Sumber: Dokumen Pribadi
Oleh: Jihan Suada
Di tengah riuhnya kehidupan modern yang
bergerak dalam percepatan yang nyaris tak terkendali, manusia sering kali
kehilangan kemampuan paling mendasarnya, kemampuan untuk berhenti sejenak dan
benar-benar mendengar. Kita hidup dalam sebuah era yang didominasi oleh polusi
suara dan banjir informasi yang datang bertubi-tubi melalui layar gawai.
Fenomena hari ini menunjukkan bahwa
telinga kita terus-menerus dipaparkan pada kebisingan, namun jiwa kita justru
semakin sunyi. Kita dikepung oleh algoritma yang mendikte apa yang harus kita
sukai, apa yang harus kita dengar, dan bagaimana kita harus merasa.
Ruang digital menghadirkan kelimpahan, tetapi juga membentuk kebiasaan baru, menikmati tanpa mengalami, mendengar tanpa menyimak. Bunyi menjadi latar, bukan lagi peristiwa. Padahal dalam banyak tradisi, bunyi selalu menjadi jembatan antara manusia dan ingatan, antara kehidupan sehari-hari dan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar hiburan.
Dari ujung barat Nusantara, ada suara yang
tetap berjalan dengan ritme berbeda. Suara itu tumbuh dari pengalaman kolektif,
dari kesadaran akan akar yang tidak ingin tercerabut. Melalui karya-karyanya,
Rafli Kande menghadirkan musik yang tidak terburu-buru. Nada-nadanya seperti
mengajak orang duduk lebih lama, tinggal lebih dalam, dan merasakan sesuatu
yang tidak bisa diselesaikan dalam sekali dengar.
Di Aceh, musik bukan sekadar pertunjukan.
Ia pernah menjadi penguat saat masa sulit, menjadi penghibur ketika kata-kata
tidak lagi cukup, dan menjadi cara masyarakat menjaga dirinya tetap utuh.
Denting Rapa’i dan alunan instrumen tradisi tidak hanya membentuk melodi,
tetapi juga menghidupkan ingatan tentang kebersamaan, tentang doa, tentang daya
tahan sebuah komunitas.
Lagu-lagu yang ia lantunkan bukan lahir
dari imajinasi kosong, melainkan dari realitas sosial yang nyata. Ia menangkap
kegelisahan petani di sawah, keresahan nelayan di lautan, hingga kerinduan akan
perdamaian yang hakiki. Syair-syairnya yang sederhana namun kaya akan metafora
lokal mengandung kedalaman nilai filosofis yang perlahan-lahan mampu mengubah
cara pandang pendengarnya. Musik dalam konteks ini berubah fungsi dari sekadar
"tontonan" menjadi sebuah "tuntunan".
Yang menarik, musik seperti ini tidak menolak
zaman. Ia berjalan berdampingan dengannya. Tradisi tidak diposisikan sebagai
sesuatu yang jauh di belakang, melainkan hadir dalam langkah hari ini. Bahasa
lama bertemu ruang baru, nilai lama menemukan cara lain untuk berbicara. Ada
kesinambungan yang tidak terasa dipaksakan, seperti air yang menemukan jalurnya
sendiri.
Dari panggung-panggung rakyat yang bersahaja, dari tanah Aceh yang penuh sejarah, perubahan cara berpikir itu mulai tumbuh. Ia tidak tumbuh dengan teriakan yang memekakkan telinga, melainkan tumbuh secara pelan, senyap, namun mengakar kuat di dalam batin setiap orang yang bersedia membuka hatinya. Seni mungkin tidak memiliki kekuatan politik untuk mengubah hukum secara instan, namun seni memiliki kekuatan halus untuk membentuk karakter manusia yang nantinya akan menjalankan hukum tersebut.
Dampak dari konsistensi Rafli mulai terasa
dalam cara masyarakat memandang seni. Kesenian tidak lagi dilihat sebagai
artefak masa lalu yang membosankan, melainkan sebagai kompas yang menuntun masa
depan. Musik menjadi sarana refleksi di tengah kepenatan hidup. Pertunjukan
menjadi ruang pertemuan antar generasi, di mana kakek dan cucu bisa duduk
bersama menikmati irama yang sama namun dengan perspektif yang berbeda. Budaya,
pada akhirnya, menjadi perekat yang menyatukan pengalaman kolektif kita sebagai
sebuah bangsa.
