Foto: Dokumen Pribadi
Oleh: Amelia Andani
Melly adalah anak tunggal yang cemerlang. Di sekolah, ia dikenal sebagai murid berprestasi. Di rumah, ia adalah putri kesayangan yang sangat dimanjakan oleh Papa dan Mamanya. Baginya, mendapatkan apa yang ia inginkan bukanlah hal sulit.
Namun, hubungannya dengan Farel, yang dimulai sejak bangku SMP dan berlanjut hingga kini di SMAN 3 Bandung, memberinya sesuatu yang berbeda sebuah ruang di mana ia tidak perlu menjadi siapa-siapa. Farel, yang hidup hanya berdua dengan ibunya sejak ayahnya tiada, memiliki kedewasaan yang melampaui usianya.
Cerpen: Semesta di Ujung Lorong
Mereka tidak pernah benar-benar menjadi sepasang kekasih. Tidak ada ucapan “jadian” atau status yang diumumkan. Akan Tetapi, mereka tahu, mereka saling tahu. Rasanya, mereka adalah dua jiwa yang saling melengkapi satu sama lain.
Di antara riuh rendahnya Bandung, kota tempat mereka tumbuh, Jogja memiliki tempat yang Istimewa. Perjalanan mereka ke sana setahun yang lalu bukan sekadar liburan biasa. Terutama di Malioboro, setiap langkah yang pernah mereka jejakkan di aspalnya seolah mengukir kenangan abadi. Di sanalah suara tawa mereka berbaur dengan musik jalanan dan tatapan mata mereka yang menyimpan janji bisu.
Karena itulah kabar mengenai study tour sekolah ke Jogja bulan depan menjadi angin segar. “Kamu harus ikut, Mel. Nanti aku ajak kamu ke tempat-tempat yang belum pernah kita datangi,” ujar Farel dengan mata berbinar, seolah Jogja adalah miliknya.
Smansa: Bukan Sekadar Mimpi
“Asal sama kamu, aku pasti ikut,” jawab Melly sambil tersenyum. Janji itu terasa begitu nyata, menggantung di udara, sehangat obrolan hangat hingga larut di angkringan favorit.
Namun, semua rencana itu menguap begitu saja. Suatu malam, ketika Farel mengantarkan Melly ke depan pagar rumahnya, ia tidak memberikan tatapan yang lama, hanya berkata lirih, “Besok aku harus ke luar kota, Mel. Nggak bisa bilang kenapa sekarang. Tapi suatu hari Nanti... aku pulang.”
Melly tak mampu mencerna ucapan Farel. “Keluar kota? Terus study tour kita gimana? Bukannya kita udah janji?” desaknya, menuntut penjelasan atas janji yang mendadak dipatahkan.
Farel tidak menjawab pertanyaan itu. Ia justru tertawa ringan, sebuah tawa yang terdengar hambar dan penuh rahasia. “Hahaha, sudah-sudah. Aku pulang dulu, ya, Mel. Good night”
Malam itu, Melly duduk di meja belajarnya, namun pikirannya melayang jauh dari buku-buku di hadapannya. Ketukan pelan di pintu kamarnya membuyarkan lamunannya.
“Sayang, belum tidur?” Papanya masuk sambil membawa secangkir susu hangat, kebiasaannya sejak Melly kecil. “Ini, minum dulu.”
Melly hanya tersenyum tipis.
Papanya duduk di tepi ranjang, menatap putri kesayangannya dengan penuh kasih. “Kenapa malam ini anak Papa kelihatan sedih? Ada masalah di sekolah, atau cuma capek?”
Melly menggeleng pelan, enggan membebani Papanya. Tapi ia tak bisa menahan kegelisahannya. “Nggak apa-apa, Pa. Cuma... tadi sebelum pulang, Farel aneh.”
Cerpen: Semesta di Ujung Lorong
Papanya tersenyum menenangkan sambil mengusap lembut kepala Melly. “Oh, Farel. Kenapa dia?”
Melly hanya menggelengkan kepalanya lagi, seolah tak tahu harus memulai dari mana untuk menjelaskan perasaan janggalnya.
Melihat itu, Papanya tak mendesak lebih jauh. “Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan, Nak. Mungkin hanya perasaanmu saja. Sudah malam, sekarang susunya diminum, terus tidur ya. Selamat tidur, anak Papa.”
