Foto: Dokumen Pribadi
Oleh: Mukhlis, S.Pd., M.Pd.
Aceh merupakan daerah pertama yang mengalami kemajuan jauh lebih lama dibandingkan provinsi lain di Indonesia. Jauh sebelum bersatu dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Aceh sudah mengalami perubahan signifikan dan memiliki peradaban yang maju di kancah dunia.
Daerah yang dikenal dengan sebutan "Serambi Mekkah" ini pernah menyandang gelar sebagai kerajaan terkuat di muka bumi dan telah menjalin hubungan diplomatik dengan negara-negara besar dunia, seperti Kesultanan Utsmaniyah (Ottoman) dan kerajaan-kerajaan Eropa.
Hal ini dapat dilihat pada dokumen-dokumen berbentuk manuskrip dan bukti fisik lainnya yang memberikan fakta luar biasa bahwa Aceh sudah lebih dulu merajai dunia ketika daerah-daerah lain masih dalam cengkeraman penjajah.
Belanda sendiri harus mengakui bahwa perang terbesar dan terlama yang mereka alami saat memperluas imperiumnya terjadi di Aceh. Dalam berperang melawan Aceh, negara Kincir Angin ini harus mengeluarkan biaya sangat besar serta kehilangan banyak jenderal hebat di negeri Serambi Mekkah.
Baiklah, Sahabat Cerdas, mari kita tinggalkan pengantar tentang peradaban Aceh di atas. Aceh juga merupakan daerah pertama masuknya agama Islam di Nusantara. Kerajaan Perlak dan Samudra Pasai merupakan daerah di mana nama Allah pertama kali berkumandang di negeri ini. Para pedagang dari Arab, India, dan Gujarat yang datang berdagang kemudian menyebarkan agama Islam di bumi Serambi Mekkah.
Sebelum Islam merambah lebih jauh dalam budaya, sikap, dan peradaban masyarakat Aceh, mereka sebelumnya menganut berbagai jenis agama, mulai dari Hindu, Buddha, bahkan di antara mereka ada yang menganut animisme dan ateisme. Setelah Islam masuk dan berkembang, lama-kelamaan kondisi tersebut berubah secara struktural dan kultural.
Sahabat cerdas... Secara kultural, seluruh masyarakat Aceh sudah menjadikan Islam sebagai napas dalam menata hidup. Hampir semua kegiatan adat dan budaya Aceh selalu dihiasi dengan ajaran Islam. Kadang-kadang, jika dilihat sekilas tanpa melakukan kajian mendalam, adat yang dilaksanakan seolah-olah sudah menjadi kewajiban dalam agama.
Ada banyak contoh tersaji di depan mata, namun agar tulisan ini tidak melenceng dari fokus awal, penulis merasa tidak perlu menampilkannya secara detail. Namun, sebagai masyarakat Aceh, Anda sudah pasti memahami contoh dan kegiatan tersebut.
Secara struktural, semua lembaga yang ada dalam pemerintahan Aceh, mulai dari masa kerajaan, selalu menggunakan simbol dan ornamen Islam secara ketat, baik dari segi penggunaan nama atau nomenklatur maupun sikap-sikap yang dimunculkan dalam setiap lembaga.
Dengan demikian, dapat dipahami bahwa Islam di Aceh betul-betul diaplikasikan secara kaffah (menyeluruh). Sulitnya membedakan antara ajaran Islam sesungguhnya dan budaya masyarakat asli Aceh, maka muncul beragam hal unik yang menjadi ciri khas masyarakat Aceh.
Dari segi masalah yang muncul dan menjadi pertanyaan krusial dalam tulisan ini adalah: apakah masyarakat Aceh memahami agama Islam secara sadar berdasarkan pengetahuan, atau sekadar karena orang tuanya sudah turun-temurun beragama Islam? Inilah yang akan dibahas pada badan tulisan ini, yaitu "Islam Kebetulan" vs "Kebetulan Islam". Berikut adalah penjelasan konseptual mengenai perbedaan keduanya:
1. Islam Kebetulan (Accidental Islam)
Ini merujuk pada kondisi di mana seseorang atau sebuah komunitas menjadi Muslim atau mengamalkan Islam lebih karena faktor eksternal, historis, atau sosiologis, bukan karena kesadaran epistemologis atau spiritual yang mendalam.
Adapun ciri-ciri "Islam Kebetulan" adalah sebagai berikut,
Pertama, Identitas Turun-temurun. Menjadi Muslim hanya karena lahir dari orang tua Muslim, tanpa pernah melakukan pencarian kebenaran (search for truth) secara kritis. Hal ini terlihat dengan jelas dalam masyarakat Aceh. Jika diajukan pertanyaan kritis dengan menggunakan pola pikir logika, misalnya, "Mengapa Anda beragama Islam?", mereka akan menjawab secara spontan, "Kami sudah beragama Islam sebelum kami lahir." Artinya, sebelum kami lahir, orang tua kami sudah menganut agama Islam secara kaffah.
Secara historis, mereka memang sudah beragama Islam. Namun, ketika pertanyaan diarahkan ke kutub yang berbeda, seperti "Bagaimana pemahaman Anda secara detail tentang agama Islam?", mereka terdiam dan hanya menjawab, "Kami hanya menuntut ilmu agama berdasarkan arahan dan perintah dari leluhur kami. Kami meyakini bahwa agama yang kami yakini berasal dari kebenaran hakiki tanpa perlu dicari lagi solusi terhadap masalah tersebut."
