Oleh: Nada Aulia Syahira
Dalam dunia pendidikan, sering kali kita mendengar bahwa hasil tidak akan mengkhianati proses. Namun, bagi Syaza Kalyca Ihsan atau yang akrab disapa Caca perjalanan menuju perguruan tinggi impian bukan sekadar soal angka di atas kertas, melainkan sebuah proses pendewasaan diri dan keberanian untuk keluar dari zona nyaman.
Lahir di Lhokseumawe pada 19 Juli 2008, Caca merupakan putri sulung dari pasangan Bapak Mirdha Ihsan, S.STP., dan Ibu Lissa Yoesfianda, S.STP., M.AP. Tumbuh besar di lingkungan Keude Aceh, Caca dikenal sebagai sosok yang memiliki minat beragam.
Mulai dari asyik menonton balapan F1 di setiap race week, menyelami alur cerita dalam film dan serial, hingga menyalurkan sisi kreatifnya melalui crafting, melukis, memasak, dan sesekali bernyanyi. Siapa sangka, kombinasi minat seni dan ketelitian ini nantinya menjadi kompas yang menuntunnya memilih jalan masa depan.
Perjuangan Caca dimulai dengan langkah yang mengalir apa adanya. Pada awalnya, ia tak ingin terlalu berekspektasi tinggi. Ia cenderung bersikap realistis, terutama saat melihat ketatnya persaingan masuk perguruan tinggi dan sempitnya waktu untuk mempersiapkan Tes Kemampuan Akademik (TKA). Pikiran untuk merantau ke luar Pulau Sumatera pun sempat ia tepis jauh-jauh.
Namun, titik balik mulai terasa saat ia duduk di bangku kelas akhir. Atas dorongan sang Ibunda, Caca mulai mengikuti bimbingan belajar dengan mengambil mata pelajaran pilihan Fisika dan Matematika Tingkat Lanjut.
Di sela-sela tumpukan rumus dan latihan soal, ia mulai melakukan riset mendalam tentang jurusan yang sekiranya cocok dengan jiwanya. Perhatiannya sempat tertuju pada jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK).
Harapan sempat goyah ketika hasil pemeringkatan siswa eligible keluar. Caca menempati peringkat ke-12 di sekolahnya. “Jujur, saat itu harapan aku sedikit pupus sempat merasa pesimis kenangnya” Namun, sebuah nasihat menggugah kembali semangatnya SNBP adalah tempat untuk menjadi idealis.
Berbekal keyakinan itu, Caca memutuskan untuk tetap membidik universitas top 10 di Pulau Jawa. Dukungan penuh pun mengalir dari kedua orang tuanya yang juga merupakan alumni perguruan tinggi di Jawa. Restu orang tua menjadi bahan bakar utama bagi Caca untuk memantapkan pilihannya.
Muhammad Firas Sabiq, Sosok Siswa SMAN 1 Lhokseumawe yang Tembus Kedokteran USK Melalui Jalur SNBP
Setelah melalui berbagai sesi konsultasi mulai dari guru sekolah, tutor bimbel, hingga tes minat bakat khusus Caca menemukan sebuah titik terang. Meski banyak yang menyarankannya mengambil Arsitektur, ia merasa kurang sreg. Pencariannya berakhir ketika ia menemukan jurusan Arsitektur Lanskap di Institut Pertanian Bogor (IPB) University.
“Rasanya pas, langsung klop saja,” ungkapnya. Pilihan pun dijatuhkan Arsitektur Lanskap IPB sebagai pilihan pertama, dan Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Syiah Kuala (USK) sebagai pilihan kedua.
Selama masa penantian yang penuh debar, Caca tidak berpangku tangan. Ia tetap memacu diri belajar untuk persiapan UTBK, mengantisipasi segala kemungkinan.
Di atas itu semua, ia memperkuat sisi spiritualnya. Doa dan ibadah menjadi penenang di tengah ketidakpastian. Usaha yang dibarengi dengan penyerahan diri sepenuhnya kepada Sang Pencipta akhirnya membuahkan hasil manis. Caca dinyatakan lulus pada pilihan pertama: Arsitektur Lanskap IPB. Banyak orang bertanya tentang strategi belajar seorang Caca. Menariknya, ia tidak memiliki rumus rahasia yang kaku. Baginya, kunci utama adalah keseimbangan mental.
“Kalau aku merasa overwhelmed, aku selalu izinkan diri sendiri untuk istirahat satu atau dua hari. Jangan dipaksakan,” tuturnya. Namun, ia menekankan tanggung jawab tetap yang utama. Istirahat bukan berarti meninggalkan kewajiban tugas sekolah harus tetap diselesaikan dengan baik.
Selain manajemen waktu, pengorbanan terbesar Caca justru bersifat internal. Sebagai seorang yang sebelumnya sangat introvert dan pemalu, ia berjuang keras mengorbankan zona nyamannya untuk menjadi pribadi yang lebih terbuka dan berani. Baginya, stabilitas nilai memang penting, tetapi pertumbuhan karakter jauh lebih berharga.
Menutup ceritanya, Caca memberikan pesan hangat bagi adik-adik kelas 10 dan 11 yang kini tengah berjuang. Menurutnya, mengejar impian harus dibarengi dengan pemahaman diri yang mendalam.
“Tetap kejar impian kalian, tapi sesuaikan dengan diri sendiri. Jangan asal pilih hanya karena ikut-ikutan. Jangan pernah pesimis, yakinlah bahwa kalian mampu,” pesannya. Ia juga mengingatkan agar tidak pernah memutus jalur komunikasi dengan Tuhan. “Minta sama Allah, doa sebanyak-banyaknya. InsyaAllah, kalian akan diberi pilihan yang terbaik.”
Kini, Syaza Kalyca Ihsan siap melangkah ke Bogor, membawa segenggam mimpi dari Lhokseumawe untuk ditanam dan ditumbuhkan di Arsitektur Lanskap IPB. Sebuah bukti bahwa dengan keberanian, restu orang tua, dan doa, jarak antara mimpi dan kenyataan hanyalah soal waktu.
Penulis adalah Siswa Kelas XI-2 Unggul SMAN 1Lhokseumawe

0 Komentar