Foto: Dokumen Pribadi
Oleh: Mukhlis, S.Pd., M.Pd.
Pernahkah Anda menatap secangkir kopi yang mulai dingin, atau sepasang sepatu tua yang tersimpan di sudut lemari, lalu tiba-tiba merasa ada ribuan kata yang mendesak untuk dituangkan?
Banyak orang mengira bahwa menulis puisi hanyalah soal merangkai kata-kata indah tentang cinta atau alam.
Padahal, rahasia terbesar dari kelahiran sebuah puisi sering kali bersembunyi di balik benda-benda sederhana di sekitar kita.
Menulis puisi bukanlah sihir, melainkan sebuah ketekunan dan pengamatan yang mendalam.
Memahami Tiga Tahap Penting dalam Proses Menulis
Dalam buku Tertib Menulis, Sabarti Akhadah (1999) menguraikan bahwa proses kreatif menulis bukanlah sebuah kebetulan, melainkan sebuah sistem yang terstruktur. Ia membagi tahap menulis ke dalam tiga fase krusial, yaitu tahap pramenulis, tahap menulis, dan tahap pascamenulis.
Baca Juga
Guru Bukan Teman Sebaya, Kemana Perginya Rasa Hormat Siswa?
Tahap pramenulis adalah fondasi utama. Pada fase ini, penulis menentukan tema, menyusun kerangka tulisan, dan mengumpulkan semua referensi yang berhubungan dengan tema yang telah dipilih sebelumnya. Dalam konteks puisi, referensi ini bisa berupa catatan kecil, kutipan, atau pengalaman personal yang dikaitkan dengan objek yang akan diangkat.
Tahap selanjutnya adalah tahap menulis. Biasanya, tahap ini merupakan tantangan tersendiri dalam menulis dan sering kali menjadi momok bagi banyak penulis. Di sinilah kepiawaian menggunakan kalimat-kalimat dalam untaian yang sistematis diuji, sekaligus mengusung satu tema yang padu.
Kemampuan mengatur ide atau gagasan secara apik dan tidak menggunakan kalimat yang ambigu merupakan suatu ilmu tersendiri yang tidak dapat dikupas secara utuh pada badan tulisan ini.
Ini adalah fase di mana abstraksi perasaan dipaksa untuk mewujud menjadi bentuk verbal yang konkret, di mana setiap larik harus saling menopang makna.
Ketika tulisan sudah dianggap rampung, jangan buru-buru mempublikasikannya. Masuklah ke tahap ketiga, yaitu tahap pascamenulis atau sering dikenal dengan tahap revisi. Revisi dalam puisi jauh lebih ketat daripada prosa. Revisi yang dilakukan adalah proses cross and check terhadap tulisan yang sudah dibuat.
Secara umum, yang direvisi meliputi ketepatan penggunaan tanda baca untuk mengatur ritme, pemilihan kalimat efektif, serta pemangkasan pengembangan ide yang berulang atau bertele-tele. Dalam puisi, setiap kata harus memiliki bobot.
Teknik Objek Langsung, Mengubah Benda Biasa Menjadi Puisi Bermakna
Lalu, bagaimana cara memulai tahap pramenulis tersebut agar tidak kehabisan ide? Salah satu pendekatan yang paling ampuh dan dapat digunakan dalam penulisan puisi adalah teknik objek langsung.
Teknik ini menggunakan objek secara langsung sebagai titik tolak. Objek yang dimaksud bukanlah sekadar barang mati, melainkan mencakup benda, orang, dan suasana yang mau dijadikan sebuah puisi.
Baca Juga
Pemberontakan Jiwa dalam Puisi "Aku dan Kematian" karya Mimi Marvil, Sebuah Studi Psikologi Sastra
Sebelum puisi dilahirkan dari objek ini, penulis diwajibkan mengobservasi semua bagian dari objek yang dijadikan puisi secara mendetail. Bayangkan Anda memilih "sebuah jam dinding tua yang mati". Anda tidak hanya melihat bentuknya.
Anda harus mengamati: bagaimana debu menempel di kacanya? Apa bau kayu lapuknya? Bagaimana sunyinya ruangan saat jam itu tidak lagi berdetak? Observasi menggunakan panca indra ini akan memperkaya bank data imajinasi penulis.
Sebagai contoh nyata penerapan teknik ini, kita dapat melihat karya penyair Muklis Puna yang dimuat di Sastrapuna.com, berjudul "Pagi yang Lembab". Dalam puisi ini, Muklis Puna tidak langsung berbicara tentang abstraksi pengabdian seorang guru. Sebaliknya, ia memulai dengan observasi tajam terhadap objek dan suasana konkret di sekitarnya:
Pagi yang lembabUdara basah dan terlelap
jalan menggigil dipeluk hujan
Aku dalam balutan kepompong mengulas kisah
Merayap di atas aspal dengan besi yang menua
Satu dua mobil kulewati
Sepatuku basah akibat ludah yang muncrat dari mobil berkelas
Aku terus merayap meski pagi masih buta
Bocah-bocah cerdas melambai dalam bayang
...
Aku melaju menjemput tugas negara
Membuka kegelapan dengan lilin pengetahuan
...
Sudah terlanjur Kutulis di buku harian
Seungguhnya Aku ingin jadi pengabdi tanpa koma
Melalui puisi tersebut, terlihat jelas bagaimana teknik objek langsung bekerja. Muklis Puna mengamati detail sensorik seperti "jalan menggigil", "aspal dengan besi yang menua", hingga "ludah yang muncrat dari mobil berkelas".
Objek-objek fisik dan suasana pagi ini bukan sekadar deskripsi latar belakang, melainkan menjadi jembatan metaforis yang kuat untuk menyampaikan gagasan yang lebih dalam tentang realitas seorang guru.
Ia tetap melaju "menjemput tugas negara" dan menjadi "pengabdi tanpa koma" meski menghadapi keterbatasan fisik dan cuaca. Inilah bukti bahwa observasi mendetail terhadap objek dan suasana sehari-hari, ketika dipadukan dengan diksi yang tepat, dapat melahirkan puisi yang tidak hanya indah secara bahasa, tetapi juga sarat akan makna kemanusiaan.
Simpulan
Setiap penulis dituntut untuk banyak membaca dan secara aktif mengobservasi objek-objek di sekitarnya yang mau ditulis. Jangan biarkan benda-benda atau suasana di sekeliling Anda hanya menjadi penonton; jadikan mereka saksi dan subjek dari karya Anda.
Selanjutnya, menulis puisi juga merupakan sebuah kreativitas tingkat tinggi dalam menuangkan gagasan yang apik dalam bentuk puisi, mengubah yang kasat mata menjadi pengalaman batin bagi pembaca.
Agar puisi-puisi yang ditulis tidak hanya berhenti sebagai untaian kata biasa, melainkan bernilai sastra tinggi, penulis dituntut harus rajin membaca karya-karya penyair terkenal.
Membaca penyair besar akan membuka wawasan tentang bagaimana mereka memperlakukan objek, bermain dengan diksi, dan merangkai imaji, sehingga pada akhirnya Anda dapat menemukan suara dan gaya Anda sendiri.
Penulis adalah Mahasiswa Doktoral Program Studi Islam UINSUNA dan Guru SMA N 1 Lhokseumawe

0 Komentar