Foto: Dokumen Pribadi
Penyebab sebagian mahasiswa malas membaca adalah karena mereka merasa kesulitan memahami isi bacaan. Setelah selesai membaca, mereka justru lupa terhadap apa yang telah dibaca.
Padahal, setiap mahasiswa tentu menginginkan agar materi yang dibacanya dapat dipahami dengan baik dan tersimpan dalam ingatan dalam waktu yang lama. Tidak sedikit mahasiswa yang bahkan merasa mengantuk ketika membaca buku teks perkuliahan dan jurnal ilmiah. Oleh karena itu, mahasiswa perlu menguasai dan menerapkan metode membaca yang efektif untuk membantu mereka menyerap ilmu pengetahuan dari berbagai sumber bacaan.
Ketika penulis masih kuliah pada 1980-an, buku penunjang perkuliahan sangat terbatas. Sumber bacaan yang tersedia umumnya hanya dapat ditemukan di perpustakaan.
Kondisi tersebut berbeda dengan era digital saat ini. Berbagai bahan bacaan, mulai dari buku elektronik hingga jurnal ilmiah, dapat diakses dengan mudah melalui internet. Akan tetapi, kemudahan tersebut ternyata tidak serta-merta membuat mahasiswa lebih rajin membaca buku penunjang perkuliahan.
Ketika dosen memberikan tugas menulis makalah, misalnya, sebagian mahasiswa justru meminta bantuan jasa pengetikan atau penyusunan tugas. Mereka tinggal menerima hasil yang sudah jadi tanpa melalui proses membaca dan memahami sumber rujukan secara memadai.
Saya pernah menemukan delapan makalah yang isinya sama persis dari sekitar 100 makalah yang saya kumpulkan. Kesamaan tersebut ditemukan mulai dari bagian pendahuluan hingga kesimpulan.
Perbedaannya hanya terletak pada warna kertas dan nama mahasiswa yang tercantum pada makalah. Hal ini menunjukkan adanya praktik menyalin atau copy-paste tanpa mengolah dan mengembangkan gagasan sendiri.
Saya pernah menanyakan kepada mahasiswa mengapa sebagian dari mereka malas membaca literatur untuk menunjang perkuliahan. Mereka menjawab bahwa isi bacaan sulit dipahami dan kegiatan membaca sering membuat mereka mengantuk.
Menanggapi persoalan tersebut, saya mengajarkan metode SQ3R, yaitu teknik membaca aktif dan sistematis yang terdiri atas lima tahap: Survey, Question, Read, Recite, dan Review.
Metode ini diperkenalkan oleh Francis P. Robinson, seorang psikolog pendidikan Amerika Serikat, dalam bukunya yang berjudul Effective Study. Metode tersebut pernah saya praktikkan ketika masih menjadi mahasiswa dan dapat diterapkan untuk membantu pembaca memahami serta mengingat isi bacaan dengan lebih baik.
1. Teknik Membaca SQ3R
SQ3R merupakan metode membaca yang dilakukan melalui lima tahapan secara berurutan. Setiap tahap memiliki tujuan tersendiri untuk membantu pembaca memahami isi bacaan secara lebih terarah.
a. Survey (Meninjau)
Sebelum membaca sebuah buku secara mendalam, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah meninjau gambaran umum buku tersebut. Kegiatan ini dapat dimulai dengan membaca judul, mengenali nama pengarang, melihat biografi penulis, membaca kata pengantar, serta mencermati daftar isi.
Daftar isi biasanya terdiri atas beberapa bab dan subbab. Mahasiswa tidak harus membaca seluruh bagian buku secara berurutan. Mereka dapat memilih bab atau subbab yang sesuai dengan kebutuhan perkuliahan dan tujuan membaca. Dengan melakukan peninjauan awal, mahasiswa akan memperoleh gambaran tentang isi buku dan dapat menentukan bagian mana yang perlu dipelajari secara lebih mendalam.
Dari Observasi Menjadi Imaji, Menguak Tahapan dan Teknik Objek Langsung dalam Penulisan Puisi
b. Question (Bertanya)
Sebelum mulai membaca, pembaca perlu menyusun beberapa pertanyaan tentang hal-hal yang ingin diketahui, dipahami, atau dikuasai dari bacaan tersebut. Tujuannya adalah mengarahkan perhatian pembaca pada pokok persoalan sehingga kegiatan membaca menjadi lebih terfokus.
Sebagai contoh, jika judul bacaan adalah “Murid Malas Belajar”, mahasiswa dapat mengajukan pertanyaan: “Apa penyebab murid malas belajar?” Pertanyaan tersebut menjadi pedoman ketika mahasiswa membaca teks untuk menemukan informasi yang relevan.
