Guru Bukan Teman Sebaya, Kemana Perginya Rasa Hormat Siswa?

 


Foto: Dokumen Pribadi 

Oleh: Liya Fazila Aqilah

“Eh, santai aja, Bu. Kan cuma bercanda.” Kalimat sederhana seperti itu mungkin terdengar biasa. Namun, bagaimana jika candaan tersebut disampaikan tanpa memedulikan posisi seorang guru?

Di tengah semakin dekatnya hubungan antara siswa dan guru, batas kesopanan justru perlahan menjadi kabur. Memanggil guru dengan sebutan seenaknya, berbicara ketika guru sedang menjelaskan, hingga menjadikan guru sebagai bahan lelucon. hal-hal yang dahulu dianggap tidak sopan kini mulai dianggap sebagai sesuatu yang wajar di kalangan siswa.

Murid ketika ditanya guru mana yang baik? Pasti jawabnya guru yang ga marah-marah ga killer yang bebas, tapi kenyataannya terlalu sering dibiasakan justru menjadi awal dari hilangnya rasa hormat karena menganggap hal seperti itu sudah biasa, sehingga ketika ada guru yang menegur dianggap kejam dan tidak ramah

1.Guru adalah Orang yang Harus Dihormati.

Meski menjadi seorang guru tidak menghasilkan banyak uang, guru tetap ikhlas mendidik anak muridnya, tanpa meminta imbalan kepada anak muridnya atas ilmu yang telah ia berikan, karena adanya rasa tanggung jawab terhadap tujuan dari profesinya yakni mewujudkan generasi cerdas dan berakhlak.

Hal inilah yang dimaksud mulia. Guru mengajar dengan ikhlas semata-mata untuk mewujudkan siswa-siswi Indonesia yang berprestasi dan berakhlak. Itulah sebabnya kita mestilah bersungguh-sungguh dalam belajar untuk membalas perjuangan guru agar tidak sia-sia.

Namun, terkadang guru yang tegas dan sering menegur justru dianggap sebagai guru yang galak atau tidak menyenangkan. Padahal, guru yang marah bukan berarti guru tersebut tidak suka dengan siswanya. 

Ada kalanya guru menegur karena siswa melakukan sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan, terutama jika mengganggu proses belajar di kelas.

Untuk melihat bagaimana hal tersebut terjadi dalam keseharian, perhatikan cerita berikut.

Pagi itu, seperti biasa, guru masuk ke kelas dan mulai menjelaskan materi pelajaran. Beberapa siswa masih sibuk berbicara dengan teman di belakangnya. Guru sempat berhenti menjelaskan dan menunggu sampai kelas kembali tenang. Setelah suasana mereda, ia kembali melanjutkan penjelasan.

Namun, tidak lama kemudian, suara bising kembali terdengar. Ketika guru memberikan pertanyaan, tidak ada yang menjawab. Beberapa siswa malah tertawa dan tetap melanjutkan percakapannya. Guru yang kecewa akhirnya menegur siswanya dengan lebih tegas agar berhenti bercanda dan memperhatikan pelajaran.

Setelah itu, mungkin akan ada siswa yang menganggap gurunya tidak menyukai mereka hanya karena ia marah dan menegur kelas. Padahal, dari sisi guru, kemarahan itu bukan muncul tanpa alasan. Ia hanya ingin pelajaran yang sudah dipersiapkan dapat diterima oleh siswanya dengan baik.

Guru tidak meminta siswa untuk selalu diam dan takut kepadanya. Cukup mendengarkan ketika guru sedang berbicara, tidak membuat keributan saat pelajaran berlangsung, menjawab dengan sopan, dan menghargai teguran yang diberikan.








Hal-hal sederhana seperti itu sudah menunjukkan bahwa siswa menghargai guru. Guru memang tidak harus selalu ditakuti, tetapi tetap harus dihormati. Sebab, rasa nyaman dengan guru bukan berarti siswa bebas memperlakukan guru seperti teman sebaya.

Menghormati guru bukan berarti siswa harus merasa takut atau tidak boleh memiliki pendapat sendiri. 

Rasa hormat dapat ditunjukkan melalui hal-hal sederhana, seperti mendengarkan ketika guru berbicara, menggunakan bahasa yang sopan, meminta izin ketika hendak melakukan sesuatu, serta menerima teguran dengan sikap yang baik.

