Harmoni Dua Kebenaran,Rekonstruksi Epistemologi Ibnu Rusy dan Integrasi Sains dengan Agama

 

Foto: Dokumen  Pribadi

Oleh: Mukhlis, S.Pd., M.Pd

Ibnu Rusy (Averroes) adalah sosok monumental, baik sebagai saintis maupun ulama besar pada masa kejayaan Andalusia (Spanyol Islam). Ilmuwan Muslim ini pernah mencapai puncak kariernya sebagai Qadi (Hakim Agung) di kerajaan Islam terbesar di Spanyol saat itu. 

Beliau bukan sekadar ulama fikih yang semata-mata membahas implikasi hukum dan dosa akibat pelanggaran syariat, namun juga bukan tipikal ulama tasawuf yang hanya mengandalkan imajinasi spiritual semata dalam membahas kehidupan akhirat. 

Ibnu Rusy adalah seorang filsuf Islam yang kompleks, beliau memiliki kejeniusan dalam menghidupkan dan mengintegrasikan dua fungsi otak manusia secara simultan,logika rasional (otak kiri) dan intuisi spiritual (otak kanan).

Dikotomi "Bagaimana" dan "Mengapa": Menelusuri Jejak Epistemologi Sains dan Agama

Dua pertanyaan pemandu yang mendasari filosofi sekaligus mengembangkan tulisan ini adalah, "Bagaimana" dan "Mengapa". Kedua pertanyaan ini memiliki spesifikasi dan disiplin ilmu yang berbeda. Agar pembaca tidak tersesat dalam alur pemikiran, penulis memberikan parameter yang jelas mengenai operasionalisasi kedua konsep ini. Adapun kedua bidang tersebut adalah Ilmu (Sains) dan Agama.

Dalam diskursus filsafat ilmu, disebutkan bahwa ilmu bersifat bebas nilai (value-free). Terdapat anggapan ekstrem yang menyatakan bahwa ilmu tidak memiliki agama. Namun, dalam konteks epistemologi dan keseharian, keberadaan dimensi transendental tidak dapat dinafikan. 

Ini bukan sekadar permainan diksi, melainkan realitas berpikir dalam kerangka filsafat. Secara aksiologis, ilmu yang bersumber dari akal manusia memang tidak boleh dipengaruhi oleh bias moral, nilai subjektif, maupun dogma. 

Hal ini tercermin dalam struktur keilmuan modern, tidak ada cabang "ilmu agama" dalam taksonomi sains. Ada  grand theory yang diturunkan menjadi Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dengan metodologi saintifik, serta Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) yang berkembang dalam berbagai disiplin ilmu sosial dan ilmu humaniora yang juga mempunyai turunan tersendiri. Lantas, mengapa ilmu agama tidak berada dalam tataran tersebut? Jawabannya terletak pada perbedaan objek dan sumber otoritas.

Merujuk pada filsafat ilmu, pertanyaan yang harus diajukan pada ranah sains adalah "Bagaimana". Misalnya, "Bagaimana proses terbentuknya bumi?" atau "Bagaimana mekanisme evolusi biologis?". Pertanyaan tersebut dijawab melalui akal, logika, dan metode empiris. Dari sinilah lahir penelitian ilmiah, baik murni maupun terapan  bertujuan membuktikan hipotesis secara terukur dan objektif. 

Sedangkan dalam konteks agama, pertanyaan yang diajukan adalah "Mengapa". Berkaitan dengan contoh di atas: "Mengapa bumi dan manusia diciptakan?". Agama bersumber dari wahyu dan menuntut tasdiq (pembenaran hati) serta keyakinan yang mendalam. Berbeda dengan sains yang berakar pada akal dan sarat dengan sikap skeptis kritis.

 Dalam persepsi keagamaan, memahami pertanyaan "mengapa" memerlukan pendekatan hermeneutik spiritual dan keimanan. Ibnu Rusy justru tidak mempertentangkan keduanya. Beliau memadukan kedua bidang ini dalam pemahaman dan realisasinya kepada umat. Dampaknya adalah pemahaman bahwa "bagaimana" berasal dari akal (sains), sementara "mengapa" bersumber dari wahyu (agama).

