Foto: Dokumen Pribadi
Oleh:
Kirana Putri Andriani Tarigan
Seorang kakak beradik, Fajar dan Mentari,
menempati sebuah rumah tua di pinggir kota. Kehidupan mereka sederhana, dihiasi
tumpukan buku dan aroma kopi yang senantiasa mengepul.
Fajar, yang pendiam dan
serius, berbanding terbalik dengan Mentari yang periang dan penuh semangat.
Meski begitu, keduanya saling melengkapi.
Sejak kecil, Fajar menjadi figur pelindung
bagi Mentari. Ia rela mengorbankan waktu dan mimpinya demi memastikan Mentari
bisa melanjutkan pendidikan.
Sementara itu, Mentari adalah satu-satunya orang
yang bisa membuat Fajar tersenyum dan membuka diri. Hidup mereka mengalir
damai, diselingi tawa dan pertengkaran kecil yang justru semakin menguatkan
ikatan batin.
Namun, di balik kehangatan itu, sebuah rahasia
terpendam. Surat misterius tiba, memicu kembali kenangan pahit masa lalu yang
selama ini mereka kubur dalam-dalam.
Surat itu mengancam untuk merusak semua
yang telah mereka bangun, memaksa Fajar dan Mentari menghadapi kenyataan bahwa
masa lalu tidak pernah benar-benar mati dan bahwa ikatan mereka akan diuji.
Surat yang tak mereka harapkan kedatangannya
itu ditemukan Mentari di kotak pos rumah mereka. Saat hendak menjemur pakaian,
ia menyadari kotak posnya terbuka. “Kenapa kotak pos itu terbuka?” gumamnya,
menduga ada orang iseng. Ia berjalan mendekat dan terkejut melihat sebuah surat
di dalamnya sudah lama sekali rumah itu tak menerima kiriman pos.
Mentari meletakkan ember berisi pakaian di
kursi depan rumah. Dengan perasaan bercampur aduk, ia membuka amplop itu.
“Amplop apa itu, Dek?” tanya Fajar, heran.
“Tidak tahu, Kak. Aku menemukannya di kotak
pos. Terkejut sekali ada surat di sana,” jawab Mentari seraya membuka amplop.
Isi surat itu membuat mereka terperangah:
sebuah pernyataan bahwa orang tua mereka, yang telah tiada, masih memiliki
utang kepada rentenir. Setelah membaca, mereka saling bertatapan tak percaya.
Jumlah utang itu begitu besar, cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka selama
tujuh bulan ke depan.
“Bagaimana ini, Kak? Untuk makan sehari-hari
saja kita pas-pasan. Nominal sebesar ini sangat sulit kita lunasi,” ujar
Mentari dengan suara bergetar dan jiwa yang lemas.
“Tenang, Dek. Nanti kakak coba mencari
pekerjaan tambahan dan juga pinjaman untuk melunasi utang Bapak Ibu agar
bunganya tidak semakin bertambah,” ucap Fajar, berusaha meyakinkan Mentari
dengan tatapan penuh percaya diri.
“Baik, Kak. Semoga Kakak mendapatkan pekerjaan
yang bagus. Nanti aku juga akan menitipkan jualanku ke warung-warung agar lebih
banyak laku,” jawab Mentari, sembari menatap nominal utang peninggalan orang
tuanya.
Keesokan harinya, Fajar berkeliling mencari
pekerjaan tambahan. Ia melamar ke sana kemari, namun tak ada yang memberinya
kesempatan. Fajar pun pulang dengan tubuh lesu dan putus asa. Ia berpikir
keras, tidak ada pilihan lain selain pergi meninggalkan rumah, mencari
pekerjaan di luar kota agar bisa membayar semua utang orang tuanya.
“Tolong, Kak! Kakak jangan pergi!”
Suara Mentari terdengar serak di tengah hiruk
pikuk rumah yang nyaris kosong. Sebagian tas sudah diangkut ke dalam bus,
menyisakan kekosongan yang menyesakkan di hati Mentari. Ia memeluk erat kaki
sang kakak, Fajar, yang kini sudah siap dengan tas ransel di punggungnya.
“Mentari, Kakak harus pergi. Kakak tidak punya
pilihan lain,” jawab Fajar sambil berusaha melepaskan pelukan adiknya. Wajahnya
terlihat lelah dan putus asa.
Keluarga mereka terlilit utang besar. Utang
itu ternyata bukan baru, melainkan utang lama orang tua mereka yang selama ini
disembunyikan. Utang yang kini harus mereka bayar dengan satu-satunya harta
yang tersisa, yaitu rumah mereka.
Selain masalah utang, ada masalah lain yang
membuat Fajar frustrasi. Sebulan yang lalu, ia dipecat dari pekerjaannya. Fajar
dituduh melakukan penggelapan dana, padahal ia tidak melakukannya. Ia merasa
dijebak oleh rekan kerjanya. Fajar tahu siapa pelakunya, tetapi ia tidak punya
bukti. Fajar benar-benar merasa putus asa.
“Mentari, Kakak janji akan kembali. Kakak akan
cari uang di kota. Kakak akan bayar utang-utang itu. Kakak janji!”
Mentari menggelengkan kepalanya. Ia tidak mau
sang kakak pergi. Ia takut Fajar akan pergi untuk selamanya dan tidak kembali
lagi.
“Mentari, jangan seperti ini. Kakak akan
kembali.”
Fajar mencium kening adiknya. Ia tidak bisa
menahan air matanya. Dengan berat hati, Fajar meninggalkan adiknya yang masih
menangis. Ia harus pergi, ia tidak punya pilihan lain.
Fajar berjalan menuju pintu. Ketika ia
membukanya, Mentari melihat ada sebuah amplop putih di depan pintu rumah
mereka. Mentari mendekati amplop itu, mengambilnya, dan membukanya. Di dalamnya
ada banyak sekali uang, serta sebuah surat. Mentari membaca surat itu.
“Fajar, ini uang yang kau butuhkan. Pergilah.
Mulai hidup baru. Aku tahu kau tidak bersalah.”
Mentari menangis. Ia tidak tahu siapa yang
mengirimkan uang itu. Fajar juga tidak tahu. Tetapi, satu hal yang pasti: Fajar
tidak perlu pergi. Fajar dan Mentari bisa kembali hidup. Mereka bisa membayar
utang-utang mereka.
Fajar dan Mentari kembali ke dalam rumah.
Mereka duduk di ruang tamu, berpelukan. Mereka tidak tahu siapa pengirim uang
itu, tetapi mereka tahu bahwa keajaiban itu nyata. Keajaiban itu datang saat
mereka benar-benar membutuhkan.
Penulis adalah Siswa Kelas XI-1 Program Unggul SMAN 1
Lhokseumawe
0 Komentar