Guru juga manusia yang dapat diajak berdiskusi dan didekati dengan cara yang baik. Namun, kedekatan antara guru dan siswa tetap memiliki batas yang perlu dijaga. 

Menjadikan guru sebagai sosok yang dekat bukan berarti menghilangkan sopan santun dan menganggap guru sama seperti teman sebaya. Justru, kedekatan yang sehat adalah ketika siswa merasa nyaman untuk berkomunikasi tanpa kehilangan rasa hormat kepada orang yang mendidiknya.

2. Guru sebagai Orang Tua Kedua di Sekolah.

Saking banyaknya waktu interaksi antara siswa dan guru, peran guru dalam mendidik pun menjadi besar. Secara tidak langsung, guru menjadi orang tua kedua bagi siswa di sekolah. Guru tak hanya mengajar mata pelajaran tertentu kepada murid-muridnya, tetapi juga mendidik dan membentuk karakter siswa.

Guru juga menjadi sosok yang memberikan arahan, mengingatkan ketika siswa melakukan kesalahan, serta membantu siswa memahami bagaimana seharusnya bersikap di lingkungan sekolah.

Namun, bukan berarti kenakalan siswa serta-merta menjadi salah guru. Penguatan dasar di rumah menjadi faktor utama agar siswa memiliki karakter yang baik ketika berada di luar dan tidak mudah terjerumus ke lingkungan pertemanan yang salah atau hal-hal yang dapat merugikan diri sendiri.

Pendidikan dari orang tua dan guru sebenarnya saling melengkapi. Apa yang diajarkan di rumah dapat diperkuat kembali oleh guru di sekolah, sehingga siswa tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga memiliki sikap dan karakter yang baik.

Contoh peran guru sebagai orang tua kedua dapat dilihat dari hal-hal sederhana yang terjadi di sekolah. Ketika ada siswa yang melakukan kesalahan, guru tidak hanya menegur, tetapi juga memberikan nasihat agar siswa memahami kesalahannya dan tidak mengulanginya. 

Guru juga sering mengingatkan siswa mengenai sikap, pergaulan, kedisiplinan, hingga tanggung jawab terhadap tugas. Bahkan, ketika ada siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar atau memiliki masalah dengan teman, guru terkadang menjadi tempat siswa untuk bercerita dan meminta arahan.

Hal-hal tersebut menunjukkan bahwa perhatian guru kepada siswa tidak berhenti pada kegiatan belajar mengajar saja. Guru ikut memperhatikan bagaimana siswanya bersikap dan berkembang selama berada di sekolah.

Namun, peran guru sebagai orang tua kedua juga bukan berarti guru dapat menggantikan sepenuhnya peran orang tua di rumah. Keduanya memiliki peran masing-masing dan perlu bekerja sama dalam membentuk karakter siswa. Dengan adanya kerja sama tersebut, siswa akan mendapatkan arahan yang lebih baik, baik ketika berada di rumah maupun ketika berada di lingkungan sekolah.

Simpulan

Pada akhirnya, guru memang bukan teman sebaya yang bisa diperlakukan sesuka hati. Guru adalah orang yang memiliki tanggung jawab untuk mengajar, mendidik, dan membantu membentuk karakter siswa selama berada di sekolah. 

Guru boleh dekat dengan siswa dan menciptakan suasana belajar yang nyaman, tetapi kedekatan tersebut tetap harus disertai batas dan rasa hormat.

Menghormati guru juga tidak harus selalu ditunjukkan dengan rasa takut. Cukup dengan mendengarkan ketika guru berbicara, menggunakan bahasa yang sopan, menghargai teguran, dan tidak menjadikan guru sebagai bahan lelucon yang berlebihan. 

Begitu juga dengan guru yang tegas, tidak selalu berarti guru tersebut galak atau tidak menyukai siswanya. Terkadang, teguran justru merupakan bentuk perhatian agar siswa dapat memperbaiki kesalahannya.

Karena itu, sudah seharusnya siswa dapat membedakan antara merasa nyaman dengan guru dan memperlakukan guru seperti teman sebaya. 

Menjadi dekat bukan berarti menghilangkan rasa hormat. Sebab, sebaik apa pun hubungan antara siswa dan guru, tetap ada batas yang perlu dijaga agar keduanya dapat saling menghargai.

Penulis adalah  Siswa Kelas X-2 SMA N 1 Lhokseumawe

 

Berita Terkait

Posting Komentar

0 Komentar