 Ibnu Rusy menamai harmoni ini sebagai Fashl al-Maqal (Pemutusan Perkataan), yang menegaskan bahwa kebenaran wahyu tidak mungkin bertentangan dengan kebenaran akal yang sahih. Keduanya adalah jalan menuju Tuhan yang sama.

Refleksi Historis dan Urgensi Integrasi Peradaban Modern

Mari kita kembali ke penggalan kisah di awal tulisan ini. Islam mampu mencapai puncak peradaban pada abad ke-10 hingga ke-13 karena para ulamanya adalah polymath (cendekiawan serbabisa). 

Para ulama besar saat itu mempelajari segala bidang ilmu tanpa rasa dikotomis. Mereka tidak menganggap ilmu duniawi sekadar sebagai fardhu kifayah yang boleh diabaikan, melainkan memandang bahwa pencarian kebenaran, baik fisik maupun metafisik adalah kewajiban intelektual dan spiritual. Hal ini selaras dengan semangat hadis Nabi Muhammad SAW yang menempatkan menuntut ilmu sebagai ibadah yang menyeluruh.

Namun, pertanyaan kritis muncul menjegal perjalanan peradaban kita: Mengapa saat ini masyarakat Muslim sering berada di barisan belakang dalam tataran ilmu pengetahuan dan inovasi global? Jawabannya terpampang dalam fragmen sejarah modern. 

Masyarakat Muslim hari ini, secara struktural maupun kultural, telah memisahkan ilmu dari agama. Lembaga pendidikan, kebijakan publik, dan wacana intelektual kerap terjebak dalam sekat-sekat dikotomi yang membuat sains berjalan tanpa ruh, dan agama berjalan tanpa daya adaptasi. Secara struktural, pemangku kebijakan belum secara optimal menghadirkan ekosistem yang mampu mengintegrasikan kembali epistemologi wahyu dan akal secara sinergis.

Ibnu Rusy, yang dikenal di Barat sebagai komentator utama Aristoteles, justru menggunakan filsafat dan sains sebagai alat untuk memperkuat kerangka berpikir Islam, bukan melemahkannya. Hal ini merupakan teladan yang wajib direkonstruksi. Begitu pula Al-Khwarizmi, pencetus teori algoritma. Namanya mungkin telah diadopsi menjadi "algorithm" dalam bahasa Inggris, namun akarnya tetap merupakan jejak emas peradaban Islam yang pernah menjadi mercusuar ilmu pengetahuan dunia.

Penutup








di Dari seluruh uraian di atas, menjadi jelas bahwa kebangkitan kembali peradaban Islam tidak akan terwujud selama kita masih mempertahankan paradigma dikotomis yang memisahkan ilmu dari agama, atau memisahkan spiritualitas dari rasionalitas. 

Bagi para akademisi, khususnya mahasiswa doktoral yang tengah mengasah pisau analisis, tulisan ini hendaknya menjadi pemantik untuk berpikir melampaui batas-batas disiplin yang kaku dan berani merajut kembali benang-benang epistemologi yang sempat tercerai-berai.

Integrasi bukan berarti meleburkan metode ilmiah ke dalam dokma, melainkan menciptakan dialog peradaban di mana akal berfungsi sebagai penjelajah fenomena, dan wahyu berfungsi sebagai kompas makna. 

Mari bersama-sama kita bangun kembali khazanah keilmuan yang inklusif, kritis, dan bertauhid, sehingga peradaban Muslim dapat kembali berdiri sejajar, berkontribusi substantif, dan berjalan seiring langkah dengan umat manusia lainnya di atas bumi ini. Wallahu a'lam bisshawab.

Penulis adalah  Mahasiswa Doktoral Program Studi Islam UINSUNA dan Guru SMAN 1Lhokseumawe 








Berita Terkait

Posting Komentar

0 Komentar