Kedua, Praktik Ritualistik Tanpa Pemahaman. Menjalankan ibadah (shalat, puasa) sebagai rutinitas budaya atau tekanan sosial, bukan karena pemahaman teologis atau filosofis. Hal inilah yang terjadi dalam masyarakat Aceh, sebagaimana dibongkar oleh Snouck Hurgronje dalam catatan panjangnya ketika ia menyamar menjadi ulama besar dalam kehidupan masyarakat Aceh saat Belanda menjajah.
Dalam konteks Snouck Hurgronje terkait amalan ibadah puasa, hampir semua masyarakat Aceh melakukan ibadah tersebut tanpa kecuali. Warung-warung kopi dan makanan ditutup total dengan alasan logis menghargai orang yang berpuasa. Namun, "ulama murtad" tersebut membongkar bahwa berbagai praktik puasa di Aceh ternyata tidak sesempurna kelihatannya.
Mulai dari awal puasa, seluruh remaja di Aceh tampak berpuasa, tetapi ketika sudah berjalan selama satu minggu, akan muncul hal-hal aneh. Dari luar mereka tampak berpuasa dengan wajah tulus, namun di balik layar mereka makan secara sembunyi-sembunyi.
Sebenarnya, ada banyak hal lain yang dibongkar oleh Snouck Hurgronje berkaitan dengan hal itu. Akan tetapi, itu hanya sebagian kecil. Temuan ini tidak serta merta membenarkan apa yang disampaikan oleh sosok yang dianggap munafik tersebut, melainkan konsep di atas memunculkan kemungkinan bahwa hal itu bisa saja terjadi jika mereka beragama secara keturunan, bukan sebagai hasil pemahaman mendalam.
Ketiga, Sikap Reaktif. Sikap keagamaannya muncul hanya saat ada konflik atau tantangan dari luar (misalnya, tiba-tiba sangat "galak" membela agama saat merasa diserang, tapi sehari-hari minim literasi). Sebagian masyarakat Aceh akan murka dan rela mati apabila agamanya dihina oleh orang lain. Namun, jika ditilik lebih jauh, sikap keseharian mereka dalam mengamalkan ajaran agama biasa-biasa saja. Artinya, terdapat kontradiksi antara kenyataan dengan idealitas.
Dalam pandangan Al-Jabiri, hal itu bisa dikaitkan dengan dominasi Nalar Bayani yang stagnan, di mana teks diterima begitu saja tanpa melalui proses verifikasi akal (Burhani) atau penghayatan hati (Irfani).
2.Kebetulan Islam (Islam as Coincidence/Contextual Islam)
Frasa ini lebih jarang digunakan, tetapi jika dimaknai secara filosofis, ia merujuk pada pandangan bahwa kehadiran Islam dalam kehidupan seseorang atau peradaban adalah sebuah kebetulan historis yang tidak memiliki makna transendental atau universal.
Meskipun frasa ini berbeda, ia tetap mengacu pada ciri-ciri yang membedakannya dari konsep sebelumnya. Ciri-ciri inilah yang menjadi pembeda antara keduanya:
Pertama, Pandangan Sekular-Historis. Memandang Islam sekadar sebagai salah satu dari banyak sistem kepercayaan yang muncul akibat kondisi geografis, politik, atau ekonomi tertentu di masa lalu. Pandangan sekularisme adalah sebuah konsep yang memisahkan agama dengan sistem pemerintahan dan sains. Pandangan ini telah menjauhkan agama dari hati para saintis dan penyelenggara negara.
Hal yang muncul adalah mereka menganggap Islam sebagai kebetulan belaka. Mereka tidak menjadikan Islam sebagai falsafah hidup; dalam ilmu pengetahuan, mereka lebih menuhankan akal sebagai sumber pengetahuan. Asumsi mereka yang paling kritis adalah semua pengetahuan itu nyata, bisa diinderawi, dan bersifat empiris. Mereka lebih menyembah rasionalisme dan objek ilmu yang bersifat material.
Kedua, Relativisme Kebenaran. Menganggap bahwa jika sejarahnya berbeda, mungkin orang tersebut akan menganut agama lain. Tidak ada klaim kebenaran mutlak. Ketiga, Instrumentalis. Menggunakan simbol-simbol Islam hanya ketika menguntungkan secara politis atau sosial, lalu melepaskannya ketika tidak lagi relevan.
Pandangan ini dapat mengarah pada hilangnya komitmen terhadap nilai-nilai universal Islam, karena agama dianggap hanya "kebetulan" belaka, bukan pilihan sadar. Inilah yang perlu menjadi perhatian besar bagi para pihak seperti ulama, ustadz, tokoh masyarakat, dan pengambil kebijakan untuk menjaga dan memberi pemahaman bahwa beragama bukan kebetulan belaka, akan tetapi berkat usaha pencarian tentang kebenaran, seperti perjalanan Nabi Ibrahim mencari Tuhannya.
Simpulan
Dalam konteks tulisan ini tentang integrasi ilmu dan agama, kedua konsep di atas adalah "penyakit" yang harus dihindari. Islam Kebetulan menghasilkan umat yang taat secara ritual tapi buta secara intelektual (mudah terjebak radikalisme atau taklid buta).
Kebetulan Islam menghasilkan umat yang cerdas secara intelektual tapi hampa secara spiritual (mudah terjebak sekularisme ekstrem). Oleh karena itu, kesadaran beragama yang berbasis pada pengetahuan, pemahaman mendalam, dan pencarian kebenaran yang sungguh-sungguh menjadi kunci untuk melahirkan peradaban Islam yang kuat dan bermartabat.
Penulis adalah Mahasiswa Doktoral Program Studi Pendidikan Islam UINSUNA dan Guru SMA Negeri 1 Lhokseumawe.

0 Komentar