Setelah menemukan jawaban atas pertanyaan yang telah disusun, mahasiswa dapat menilai sejauh mana mereka memahami isi bacaan. Informasi yang sebelumnya belum diketahui akan menjadi pengetahuan baru. Dengan demikian, menyusun pertanyaan sebelum membaca merupakan langkah penting untuk membantu pembaca memahami materi dan mengingat informasi yang diperoleh.
c. Read (Membaca)
Tahap berikutnya adalah read, yaitu membaca teks secara aktif untuk menemukan jawaban atas pertanyaan yang telah disusun sebelumnya.
Pada tahap ini, perhatian pembaca diarahkan pada gagasan utama dan informasi yang berkaitan dengan pertanyaan. Mahasiswa tidak sekadar membaca kata demi kata tanpa tujuan, tetapi berusaha menemukan informasi yang dibutuhkan.
Cara membaca seperti ini membuat kegiatan membaca lebih terarah dan penggunaan waktu menjadi lebih efisien. Ketika membaca, mahasiswa dapat menandai informasi penting, mencatat gagasan utama, serta menghubungkan informasi yang ditemukan dengan pertanyaan yang telah dibuat.
Namun, mahasiswa tidak boleh berhenti membaca hanya karena telah menemukan satu jawaban. Mereka tetap perlu memastikan bahwa informasi yang diperoleh cukup lengkap dan sesuai dengan konteks bacaan. Dengan demikian, pemahaman yang terbentuk tidak hanya terbatas pada satu informasi, tetapi juga mencakup hubungan antargagasan dalam teks.
d. Recite (Mengungkapkan Kembali)
Tahap recite merupakan kegiatan mengungkapkan kembali isi bacaan dengan menggunakan bahasa sendiri. Kegiatan ini dapat dilakukan dengan menulis ringkasan, menjelaskan materi secara lisan, atau menyampaikan pemahaman kepada teman.
Tahap ini penting karena mahasiswa dapat menguji sejauh mana mereka benar-benar memahami materi yang telah dibaca. Jika mereka mampu menjelaskan kembali isi bacaan tanpa terus-menerus melihat buku, hal itu menunjukkan bahwa sebagian informasi telah dipahami dengan baik.
Sebaliknya, jika mahasiswa masih kesulitan menjelaskan materi, mereka dapat membuka kembali bagian bacaan yang belum dipahami. Dengan cara tersebut, proses membaca tidak berhenti pada kegiatan melihat dan mengenali kata-kata, tetapi berlanjut hingga pembaca mampu mengolah informasi dan menyampaikannya kembali dengan bahasa sendiri.
Kegiatan recite juga membantu memperkuat ingatan karena mahasiswa berusaha memanggil kembali informasi yang telah dipelajari.
e. Review (Meninjau Kembali)
Tahap terakhir adalah review, yaitu meninjau kembali materi yang telah dibaca untuk memastikan bahwa informasi penting telah dipahami dan diingat.
Mahasiswa dapat melakukan kegiatan ini dengan membaca ulang ringkasan, menjawab kembali pertanyaan tanpa melihat catatan, atau mencoba menjelaskan pokok-pokok materi dari ingatan. Jika ditemukan bagian yang belum dikuasai, mahasiswa dapat kembali membaca bagian tersebut.
Pengulangan yang dilakukan secara teratur dapat membantu memperkuat ingatan dan memudahkan mahasiswa mengingat kembali materi ketika diperlukan, misalnya saat mengikuti diskusi, menyusun makalah, atau menghadapi ujian.
Dengan demikian, tahap review bukan sekadar membaca ulang, melainkan kegiatan memeriksa dan memperkuat pemahaman terhadap materi yang telah dipelajari.
2. Teknik Membaca Skimming dan Scanning
Selain SQ3R, mahasiswa juga perlu menguasai teknik membaca skimming dan scanning. Kedua teknik ini dapat membantu mahasiswa menemukan informasi secara lebih cepat, terutama ketika harus berhadapan dengan buku tebal, jurnal ilmiah, dan berbagai sumber bacaan dalam waktu yang terbatas.
a. Skimming (Membaca Sekilas)
Skimming adalah teknik membaca secara cepat untuk memperoleh gambaran umum dan menemukan gagasan utama dalam suatu teks. Pembaca tidak membaca setiap kata secara terperinci, tetapi memusatkan perhatian pada bagian-bagian yang dapat memberikan gambaran tentang isi bacaan.
Teknik ini dapat dilakukan dengan membaca judul, subjudul, kalimat utama, serta beberapa bagian penting dalam setiap paragraf. Pembaca juga dapat memperhatikan kata-kata kunci yang membantu menjelaskan pokok pembahasan.
Tujuan skimming adalah memperoleh gambaran umum tentang isi teks dalam waktu relatif singkat. Teknik ini berguna ketika mahasiswa ingin mengetahui apakah sebuah buku atau jurnal relevan dengan topik yang sedang dipelajari sebelum membacanya secara mendalam.
