Foto: Dokumen Pribadi
Karya: Barda Shafia
Hah! “Bintang” di pasir Pidie? Jangan terkejut! Saya tau yang ada dibayangan kalian, sulit dipercaya pastinya. Memang, mustahil melihat bintang-bintang di langit malam dari pesisir pantai. Bayangan kalian mungkin tertuju pada keindahan langit malam yang bertaburan bintang, sesuatu yang kontras dengan pasir pantai Pidie yang diterangi cahaya bulan dan lampu-lampu nelayan.
Namun, “bintang” yang kita bicarakan di sini bukanlah bintang-bintang langit, melainkan sesuatu yang jauh lebih dekat, sesuatu yang memancarkan cahaya talenta dan keindahan budaya yang tak kalah memukau dari gerak para penari handal dari Pidie.
Mereka adalah “bintang-bintang” yang menghiasi pesisir Pidie, menampilkan kelincahan dan kelenturan tubuh yang luar biasa dalam setiap gerakan tari. Bukan sekedar gerakan tubuh, tapi sebuah manifestasi budaya Aceh yang kaya dan memikat. Mereka membawa pesona Aceh ke berbagai panggung, dari acara-acara lokal yang sederhana hingga kompetisi tari nasional dan internasional yang bergengsi.
Keberhasilan mereka di kancah internasional menjadi bukti nyata betapa kayanya warisan budaya Aceh, dan betapa berbakatnya para seniman muda yang terus melestarikannya. Mereka adalah duta budaya Aceh yang tak kenal lelah, membawa keindahan dan keunikan budaya daerahnya ke mata dunia.Pembukaan Tarian Troen U Laot di pantai Kabupaten Pidie (Sumber: Jurnal Ike Wilda Yusni)
Pidie merupakan kabupaten yang terletak di Provinsi Aceh, memiliki sejarah panjang dan kaya akan sagala hal. Pidie memiliki keragaman budaya dan tradisi yang sangat kaya dan sangat luar biasa. Pidie juga sebagai provinsi yang kaya akan seni dan budaya, memiliki beragam tarian tradisional yang unik dan menarik. Tari Troen U Laot hanyalah salah satu dari sekian banyak tarian tradisional Aceh yang patut dilestarikan.
Dari Lintasan Atletik ke Ruang Kelas
Ketika saya ke daerah Pidie, saya bisa melihat betapa kentalnya budaya Aceh yang masih terjaga hingga saat ini, menjadi tempat yang ideal untuk mempelajari dan melestarikan warisan budaya tersebut. Saya sering mendengar dari bunda saya yang asli orang Pidie, bunda saya (Ibu Herawati seorang ibu rumah tangga) menceritakan betapa khasnya Kabupaten Pidie dengan kebudayaan Aceh, terutama tarian-tarian tradisional yang sering ditampilkan pada setiap acara adat, salah satunya Tari Troun U Laot yang menjadi kekhasan utama daerah Pidie.
Keberadaan tarian-tarian tradisional ini bukan hanya sebagai hiburan semata, tetapi juga sebagai media untuk menyampaikan pesan moral, nilai-nilai sosial, dan sejarah masyarakat Aceh.
Tari Troen U Laot, yang namanya terinspirasi dari aktivitas nelayan di laut, merupakan tarian yang sangat khas dan unik. Diciptakan oleh Ibu Yusrizal pada tahun 1980-an, tarian ini pertama kali ditampilkan dalam rangka memeriahkan Kongres Pemuda di Banda Aceh. Sejak saat itu, tarian ini terus berkembang dan menyebar ke berbagai daerah di Aceh, bahkan hingga ke luar Aceh. Tarian ini menceritakan kehidupan nelayan di pesisir Pidie, yang sebagian besar masyarakatnya menggantungkan hidup dari hasil laut.
Gerakan-gerakannya yang dinamis dan energik menggambarkan aktivitas menangkap ikan, menarik jala, dan kerja sama yang erat di antara para nelayan. Penggunaan tali sebagai properti tari menambah nilai estetika dan simbolis tarian ini. Tari Troen U Laot sering ditampilkan dalam berbagai acara, mulai dari upacara penyambutan tamu penting, acara adat, hingga perayaan budaya. Tarian ini bukan hanya sekadar pertunjukan, tetapi juga sebuah media untuk menyampaikan pesan moral dan nilai-nilai sosial yang dianut oleh masyarakat Pidie.
Inspirasi Tari Troen U Laot berasal dari tradisi menarik jala secara gotong royong yang telah lama dilakukan oleh masyarakat pesisir Aceh. Kerja sama dan kebersamaan dalam menarik jala mencerminkan nilai-nilai gotong royong yang kuat dalam masyarakat Aceh.
Hasil tangkapan ikan yang didapat kemudian dibagi secara merata kepada seluruh anggota kelompok, menunjukkan semangat kekeluargaan dan kepedulian sosial yang tinggi. Tradisi ini kemudian direfleksikan dalam Tari Troen U Laot, sehingga tarian ini tidak hanya menghibur, tetapi juga mengajarkan nilai-nilai luhur kepada generasi muda.
