Puisi: Para Bedebah di Kota Serigala

 

Foto: Dokumen Pribadi

Oleh: Muklis Puna

Matahari membusur, bukan  berkisah,
Melainkan menyeringai, di antara reruntuhan asa.
Derita mengimpit, sesak di bilik waktu yang sempit,
Batu-batu mengganjal perut, menghardik lapar 
Dan para budak, kini menjarah tuannya sendiri,
Di balik tirai malam yang renyah, mereka tertawa

Baca Juga

Di sana... 
Di  kota-kota, peradaban melaju gila,
Menyeret bocah lugu, 
Memangsa para perempuan pemikul beban.
Toko-toko tumbuh subur, di atas tanah  rapuh,
Gundik menari, di bawah temaram lampu jalanan,
Menciumi waktu hibah, dari peradaban yang merana.

Zaman kian edan, arwah manusia memuja dunia,
Menggadaikan jiwa, demi sebongkah fatamorgana.

Suara-suara bergegas, menghasut  dalam genggaman 
Merayu siapa saja, lalu berselingkuh dalam dusta.
Bocah-bocah berselancar  tanpa batas,
Agama tercabut dari kalbu, logika berlagak Tuhan,
Menari-nari dalam jiwa yang hampa.
Dunia menciut, waktu dilipat dalam jarak 

Baca Juga

Kasih sayang hanya bayangan, fatamorgana di gurun hati,
Moral bersimpuh, di naskah-naskah yang usang.
Hukum rimba ditarik ke kota, memenggal siapa saja,
Kejujuran bagai hujan Bulan Juli, langka dan tak terduga.

Peradaban tak beradab, mencekik setiap jiwa,
Membunuh segala budaya, yang menghalangi laju nafsu.
Menghadang setiap jejak, mencari arah yang hilang,
Bersekutu mantra dan sesajen, teknologi dan logika buta.

Inilah zaman...
Zaman yang telanjang,
Di mana kemanusiaan jadi bangkai, 
Di pesta pora serigala.


Lhokseumawe, 11 November 2025





Berita Terkait

Posting Komentar

0 Komentar