Letak gagasan utama dalam paragraf tidak selalu sama. Ada paragraf yang menempatkan gagasan utama pada awal paragraf, ada pula yang menempatkannya pada akhir paragraf. Sebagian paragraf bahkan menyampaikan gagasan utama secara tersirat sehingga pembaca perlu memahami keseluruhan isi paragraf untuk menemukannya.
Oleh karena itu, mahasiswa perlu melatih kemampuan membaca cepat tanpa mengabaikan pemahaman. Kecepatan membaca saja tidak cukup jika pembaca tidak mampu menangkap makna informasi yang diperoleh.
b. Scanning (Membaca Memindai)
Scanning adalah teknik membaca cepat untuk menemukan informasi tertentu yang terdapat dalam teks tanpa harus membaca seluruh isinya. Teknik ini digunakan ketika pembaca telah mengetahui informasi yang ingin dicari.
Sebagai contoh, ketika membaca kalender, seseorang dapat langsung mencari tanggal tertentu. Ketika membaca buku atau jurnal, mahasiswa dapat mencari nama tokoh, istilah, angka, tahun, atau kata kunci yang berkaitan dengan topik pembahasan.
Dalam penerapannya, mahasiswa dapat menggunakan daftar isi, indeks, judul, subjudul, atau kata kunci untuk mempercepat pencarian informasi. Jika sebelumnya telah melakukan skimming, mahasiswa juga dapat menggunakan bagian-bagian yang telah ditandai untuk menemukan informasi yang lebih spesifik.
Perbedaan utama antara skimming dan scanning terletak pada tujuan membacanya. Skimming digunakan untuk memperoleh gambaran umum dan menemukan gagasan utama, sedangkan scanning digunakan untuk menemukan informasi tertentu secara cepat.
3. Perbandingan Teknik Membaca Aktif dan Membaca Pasif
Teknik membaca aktif, seperti SQ3R, memiliki perbedaan dengan kebiasaan membaca pasif. Dalam membaca aktif, mahasiswa terlibat langsung melalui kegiatan meninjau, bertanya, mencari jawaban, mengungkapkan kembali, dan meninjau ulang materi. Sebaliknya, membaca pasif cenderung dilakukan tanpa tujuan yang jelas dan tanpa upaya menguji pemahaman.
Perbedaan keduanya dapat dilihat pada tabel berikut.
| Aspek | Membaca Aktif dengan SQ3R | Membaca Pasif |
|---|---|---|
| Tujuan membaca | Terarah dan jelas | Sering tidak terarah |
| Penggunaan waktu | Lebih efisien karena sesuai tujuan | Berpotensi kurang efisien |
| Pemahaman materi | Dibantu dengan pertanyaan dan pengungkapan kembali | Bergantung pada perhatian dan pemahaman pembaca |
| Daya ingat | Diperkuat melalui pengulangan dan peninjauan | Informasi dapat lebih mudah terlupakan jika tidak diulang |
| Keterlibatan pembaca | Aktif mengolah informasi | Cenderung menerima informasi secara pasif |
Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan membaca tidak hanya ditentukan oleh lamanya waktu yang digunakan, tetapi juga oleh cara seseorang mengolah informasi. Membaca secara aktif membantu mahasiswa mengetahui apa yang sedang dicari, apa yang telah dipahami, dan bagian mana yang masih perlu dipelajari.
Penutup
Setiap mahasiswa perlu menguasai teknik membaca yang efektif agar dapat memahami materi perkuliahan dengan baik. Kemampuan ini semakin penting karena mahasiswa harus membaca berbagai sumber, menyelesaikan tugas, menyusun makalah, dan mempelajari jurnal ilmiah dalam waktu yang terbatas.
Penerapan metode SQ3R membantu mahasiswa membaca secara sistematis, mulai dari meninjau bacaan, menyusun pertanyaan, mencari jawaban, mengungkapkan kembali isi bacaan, hingga meninjau ulang materi yang telah dipelajari. Sementara itu, skimming membantu mahasiswa memperoleh gambaran umum dan menemukan gagasan utama, sedangkan scanning memudahkan mereka mencari informasi tertentu secara cepat.
Ketiga teknik tersebut dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan. Mahasiswa dapat menerapkan skimming untuk menyeleksi bacaan, scanning untuk menemukan informasi spesifik, dan SQ3R untuk memahami materi secara lebih mendalam.
Pada akhirnya, membaca bukan sekadar menyelesaikan sejumlah halaman buku, melainkan proses memahami, mengolah, dan mengingat informasi.
Mahasiswa yang mampu menerapkan teknik membaca secara tepat akan lebih terbantu dalam belajar, menyusun karya ilmiah, serta mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Oleh karena itu, kebiasaan membaca perlu dibangun melalui metode yang terarah, latihan yang konsisten, dan kemauan untuk memahami isi bacaan, bukan sekadar mengejar jumlah halaman yang telah dibaca.
Penulis adalah Dosen Universitas Agama Islam Bireun

0 Komentar