Keisha Alifia Shafira Siswa SMAN1Lhokseumawe, Menenun Doa Orang Tua Menjadi Jembatan Masa Depan di Teknik Sipil USK

 


Foto : Dokumen  Pribadi

Di tengah deru angin kota Lhokseumawe, lahir seorang gadis dengan tekad yang melampaui usianya. Keisha Alifia Shafira, atau yang lebih akrab disapa Kei, memulai perjalanan hidupnya pada 23 Maret 2008. 

Tumbuh besar di lingkungan hangat Jalan Bakau, Kampung Kramat, Kei dibesarkan dalam balutan kasih sayang kedua orang tuanya, Bapak Junaidi dan Ibu Sri Yanti. Bagi Kei, setiap sudut rumah dan setiap langkah yang ia ambil di sekolah adalah bagian dari sebuah janji besar untuk membahagiakan keluarga yang telah menjadi akar kekuatannya.

Dunia sekolah bagi Kei bukan sekadar tempat menuntut ilmu, melainkan panggung untuk menantang diri. Kedisiplinan yang tinggi membawanya menjadi bagian dari anggota Paskibraka tahun 2024, sebuah pengalaman yang membentuk mentalitas tangguh dan jiwa patriotisme dalam dirinya. 

Namun, di balik seragam gagah Paskibraka tersebut, Kei menyimpan sisi lembut seorang pujangga. Ia adalah pribadi yang mencintai literasi, terbukti dengan prestasinya merengkuh Juara 2 Lomba Cipta Puisi serta dedikasinya sebagai Duta Literasi. 

Kemampuannya mengolah kata juga ia asah melalui berbagai ajang lomba pidato, membuktikan bahwa ia mampu menyeimbangkan ketegasan fisik dengan kehalusan budi pekerti.

Rahasia di balik kegigihan belajar Kei terletak pada sebuah pengingat sederhana namun menyentuh yang selalu ia bawa setiap kali melangkah ke sekolah. Baginya, setiap helai keringat dan jerih payah kedua orang tuanya untuk menyekolahkannya adalah utang kehormatan yang harus dibayar dengan prestasi. 

Ia bertekad untuk tidak pernah mengecewakan mereka. Motivasi murni inilah yang kemudian mengantarkan Kei menjadi salah satu siswa eligible yang terpilih untuk melompat lebih tinggi ke jenjang pendidikan tinggi.

Kini, senyum syukur terpancar dari wajahnya saat doa-doa panjangnya diijabah oleh Tuhan. Berkat restu tak terputus dari orang tua serta dukungan hangat dari teman-teman tercintanya, 

Kei berhasil lolos melalui jalur SNBP di Universitas Syiah Kuala. Ia kini bersiap menempuh pendidikan di Fakultas Teknik, Jurusan Teknik Sipil. Sebuah pencapaian yang membuktikan bahwa kombinasi antara kerja keras, bakti kepada orang tua, dan dukungan sosial adalah kunci pembuka pintu kesuksesan.

Menatap masa depan yang membentang luas, Kei tidak ingin maju sendirian. Ia menitipkan pesan mendalam bagi adik-adik kelasnya yang masih berjuang untuk tetap teguh dan jangan pernah lelah dalam menggapai cita-cita. 

Bagi Kei, perjalanan ini bukanlah tentang mencapai titik tanpa cela, melainkan tentang keberanian untuk terus bergerak. Sesuai dengan motto hidup yang selalu ia pegang teguh: "Hidup adalah tentang terus maju, bukan tentang sempurna." Lewat kisahnya, Kei mengajarkan kita bahwa kesuksesan adalah milik mereka yang menghargai proses dan tidak pernah lupa kepada siapa mereka berterima kasih.


Redaksi Sastrapuna.com

Berita Terkait

Posting Komentar

0 Komentar