Foto: Dokumen Pribadi
Oleh: Masitah Inayah
Dua gunung, hamparan sawah, dan matahari terbit diantara kedua gunung
tersebut. Bagi masyarakat Indonesia, komposisi visual ini telah menjadi semacam
kesepakatan bersama dalam memori pendidikan seni rupa yang diajarkan disekolah
dasar dulu. Fenomena keseragaman gambar sejuta umat ini sering kali dikritik sebagai
“Copy-Paste” kreativitas, namun jika digali lebih dalam, di sinilah sebenarnya
awal mula pembentukan karakter bangsa melalui kesamaan seni.
Warisan metode dari seniman legenda Tino Sidin yang terkenal lewat
kalimat “Ya! Bagus!” Bukan sekedar teknik menggambar, melainkan sebuah
penanaman karakter penting yaitu percaya diri. Seni, dalam bentuk sederhana sekalipun,
terbukti mampu menjadi fondasi untuk memperkuat karakter anak bangsa dengan
memberikan ruang bagi karakter untuk mencoba berani dalam berkarya meski tanpa
kesempurnaan, sekaligus mengenali identitas geografis tanah air. Melalui tulisan ini, diharapkan
pembaca dapat mengetahui dan mengingat kembali bagaimana memori masa kecil tentang
gambar dua gunung dapat menjadi jembatan dengan kreativitas, apresiasi, dan
penguatan jati diri anak-anak bangsa.
Sumber Gambar: (Rinaldi Munir, 2014)
Karakter bangsa dimulai dari apresiasi. Apresiasi melahirkan rasa memiliki. Ketika seseorang sudah memiliki bangsanya, maka karakter jujur, disiplin akan muncul secara alami sebagai bentuk tanggung jawab. Sama halnya dengan karya, karakter bangsa yang maju tercermin dari bagaimana masyarakat menghargai proses dan hasil karya orang lain. Hal ini selalu ditanamkan oleh Tino Sudin.
Beliau
merupakan orang Jawa yang lahir di Tebingtinggi Sumatera Utara tahun 1925. Tino
Sidin selalu tampil khas dalam acaranya di TVRI, topi baret hitam, kacamata berbingkai
tebal khas bapak-bapak ditahun itu, senyum yang ramah dan kata-kata ajaib yang
selalu di ucap yang membuatnya makin dikenal oleh jutaan pemirsa Indonesia:
“Ya! Bagus!.”
Acara Gemar Menggambar yang diasuh oleh Tino ini ditayangkan dalam
warna hitam-putih di salah satu stasiun TV Nasional pada tahun 1978. Eksistensinya
dalam menggambar sangat digemari oleh anak-anak dekade delapan puluhan. Ia menerangkan
teknik gambar yang unik. Tino tidak pernah mengajarkan menghapus, beliau mengapresiasi
anak untuk berani menggoreskan pensil. Setiap garis seperti ada rangkaian
cerita tersendiri, sekali tarik harus diselesaikan.
Sesi yang paling menyenangkan dan ditunggu-tunggu oleh penonton
pencinta acara ini adalah saat Tino Sidin menunjukkan gambar-gambar kiriman
dari seluruh anak seindonesia. Gambar yang dikirim beragam dan dari daerah yang
berbeda-beda pula, visual yang ditampilkan polos dan sederhana sesuai dengan
usia anak-anak tersebut. Namun, sejelek apapun, Tino Sidin selalu menghargai karya
kiriman-kiriman itu.
Tino Sidin tidak pernah mengkritik jika warna langitnya tidak biru, tanahnya
yang berwarna ungu atau ayam yang berwarna hijau menyala. Semua nya bagus. Menurutnya,
membuat anak suka menggambar adalah prinsip dari mengajarnya. Poin utama dari
sistem pendidikan seni beliau adalah apresiasi sederhana yang terletak pada
kalimat sakti “Ya! Bagus!”. Apresiasi ini memiliki makna filosofis yang
mendalam. Beliau memahami bahwa seni adalah cara untuk mengekspresikan jiwa,
seni tidak bisa dipaksakan oleh standar estetika, seni akan benar-benar
terlihat sempurna jika dibuat dengan rasa bebas. Di dalam seni yang kita cari
adalah jiwa, pesan dan cerita.