Katanya pemerintah Banda Aceh, bersama dengan Dinas Pariwisata, telah berperan aktif dalam melestarikan Tari Troen U Laot. Pementasan Tari Troen U Laot secara besar-besaran telah dilakukan, diikuti oleh seluruh masyarakat Banda Aceh. Selain itu, pameran benda-benda bersejarah juga diadakan untuk memperkuat identitas Tari Troen U Laot sebagai tarian tradisional Aceh.
Dari Lintasan Atletik ke Ruang Kelas
Meskipun telah berkembang menjadi tarian kreasi, Tari Troen U Laot tetap menjaga identitas dan nilai-nilai tradisionalnya. Tarian ini juga telah menyebar ke berbagai daerah di luar Pidie, tetap menjaga keaslian dan identitasnya. Pelestarian Tari Troen U Laot dilakukan tidak hanya melalui pementasan, tetapi juga melalui pendidikan dan pengajaran kepada generasi muda.
Tari Troen U Laot telah berkembang di berbagai sanggar tari di Aceh, menunjukkan betapa populer dan digemari tarian ini. Tarian ini juga merupakan bagian dari kebudayaan suku Aceh Pidie, menunjukkan kekayaan budaya dan keberagaman etnis di Aceh.
Tari Troen U Laot merupakan hasil perpaduan dari dua jenis tarian, yaitu Tari Tarek Pukat, namun kedua tarian ini dapat dipentaskan secara terpisah. Penggabungan kedua tarian ini didasarkan pada kesamaan makna dan semangat yang terkandung di dalamnya, yaitu semangat kerja keras dan kerja sama dalam mencari nafkah. Tarian ini biasanya dibawakan oleh 8 penari, terdiri dari 4 penari perempuan dan 4 penari laki-laki.
Salah satu sanggar yang berperan penting dalam membudidayakan Tari Troen U Laot adalah Sanggar Pocut Meurah Inseun di Lhokseumawe. Sanggar ini telah berhasil membawa nama Aceh ke kancah internasional, dengan meraih prestasi gemilang dalam ajang “Pesta Gendang Nusantara 2024” di Malaka, Malaysia. Keberhasilan ini menunjukkan kualitas dan daya tarik Tari Troen U Laot di mata dunia. Sanggar Pocut Meurah Inseun juga aktif dalam melestarikan berbagai tarian daerah lainnya, dan berperan aktif dalam mempromosikan budaya Aceh baik di tingkat nasional maupun internasional. Komitmen mereka dalam melestarikan budaya daerah patut diapresiasi dan ditiru.
Penampilan Sanggar Pocut Meurah Inseun, dalam ajang Internasional “Pesta Gendang Nusantara 2024” di Melaka, Malaysia. (Foto: Ist)
Tari Troen U Laot telah berkembang pesat dan ditampilkan di berbagai daerah, namun tetap mempertahankan keunikan dan kekhasannya sebagai tarian asal Pidie. Tarian ini telah menjadi “bintang” di pesisir Pidie, menarik perhatian banyak orang dan menjadi kebanggaan masyarakat Aceh. Namun, peran Tari Troen U Laot tidak hanya sebatas hiburan semata. Tarian ini juga memiliki nilai edukatif dan inspiratif, khususnya dalam pembentukan karakter generasi muda Indonesia Emas 2045.
Simpulan:
Tari Troen U Laot, lebih dari sekadar tarian tradisional dari Pidie, Aceh, merupakan manifestasi yang hidup dari sejarah, budaya, dan semangat masyarakat pesisir. Tarian ini bukan hanya sekadar gerakan tubuh yang indah, tetapi juga cerminan dari nilai-nilai luhur yang dipegang teguh oleh masyarakat Aceh, khususnya masyarakat Pidie. Melalui gerakan-gerakannya yang dinamis dan penuh makna, Tari Troen U Laot menceritakan kisah kehidupan nelayan, kerja keras mereka di laut, dan semangat gotong royong yang menjadi kunci keberhasilan mereka dalam mencari nafkah. Tarian ini bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga sebuah media untuk melestarikan tradisi dan nilai-nilai budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Siapa Masih Mau Jadi Guru?
Lebih jauh dari aspek seni dan budaya, Tari Troen U Laot memiliki peran penting dalam pembentukan karakter generasi muda Indonesia Emas 2045. Nilai-nilai gotong royong, kerja sama, keuletan, dan keimanan yang terpancar dari tarian ini dapat diadopsi dan diintegrasikan ke dalam sistem pendidikan dan lingkungan belajar. Dengan demikian, generasi muda dapat belajar tentang pentingnya kolaborasi, kerja sama tim, dan semangat pantang menyerah dalam mencapai tujuan. Nilai-nilai religius yang terkandung dalam tarian ini juga dapat menjadi landasan moral bagi generasi muda dalam menjalani kehidupan.
Dengan demikian, Tari Troen U Laot tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga berperan dalam membentuk karakter generasi muda yang berintegritas, kreatif, dan beriman. Tarian ini menjadi sebuah warisan budaya yang berharga, bukan hanya untuk dinikmati, tetapi juga untuk dipelajari dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Tari Troen U Laot, sebuah "bintang" yang bersinar terang di pesisir Pidie, menginspirasi dan membentuk generasi emas Indonesia di masa depan.
Penulis sdalah siswa SMA Negeri 1 Kota Lhokseumawe
0 Komentar