Oleh: Masitah Inayah
Malam itu, sekitar pukul sembilan, tepat setelah aku melaksanakan salat Isya, aku sedang bersantai di rumah sambil membuka media sosial di ponselku. Tiba-tiba, muncul satu notifikasi WhatsApp di layar.
Aku terkejut karena pesan itu datang dari nomor yang tidak kukenal sebelumnya. Dengan waspada, kubuka notifikasi tersebut. Di dalamnya, tertulis sebuah pesan panjang.
“Assalamualaikum, Masitah. Ini Dava. Masitah anak eskul Jurnalistik, kan? Kira-kira ada rencana untuk bergabung di OSIS, tidak?”
Sejenak aku terdiam kaget, senang, sekaligus bingung. Sejak kapan Dava mengenalku? Dan mengapa tiba-tiba dia menawarkan posisi ini?
Setahuku, Dava adalah calon Wakil Ketua OSIS di sekolahku. Dalam kebingungan itu, aku langsung membalas pesannya. Tanpa ragu, aku mengiyakan tawarannya untuk menjadi anggota OSIS, sebab aku berpikir kesempatan emas ini tidak akan datang dua kali.
Setelah berbincang sejenak, percakapan singkat kami di aplikasi pesan itu pun berakhir. Malam itu, aku terus memikirkan tawaran tersebut. Apakah aku terlalu ceroboh karena langsung menerimanya?
Aku membayangkan tanggung jawab besar yang menanti. Apakah aku bisa? Sanggupkah aku mengemban amanah itu? Aku sengaja tidur lebih awal malam itu, berharap bisa melupakan semua kegelisahanku.
Hari-hari pun berlalu, hingga pada suatu sore dalam perjalanan pulang sekolah, ponselku bergetar. Ternyata, aku telah dimasukkan ke dalam sebuah grup percakapan bernama “OSIS Sementara 2024/2025”.
Kubuka grup itu dan kulihat deretan nama calon anggota OSIS. Mataku menyusuri setiap nama hingga akhirnya berhenti pada namaku sendiri. Aku terharu. Ternyata aku benar-benar dicalonkan.
Pada 18 November 2024, sebuah pesan masuk dari Kak Farah, Sekretaris 1 OSIS. Ia mengabarkan bahwa kami harus mengikuti rapat esok hari sepulang sekolah untuk membahas daftar final calon anggota OSIS periode 2024/2025.
Ini adalah kali pertamaku mengikuti rapat OSIS dan bertemu dengan teman-teman baru. Karena terlalu gembira, aku tidak bisa tidur nyenyak malam itu, yang membuatku mengantuk seharian keesokan harinya.
Saat rapat dimulai, aku terkejut melihat banyak siswa-siswi sebaya yang juga hadir. Kami duduk rapi di kursi yang telah disiapkan. Rapat pun berlangsung lancar. Setelah selesai, kami menerima sebuah dokumen PDF berisi nama-nama calon anggota OSIS beserta divisinya masing-masing.
Tiba-tiba, aku merasa cemas. Aku takut namaku tidak terpilih dan impianku pupus. Namun, saat kucari, ternyata namaku ada! Aku ditempatkan di Divisi WHS dan Jurnalistik.
Sebelum resmi dilantik, kami diberi tugas untuk bekerja sama menyelenggarakan acara Hari Guru Nasional. Aku mendapat bagian sebagai panitia cenderamata. Pengalaman itu sangat menyenangkan, sebab inilah tugas pertamaku sebagai calon anggota OSIS.
Akhirnya, pada 13 Desember 2024, kami dijadwalkan untuk mengikuti serah terima jabatan OSIS Periode 2024/2025. Pada hari itu, namaku dipanggil ke depan, dan aku resmi dilantik.
Namun, apa yang kupikirkan di hari itu ternyata tidak semudah yang kubayangkan. Tugas sebagai anggota OSIS sangatlah berat. Banyak tanggung jawab yang harus dipegang dan banyak hal yang harus dikorbankan.
Setelah seminggu penuh dengan kegiatan OSIS, mulai dari rapat hingga persiapan acara, aku mulai merasakan dampaknya. Banyak tugas sekolah yang terbengkalai.
Aku sering pulang hingga magrib dan merasa kelelahan saat harus mengerjakan tugas di malam hari. Aku juga mulai sulit fokus belajar, yang membuat nilaiku menurun dibandingkan teman-teman sekelas.
Benar saja, saat hasil ulangan keluar, nilaiku turun drastis. Hal itu membuatku semakin gelisah dan ragu. Apakah pilihanku untuk menjadi anggota OSIS sudah benar? Apakah aku telah menjalankan tugasku sebagai siswa dengan baik?
Ibuku pun khawatir dengan nilaiku. Beliau bilang sudah jarang melihatku berkelut dengan buku-buku pelajaran; sebaliknya, aku sering terlihat kelelahan.
Bahkan, Ibu menawarkanku untuk keluar dari OSIS. Selain itu, jadwal yang padat membuat daya tahan tubuhku menurun. Aku jadi sering sakit. Dalam seminggu, aku bisa absen tiga hari penuh karena kelelahan.
