Foto: Dokumen Pribadi
Oleh : Cut Syifa Amelia
Lotus terbangun di suatu pagi, saat itu gerimis baru saja mengguyur kota. Ketika sedang menatap jendela, dentingan dua buah besi mengalihkan perhatiannya.
Ada seorang pelanggan yang masuk. Ia cepat-cepat melayani pelanggan itu, lalu dihidangkannya satu potong roti cokelat. Hari ini adalah hari pertama ia membuka toko peninggalan neneknya. Ia mengamati dan menunggu pelanggan mencicipi roti buatannya.
Perjalanan Pulih Inaya
Saat pelanggan selesai dan hendak pergi, ia antusias bertanya bagaimana rasa roti buatannya itu. Sampai akhirnya keluar jawaban tak terduga dari sang pelanggan, “Rotimu kemanisan, berbeda dengan yang dulu saya pernah makan.”
Ia sangat sedih, tapi tetap memutuskan untuk membuka toko. Mungkin selera pelanggan tua itu kuno, pikirnya. Beberapa menit kemudian, pelanggan mulai bermunculan. Ia menghidangkan rotinya seperti pertama kali.
Dan ketika pelanggan hendak pergi, ia melakukan hal yang sama seperti pelanggan pertama tadi. Ketika hendak melangkah untuk bertanya, hatinya berdebar cukup kuat sampai akhirnya keluar lagi kata-kata yang cukup membuat ia sakit hati.
“Mungkin pelanggan tua tadi itu benar, rotiku tidak seenak buatan nenek,” lolongnya dalam hati. Tetapi ia tidak menyerah sampai di situ, ia tetap berusaha membuat, mengadoni adonan dengan penuh kesabaran, membuat fla, dan memanggang roti.
Ketika Suara Menyatukan Kita
Dua hari kemudian ia membuka toko kembali. Hari ini pelanggan yang datang kurang dari kemarin, tetapi hal itu tidak membuatnya menyerah dan bersedih. Ia tetap giat dan bersemangat agar bisa menyediakan roti setiap harinya. Itulah tekad Lotus di hari Selasa yang terik ini.
Namun, lamunannya terbuyarkan saat pelanggan mengangkat tangan ingin memesan. Ia tersenyum samar dan dengan gesit menyiapkan roti yang baru saja dipanggang. Lotus mengantar dengan hati-hati kepada pelanggan. Namun, saat berbalik ke belakang, ia menoleh kepada wanita yang sedang mencaci maki roti buatannya.
Wanita itu memakinya dengan keras, suara keras nan lantang itu menjadi objek perhatian semua orang yang ada di toko kala itu. Perasaan kecewa dan gemetar hadir.
Saat itu tak dapat ia pungkiri perasaannya sangat sedih, badannya kaku dan matanya mulai berair saat pelanggan lain mulai meneriaki, dan terlihat beberapa orang mulai keluar dari toko. Ia berusaha tegar dan sabar di kala itu.
Mau tak mau ia harus menutup toko agar tidak terjadi beragam kejadian buruk yang mungkin. Setelah menutup pintu toko, ia menundukkan kepalanya lalu tanpa ia sadari butiran hangat mulai mengalir di pipinya. Ia terisak, sesak yang selama ini disimpan runtuh dalam diam.
Sudah seminggu sejak kejadian itu, tetapi Lotus masih belum berani membuka toko. Ia berdiam diri di sudut ruangan tempat ia biasa mengadon adonan. Seribu bayangan terlintas dalam benaknya, “Apa yang harus ku ubah?”
Tak ingin lama-lama bersedih, ia pun pergi dari dapur ke kamar, sebuah kamar sederhana dengan dinding krem dan sebuah ranjang kecil dengan sprei bunga tampak rapi di pojok. Ia merebahkan dirinya.
Saat matanya hampir tertutup rapat, sahabatnya—Ciko, mengetuk pintu toko dan memanggil-manggil namanya. Terpaksa Lotus bangkit dari ranjangnya.
Saat ia membuka pintu, Ciko melihatnya cemas serta bertanya, “Mengapa kamu tidak buka toko belakangan ini?” Mata Lotus mulai berembun lalu menceritakan segala hal yang terjadi pada Ciko. Setelah puas bercerita,
Ciko memeluk Lotus dengan dekapan erat yang hangat. Ia mencoba menguatkan sahabatnya. Disela isakannya, Lotus berkata, “Andai aku tidak membuka toko dikala itu.”
Ciko mengurai pelukan dan menatap dalam Lotus, lalu berkata dengan tegas, “Hei Lotus, kamu harus ingat baik-baik, kata orang bijak dahulu, kamu akan lebih menyesal bukan karena kamu melakukan sesuatu dan ternyata itu gagal atau keliru.
Tetapi kamu akan lebih menyesal jika kamu tidak pernah mencobanya.” Lotus menatap Ciko hangat. Semangat Lotus mulai bangkit ketika Ciko mengatakan hal itu. Ia berjanji besok ia akan mencoba dengan resep baru, rasa baru, dan versi baru dari toko kuenya. Ia akan membuat roti yang nyaman dan hangat.
Cerpen: Semesta di Ujung Lorong
Lotus bangun pada pagi-pagi sekali. Ia menyaksikan embun di atas daun lili tepat di halaman depan toko. Suasana hening pagi menyelimuti, aroma tepung masih samar dan cahaya matahari lembut menyinari rak roti.
Kali ini Lotus membuat adonan dengan sepenuh hati, dengan rasa damai, ikhlas, dan tidak terburu-buru. Ia mulai menguleni adonan dengan penuh kesabaran, mencetak, dan memanggang roti.
Setiap detik gerakan penuh perhatian, adonannya diuleni perlahan, oven dibuka dengan suhu tenang, dan aroma hangat mulai mengembang menandakan roti sudah siap disajikan. Ia tidak lagi meniru resep milik neneknya, ia membuat roti dengan versi yang dia inginkan, roti yang nyaman dan hangat.
Tak lama pelanggan datang. Pelanggan pertama masuk mungkin seseorang yang sedang stres atau sedih. Pelanggan itu memilih roti yang tampak sederhana, tidak mencolok tapi penuh kehangatan.
Saat ia mencicipi roti itu, si pelanggan menyadari betapa roti itu memberi efek menenangkan. Ia terbenam dalam rasa hangat dan tenang “serenity” yang seolah menutupi kegelisahan hatinya. Interaksi sederhana dengan si baker—senyuman, kata hangat menjadi titik diam yang menyentuh bagi pelanggan.
Malam hari menjelang, Lotus duduk di kursi belakang oven. Ia mengingat senyum pelanggan, aroma roti, dan ketenangan yang terpancar dari setiap potongan roti yang dihasilkan.
Baginya, “potongan” roti bukan sekadar makanan, tapi suatu hal untuk membawa kedamaian dalam kehidupan orang lain.
Di hari esok dan esoknya lagi, toko rpoti Lotus mulai ramai, dan semakin ramai, seperti pada pagi ini, roti baru saja dikeluarkan dari oven, wangi mentega menjalar pada seluruh ruangan dan harapan akan ketenangan yang akan tiba—in every slice ditawarkan bagi siapapun yang datang.
Penulis merupakan siswi kelas XI.1 Program Unggul SMA Negeri 1 Kota Lhokseumawe.

0 Komentar