Namun, perkataan Papanya tidak membuat hatinya tenang. Keesokan harinya, firasat buruk Itu terbukti. Semua akun media sosial Farel menghilang. Nomor teleponnya tidak lagi aktif. Farel seolah menghapus dirinya dari kehidupan Melly.
Hari-hari setelahnya adalah lorong panjang yang sunyi bagi Melly. Ia tetap menjalani Rutinitas SMA-nya, tetapi selalu dengan satu pertanyaan yang membunuhnya perlahan: Kenapa?
Rindu dan benci berbaur menjadi satu. Ia benci karena Farel pergi tanpa kejelasan. Ia benci Karena dirinya sendiri masih menunggu. Malam-malam yang hening hanya semakin menegaskan bahwa kepergian Farel meninggalkan ruang hampa yang tak tergantikan.
Bulan pun berganti, dan hari keberangkatan study tour semakin dekat. Melly ragu. Jogja Bukan lagi sekadar kota kenangan, melainkan juga kota dari janji yang diingkari. Akan tetapi, entah mengapa, ia tetap menandatangani formulir keikutsertaan.
Hari yang dinanti pun tiba. Sore di Malioboro memeluknya dengan cahaya lampu jalan yang hangat. Ia berjalan perlahan, syal cokelat pemberian Farel saat mereka di Jogja setahun lalu masih melingkar di lehernya. Tiba-tiba, ponselnya berdering. Nomor tak dikenal.
“Halo?”
“Melly...” Suara di seberang terdengar serak. “Ini Tante Diana.”
Hati Melly langsung berdebar. “A-ada apa, Tante?”
Hening sejenak, lalu suara itu pecah oleh isak tangis. “Farel... sudah nggak ada, Nak. Dia... dia mengidap gagal jantung bawaan. Seharusnya dioperasi di luar kota, tapi... Tuhan lebih sayang sama dia.”
Langkah Melly terhenti. Lampu-lampu Malioboro tampak kabur. Syal di lehernya mendadak Terasa menyesakkan.
Tante Diana menarik napas panjang. “Tante minta maaf, Mel. Tante nggak pernah kasih tahu kamu karena ini permintaan Farel. Dia nggak mau kamu khawatir. Dia tahu umurnya nggak akan panjang... bahkan sebelum dia pergi.”
Air mata Melly luruh begitu saja. “Tapi... kenapa dia pergi tanpa... tanpa pamit yang benar?”
“Dia pamit, Nak... dengan caranya sendiri. Dan ada satu hal lagi. Farel menitipkan sebuah kotak untukmu. Dia bilang, kalau suatu hari dia sudah nggak ada, kotak itu harus sampai di tanganmu.”
Hening. Hujan mulai turun, rintiknya menyentuh aspal Malioboro.
“Melly, kotak itu ada di rumah Tante di Bandung. Datanglah kalau kamu sudah siap,” suara Tante Diana melembut.
Melly berdiri mematung di tengah trotoar, memandangi air hujan yang jatuh menyentuh aspal. Ia merasa seperti seseorang yang telah menemukan jawaban... tetapi dengan harga yang tak pernah ia bayangkan. Malam itu, langit Jogja ikut menangis bersamanya, menyapu langkah-langkah kecil yang pernah ia jalani bersama Farel.
Hujan turun semakin deras, membasahi setiap langkah Melly yang kini terhenti di tengah jalan Malioboro. Tangannya bergetar saat menggenggam ponsel. Dalam kotak itu, kelak, ia akan menemukan surat yang berisi semua jawaban mengapa Farel pergi, mengapa ia memilih diam, dan betapa ia sangat mencintai Melly hingga detik terakhirnya.
Janji yang Terbisik dalam Mimpi
Malam itu, Jogja kembali menyimpan jejak langkah Melly. Namun kali ini, sebuah jejak yang penuh dengan air mata.
“Di bawah hujan Malioboro malam itu, langkahku terhenti bukan karena lelah, tetapi karena Farel telah pergi untuk selamanya.” Melly
Penulis adalah Siswa Kelas XI-2 Program Unggulan SMAN 1 Lhokseumawe

0 Komentar