Puncaknya terjadi pada hari Kamis yang cerah, tetapi pikiranku sudah mendung. Di kelas Sejarah, Bu Nadilla menyuruh kami membentuk kelompok untuk membahas materi yang cukup berat.
Aku langsung bergabung dengan teman-teman yang telah ditentukan sekelompok denganku. Saat kami mulai menyusun bahan diskusi, Bu Nadilla mengizinkan kami menggunakan ponsel.
Namun, baru saja hendak serius, ponselku bergetar. Notifikasi dari grup OSIS muncul. Tiba-tiba kami dijadwalkan untuk mengikuti kegiatan OSIS dalam rangka mempersiapkan sebuah acara penting.
Aku langsung panik. Acara ini sangat penting, dan aku harus hadir. “Eh, aku harus pergi sekarang,” kataku terburu-buru. Wajah Askya, Indah, dan Risia terlihat bingung. “Ke mana? Kita belum selesai bagi tugas,” tanya Askya.
Aku sudah berdiri, bersiap meninggalkan kelas. “Ada acara OSIS mendadak. Pokoknya, kalian bahas saja dulu materinya.
Nanti aku bantu sisanya,” kataku sambil berjalan cepat menuju pintu. Aku tahu aku salah. Seharusnya aku memberikan arahan yang lebih jelas, bukan sekadar perintah samar seperti itu.
Setelah kegiatan OSIS selesai, kami diberi waktu istirahat sejenak. Hatiku tidak tenang memikirkan teman-teman sekelompokku.
Aku buru-buru memeriksa ponsel dan melihat ada lima panggilan tak terjawab dari Askya. Akhirnya, aku mencoba menghubunginya.
“Gimana tadi kerja kelompoknya? Sudah sampai mana?” tanyaku.
Hening sejenak di seberang sana. Lalu, Askya menjawab dengan nada lemas, “Kami Cuma bahas sepintas, tidak tahu mau mulai dari mana.
Teman-teman juga kebingungan, jadi presentasi kami tadi tidak siap. Maaf ya, nilai kelompok kita jadi rendah.”
Mendengar pengakuan Askya, rasa bersalah langsung menyergapku. Akulah penyebab kegagalan kelompok kami.
Seharusnya aku tidak egois dan bisa membagi waktu lebih baik. Karena perasaan bersalah itu tak kunjung hilang, sepulang sekolah aku langsung menuju ruang guru untuk menemui Bu Nadilla.
“Permisi, Bu,” sapaku pelan.
“Iya, ada apa, Nak?” jawab Bu Nadilla tanpa mengalihkan pandangan dari tumpukan tugas di mejanya.
“Maaf, Bu. Nilai presentasi kelompok saya jadi kurang memuaskan karena saya ada kegiatan OSIS mendadak, jadi kami kurang persiapan,” jelasku hati-hati. “Apa boleh kami mengulang presentasi minggu depan, Bu?”
Bu Nadilla akhirnya menatapku. “Maaf, Nak, tidak bisa. Itu tidak adil untuk kelompok lain yang sudah mempersiapkan diri dengan baik,” jawabnya tegas.
Aku langsung tertunduk lesu. “Oh, begitu ya, Bu,” ucapku lirih. Tanpa banyak bicara lagi, aku berpamitan dan melangkah keluar dari ruang guru dengan perasaan kecewa.
Dalam perjalanan pulang, aku terus merenung. Haruskah aku keluar dari OSIS agar bisa fokus belajar? Aku kembali dilema.
Nilaiku anjlok dan kesehatanku menurun, tetapi di sisi lain, aku sangat senang menjadi anggota OSIS karena bisa mencurahkan ide-ideku dengan lebih leluasa.
Aku kembali dihadapkan pada tekanan, mana yang harus kupilih, aktif di OSIS atau menjadi siswa berprestasi di kelas?
Aku teringat saat pertama kali Dava mengirim pesan, ada kebanggaan yang membuncah di dada. Namun, di saat yang sama, aku juga melihat wajah khawatir Ibu.
Keesokan harinya saat jam istirahat, aku menghampiri Kak Yura, Ketua Divisi WHS & Jurnalistik. Aku menceritakan keluhanku yang sulit mengatur waktu. Sebagai kakak kelas dan ketua, Kak Yura memberiku nasihat dan semangat.
Setelah melalui hari-hari yang penuh kegelisahan, akhirnya aku menyadari satu hal, aku tidak harus memilih, tetapi aku harus mengubah caraku.
Aku harus mulai mengatur jadwal agar hidupku lebih seimbang. Aku membuat jadwal harian yang ketat, memastikan setiap jam diisi dengan kegiatan produktif, mulai dari belajar hingga mengerjakan tugas OSIS. Jadwal itu kutempel di dinding kamar sebagai pengingat.
Perlahan tapi pasti, aku mulai memperbaiki semuanya. Nilaiku di sekolah sedikit demi sedikit membaik, dan tugasku di OSIS berjalan lancar.
Penulis adalah siswa kelas XI.2 Program Unggulan SMAN 1 Kota Lhokseumawe

0 Komentar