Sementara itu, dunia modern sering
mengukur segala sesuatu dengan kecepatan dan angka. Popularitas menjadi ukuran,
durasi menjadi pertimbangan, dan perhatian menjadi komoditas. Dalam arus seperti
ini, sesuatu yang membutuhkan waktu kerap tampak asing. Kesenian tradisi, yang
tumbuh melalui proses panjang dan penghayatan perlahan, tidak selalu mudah
dipahami dalam budaya yang serba sekejap.
Namun justru di situlah letak kekuatannya.
Ia tidak tergesa-gesa. Ia mengajarkan kesabaran tanpa perlu menjelaskan. Untuk
memainkan satu irama dengan utuh, seseorang perlu mengulanginya berkali-kali,
merasakan jeda, memahami napas. Proses itu diam-diam membentuk sikap tekun,
hormat pada asal-usul, dan sadar bahwa tidak semua hal bisa dipercepat.
Teknologi kerap dituduh menjauhkan manusia
dari budaya, padahal ia hanyalah alat. Di tangan yang tepat, ia dapat menjadi
jembatan yang memperluas jangkauan suara-suara lokal. Tradisi yang dahulu hanya
terdengar di ruang terbatas kini dapat menjangkau generasi yang lahir di tengah
layar. Bukan menggantikan, melainkan mempertemukan.
Seni tidak memaksa, namun ia membentuk. Ia
tidak memerintah, namun ia menuntun. Ia hadir bukan untuk mendominasi,
melainkan untuk melengkapi kekosongan jiwa manusia modern yang sering kali
merasa hampa di tengah kemewahan materi. Kenyataan bahwa kita hidup dalam
kelimpahan benda sering kali menutup fakta bahwa kita sedang mengalami
kemiskinan makna. Di sinilah peran karya-karya seperti milik Rafli Kande
menjadi penyeimbang.
Dalam kondisi masyarakat yang ideal, seni
seharusnya menjadi kompas moral. Namun, apa yang kita lihat di layar televisi
dan media sosial sering kali adalah seni yang hanya mengejar sensasi dan
viralitas. Nilai-nilai luhur digantikan oleh tren sesaat yang tidak
meninggalkan bekas di kalbu. Rafli Kande melawan arus tersebut.
Melalui karya-karyanya, tersimpan sebuah pesan filosofis yang kuat bahwa manusia tidak boleh tercerabut dari akarnya. Ibarat sebuah pohon, semakin tinggi ia menjulang ke langit kemajuan teknologi, semakin dalam pula akarnya harus menancap ke bumi tradisi. Tanpa akar yang kuat, pohon itu akan tumbang saat badai globalisasi menerjang.
Sumber: Dokumen PribadiKetika seni hadir sebagai pengalaman, ia
menyatukan. Orang-orang dari latar berbeda dapat duduk dalam irama yang sama,
merasakan getaran yang tidak memerlukan terjemahan. Tidak ada jarak antara masa
lalu dan masa kini keduanya hadir bersamaan, saling menguatkan.
Kebudayaan akhirnya bukan perkara
mempertahankan bentuk, melainkan menjaga denyutnya tetap hidup. Ia tidak selalu
tampak dalam seremoni besar, tetapi justru terasa dalam hal-hal sederhana cara
orang memainkan musik, mengucapkan syair, atau memberi makna pada kebersamaan.
Di sanalah identitas bertahan bukan sebagai pajangan, melainkan sebagai
pengalaman yang terus diperbarui.
Mari kita jaga dendang itu agar tetap
bergema, melintasi ruang dan waktu, melampaui sekat-sekat digital, hingga ia
menetap abadi sebagai ruh bangsa yang takkan pernah lekang oleh panasnya zaman.
Kebudayaan bukanlah beban masa lalu, ia adalah energi untuk melompat jauh ke
masa depan tanpa harus kehilangan pijakan pada bumi yang kita pijak.
Penulis Adalah Siswa SMA Negeri 1 Lhokseumawe



0 Komentar