Apresiasi kecil yang selalu Tino Sidin tunjukkan adalah bentuk validasi
yang dapat membentuk karakter percaya diri. Ketika seorang anak merasa karyanya
dihargai, walaupun hanya berupa goresan yang sederhana, ia sedang belajar bahwa
suara dan ekspresinya telah diakui oleh dunia. Seni dapat mengajarkan bagaimana
membentuk mentalitas yang kuat.
Menggambar sama saja dengan mengarang cerpen, menulis lagu dan membuat
tarian. Visual tentang 2 gunung dan hamparan sawah sebenarnya menunjukkan
kondisi geografis negara Indonesia sebagai negara agraris. Bukan sekedar objek
gambar, gunung-gunung vulkanik yang menjulang dan tanaman sawah yang subur menjadi
simbol penting yang sudah menemani kehidupan masyarakat Indonesia sejak
berabad-abad lamanya. Selain itu, adanya gambar ikonik matahari di antara kedua
gunung yang terkadang anehnya mempunyai mata dan hidung, menyimpulkan bahwa
negara Indonesia adalah negara tropis yang selalu mendapat cahaya matahari
sepanjang tahun. Secara tidak sadar, komponen ini menjadi pemahaman dasar yang
memperkenalkan anak-anak tentang kondisi bentang alam tanah airnya.
Dalam kesederhanaan gambar kedua
gunung ini, telah berhasil menyatukan persepsi kita tentang keindahan alam.
Ikatan kuat ini lahir dari rasa keyakinan akan bentuk nasionalisme yang kita
lukis bersama sejak kecil. Di sinilah seni bekerja, ia menyatukan kita dengan
rasa persatuan yang tidak perlu diteriakkan. Rasa cinta tanah air tercipta dan
menyelinap lewat gambar dua puncak gunung yang kokoh dan sawah hijau. Bayangkan,
di saat yang bersamaan anak kota di Jakarta dan di ujung pulau Papua menarik
garis yang sama di atas lembaran putih. Mereka mungkin memakai dialek yang
berbeda, beribadah dengan cara yang tak sama, namun tumpah ide yang identik
tentang dunia menyentuh kertas putih.
Sering kali pelajaran menggambar disekolah menggunakan kurikulum yang
sebaliknya. Banyak dari mereka yang memandang sinis tentang gambar kedua gunung
dan hamparan sawah ini sebagai tembok penghalang imajinasi anak-anak. Mereka
khawatir bahwa kreativitas generasi muda telah di satukan dalam sebuah kotak memori
yang sempit dan seragam. Namun, jika kita melihat dalam konteks pembentukan dan
penguatan karakter bangsa, gambar sejuta umat ini adalah pijakan dasar bagaimana
karakter inovatif tumbuh. Kreativitas, sejatinya
tidak tumbuh dari ruang hampa yang kosong. Ia membutuhkan titik awal. Di
sinilah seni memainkan peran sebagai rasa aman untuk memulai. Saat seorang anak
sudah merasa mahir untuk menggambar kedua gunung, pelan-pelan ia akan merasa
bosan dan mulai menambahkan beberapa sentuhan. Ada yang menyisipkan dua jalan
yang seolah membelah kedua gunung tersebut, lalu ada juga yang mewarnai
langitnya dengan warna merah jingga yang tegas, dan ada yang menambahkan
kendaraan beroda dua di sepanjang ruas jalannya. Fenomena ini adalah bentuk
evolusi dari tradisi visual dua gunung.
Seni mengajarkan kita bahwa keseragaman di masa kecil adalah sebuah
awal, sebuah bahasa pemersatu sebelum kita menemukan gaya unik tersendiri. Dari
jutaan pasang tangan yang pernah menggambar dua gunung, satu matahari dan
hamparan sawah yang sama, lahir puluhan ribu arsitek, desainer, dan seniman yang
hebat. Mereka tidak lagi menggambar dua gunung yang sama, tetapi sudah punya
cara masing-masing untuk menggambarkan keindahan tanah airnya.
Pesan “Ya! Bagus!” dari Tino Sidin adalah sebuah metode sederhana yang
tak terbilang harganya. Ia mengajarkan bahwa seni bukan tentang kompetisi siapa
yang paling mirip dengan obyek aslinya, melainkan tentang keberanian untuk
membubuhkan isi pikiran kita di atas kertas kosong. Seni telah berhasil
memperkuat karakter bangsa dengan cara yang paling sederhana namun abadi. Ia
menyatukan kita dalam satu memori, satu rasa, dan satu harapan.


0 Komentar