitas argumen, bukan pada popularitas atau sensasi sesaat. Dengan membangun etos diskusi yang lebih matang, kita dapat mengubah lanskap dunia maya menjadi sebuah platform yang memberdayakan, tempat ide-ide cemerlang dapat tumbuh subur dan pengetahuan dapat disebarkan secara efektif.
Refleksi untuk Karakter Bangsa
Semoga ke depan, interaksi di dunia maya, terutama dalam konteks kritik dan apresiasi karya, dapat menjadi lebih baik dan mencerminkan karakter yang baik bagi setiap tanggapan, saran, komentar, dan kritikan terhadap sebuah karya. Kedewasaan dalam berekspresi, baik sebagai seniman maupun sebagai penikmat dan kritikus, adalah cermin dari kematangan sebuah bangsa.
Mari kita ciptakan ruang-ruang diskusi yang dipenuhi dengan rasa hormat, analisis yang tajam, dan niat baik untuk saling membangun. Dengan demikian, kita tidak hanya meningkatkan kualitas karya sastra dan diskursus intelektual, tetapi juga menumbuhkan karakter bangsa yang lebih berbudaya, berintegritas, dan mencerahkan. Salam.
Penulis adalah Mahasiswa Doktoral Program Studi Islam dan Guru SMA Negeri 1Lhokseumawe
0 Komentar