Foto: Dokumen Pribadi
Oleh: Mohammad Rozaan Dapi
Langit sore itu terbakar warna oranye, seolah seluruh cakrawala dilalap cahaya yang lembut, namun menyayat.
Udara mengandung aroma khas besi bercampur tanah basah, sisa hujan yang turun beberapa jam sebelumnya.
Stasiun tua itu tampak lusuh. Hanya ada beberapa burung gereja yang bertengger di atap, memandangi dunia dengan mata kecilnya.
Arka duduk di bangku panjang yang catnya mulai mengelupas. Tangannya menggenggam erat sepucuk surat kusut berisi tulisan tangan ayahnya yang ringkas:
“Jika kamu masih ingat jalan pulang, aku menunggumu.”
Surat itu sudah lusuh di tepinya, bekas lipatannya sangat jelas, menandakan sudah berulang kali dibuka dan dibaca. Meskipun sudah dibaca puluhan kali, hatinya tetap bergetar setiap kali matanya sampai pada kalimat terakhir.
Dua bulan lalu, Arka meninggalkan rumah. Bukan karena ia tidak mencintai keluarganya, tetapi karena kemarahan yang tidak pernah benar-benar ia mengerti kini mengganggunya.
Sejak ibunya meninggal, rumah itu seperti kehilangan udara. Ayahnya berubah menjadi sosok pendiam, jarang tersenyum, jarang bicara. Arka, yang terbiasa dengan pelukan hangat ibunya, merasa asing di rumahnya sendiri.
Pertengkaran terakhir mereka terjadi di ruang makan, hanya karena hal sepele. Arka pulang larut malam tanpa memberi kabar. Ayahnya marah, suaranya meninggi, dan Arka membalas dengan kata-kata yang ia sesali sejak mengucapkannya.
Malam itu, tanpa berpikir panjang, ia memasukkan beberapa potong pakaian ke dalam tas ransel dan pergi. Sejak itu, ia tinggal di kota, di kamar kos sempit dengan dinding lembap.
Siang hari ia bekerja di bengkel, malam hari kadang membantu di warung makan ujung gang. Hidupnya cukup untuk bertahan, tetapi hatinya seperti tak pernah benar-benar hidup.
Sebuah langkah kecil memutus lamunannya. Seorang anak laki-laki, mungkin berusia enam atau tujuh tahun, berdiri di depannya memegang balon merah yang talinya terlepas.
“Kak, bisa ikatkan ini?” tanyanya polos.
Arka mengambil balon itu, mengikat talinya di pergelangan tangan si anak. "Hati-hati, jangan sampai lepas lagi," katanya.
Anak itu tersenyum lebar, lalu berlari menuju seorang pria yang duduk di kursi seberang. Arka mengikuti pandangan itu … dan terhenti. Napasnya tercekat.
Pria itu menatapnya dengan mata yang sama—mata yang pernah marah, tetapi juga pernah menatapnya dengan bangga.
Rambutnya lebih memutih, garis wajahnya lebih dalam, seperti diukir oleh waktu dan kesepian. Arka berdiri. Langkahnya terasa berat, tapi ia terus maju. Ayahnya bangkit dari duduknya, matanya tak lepas memandang Arka.
Jarak yang tinggal beberapa langkah terasa seperti puluhan meter. Mereka berdiri berhadapan. Tak ada kata yang keluar untuk beberapa detik, hanya suara riuh pelan stasiun yang terdengar.
Lalu, suara ayahnya memecah keheningan, lirih tapi jelas, "Pulanglah."
Arka merasakan sesuatu pecah di dalam dadanya. Air matanya yang lama tertahan akhirnya jatuh. Ia memeluk ayahnya pelukan yang kaku pada awalnya, lalu menghangat seiring detak jantung yang saling bertemu.
Kereta tiba, pintunya terbuka, tapi Arka tak bergeming. Ia tahu, perjalanan yang benar-benar ia butuhkan bukanlah kembali ke kota, melainkan kembali ke rumah tempat yang meski penuh luka, tetap menyimpan cinta.
Kereta perlahan bergerak meninggalkan stasiun tua, membawa penumpang lain ke tujuan masing-masing.
Senja pun kian meredup, berganti malam. Arka berjalan di sisi ayahnya, langkah mereka kini seirama. Tak ada kata yang panjang, tak ada penjelasan yang rumit. Hanya langkah yang pulang dan hati yang akhirnya menemukan jalannya.
Tidak ada jarak yang terlalu jauh untuk ditempuh ketika hati sudah memilih pulang. Pertengkaran bisa membuat kita saling menjauh, tapi cinta—meski terkubur akan selalu menemukan jalan untuk kembali.
Penulis adalah Siswa Kelas XI-2 Program Unggulan SMA Negeri 1 Kota Lhokseumawe
0 Komentar