Foto: Dokumen Pribadi
Lhokseumawe, Sastrapuna.com, Masa remaja bagi sebagian orang mungkin hanya soal belajar dan bermain. Namun bagi Kafka Nafisa, siswi SMAN 1 Lhokseumawe, tiga tahun masa SMA adalah sebuah perjalanan pendewasaan yang sarat akan air mata, kegagalan, hingga kemenangan manis di pengujung sekolah.
Kafka, remaja kelahiran Lhokseumawe, 23 November 2007 ini, tumbuh besar di bawah didikan ibunya, Henni Diana, yang ia sebut sebagai sosok wanita tangguh. Ketangguhan itu tampaknya menurun pada Kafka, terutama saat ia harus menghadapi dinamika sekolah yang tidak biasa.
Berpindah Sekolah dan Menemukan "Suara"
Sejak jenjang SMP, Kafka sudah terbiasa dengan perubahan. Dalam kurun waktu tiga tahun, ia harus berpindah ke tiga sekolah berbeda, mulai dari Lhokseumawe hingga Banda Aceh. Bukannya merasa terbebani, ia justru melihat hal ini sebagai peluang untuk mengasah kemampuan komunikasi. "Itu tidak menjadi halangan bagi saya untuk mengenal teman-teman dengan pengalaman berbeda yang justru mengajari saya banyak hal," ujar Kafka kepada Sastrapuna.com.
Puncaknya, saat memasuki SMAN 1 Lhokseumawe, Kafka memutuskan untuk menyeriusi bidang public speaking. Baginya, ilmu berbicara di depan umum bukan sekadar soal retorika."Saya belajar bahwa berani berbicara bukan tentang menjadi yang paling hebat, tapi tentang tidak takut untuk didengar. My voice is my power," tegasnya.
Eksistensinya di sekolah pun dibuktikan melalui sederet prestasi, mulai dari Duta Sadar Hukum, juara lomba pidato, anggota tim debat, hingga peserta Olimpiade PKN dan aktif dalam berbagai kegiatan volunteer.
Bangkit dari Kegagalan dan Lingkungan "Toxic"
Namun, jalan Kafka tidak selalu mulus. Ia sempat merasakan kekecewaan mendalam saat gagal meraih juara pertama dalam sebuah kompetisi yang sangat ia harapkan. Di titik itulah, mentalitasnya diuji."Saya yakin di setiap perlombaan pasti ada kalah dan menang. Kafka berada di titik ini saja sudah keren, dan akan lebih mengecewakan jika saya tidak berani mencoba lagi. Kegagalan adalah batu loncatan," ucapnya mengenang masa itu.
Tak hanya soal prestasi, Kafka juga bicara terbuka mengenai tantangan sosial yang ia hadapi. Di tengah perkembangannya, ia tak jarang menerima pandangan negatif hingga dikhianati oleh lingkungan pertemanan yang ia anggap baik atau "musuh dalam selimut". Bagi Kafka, keluar dari zona toxic adalah kunci ketenangan jiwa. Ia memegang teguh prinsip untuk menjadi diri sendiri dan tidak memedulikan komentar buruk yang menghambat kemajuannya.
Akhir Manis di Universitas Syiah Kuala
Masa-masa terpuruk sempat membuatnya kesulitan tidur dan merasa tertekan setiap pagi. Namun, Kafka mengaku selalu berpegang pada keyakinan spiritualnya. "Saya ingat satu kalimat indah, bahwa Allah telah berjanji di setiap kesempitan yang kita jalani, ada kemudahan dan bahagia luar biasa yang menunggu di depan," tuturnya.
Janji itu akhirnya terbayar tunai. Kafka dinyatakan lulus jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) di Universitas Syiah Kuala (USK), jurusan Ilmu Komunikasi, pilihan pertama yang ia impikan sejak masuk SMA.
Perpisahan yang Haru
Selasa (7/4/2024), menjadi hari terakhir bagi Kafka belajar di dalam kelas bersama rekan-rekannya. Suasana haru menyelimuti momen perpisahan dengan teman-teman kelas XII-9 dan X-8.Secara khusus, Kafka menyampaikan rasa terima kasihnya kepada para sahabat terdekatnya, Cut Fadilla, Putri Raihana, dan Thifal Farisha yang selalu setia mengulurkan tangan baik dalam suka maupun duka.
Menutup perjalanannya, Kafka meninggalkan pesan mendalam untuk para adik kelasnya"Jangan pernah berhenti bermimpi, dan pandai-pandailah dalam memilih teman. Tetap terus berkembang karena kesuksesan hidup ada di tangan kalian sendiri," pungkasnya.
Editor: Muklis Puna

0 Komentar