Foto: Dokumen Pribadi
Oleh: : Rafa Muhammad Putra Rizal
Hai, perkenalkan namaku Zainal berusia 15 tahun . Aku adalah anak tunggal sebatang kara yang tak pernah melihat wajah kedua alm orang tua ku.
Mereka meninggal karna kecelakaan ketika hendak bepergian. Sekarang aku hanya hidup berdua bersama nenekku.
Namun,nenek mempunyai seorang anak yang kerap ku panggil Om Tama. Beliau adalah abang dari alm ayahku.tetapi Om Tama tak mau tinggal bareng dengan kami,karna ia sudah kecanduan judol dan sekarang tinggal di perkotaan.
Cerpen :Warisan Tak Diharapkan
“Selamat tinggal ibu yang payah, nanti Tama akan sukses dan tidak tinggal lagi di rumah sempit ini”itulah kata kata yang terakhir ku dengar dari beliau.sudah sekitar 7 tahun sejak aku terakhir melihat wajahnya.
Aku sangat bersyukur karna masih ada nenek yang mau menerimaku, sebab. Saudara dan saudari kedua orang tua tidak menyukai pernikahan mereka yang merupakan kawin lari. Sehingga, tak mendapatkan restu dari keluarga. Beruntung nya.
Ibu dari ayahku atau nenek masih sangat menyayangi ayahku, dan mau menerima aku untuk tinggal bersama nenekku,kami tinggal di desa Jeumpa.
Neneknya dikenal sebagai orang yang sangat ramah dan sangat baik kata orang lokal, memang bener sih nenek adalah orang yang sangat ramah.
Ia bahkan cepat akrab dengan orang yang ditemui dan mau membantu masalah yang ada di desa. “nek ros orangnya sangat baik torangnyeau”ucap orang lokal.
Nenek ku berjualan roti boi setiap harinya dan aku selalu membantunya setiap jam 04:00 pagi. Setiap Jumat nenek menyedekahkan roti boi ke meunasah desa
Namun, suatu hari aku melihat ada keanehan pada diri nenekku. Malam itu nenek terlihat sangat lesu, mukanya pucat, dan badannya terasa sangat panas.
Tekad Berlapik Sepatu Usang
Melihat hal ini, aku menyuruh nenek ku untuk segera pergi ke puskesmas desa. Namun, nenek tak mau pergi karna ia merasa dirinya akan baik baik saja.akan tetapi,
Tiba-tiba nenek jatuh pingsan. Aku pun segera meminta tolong kepada warga sekitar untuk mengantar nenek ke puskesmas.
Setelah diperiksa, ternyata nenek terkena suatu penyakit yang tidak diketahui karna keterbatasan teknologi di puskesmas. Aku merasa takut, sangat takut akan kehilangan nenek.aku akan berdoa kepada Allah untuk menyembuhkan penyakit nenek.
Mengingat usianya yang sudah tua menginjak usia 68 tahun, tubuhnya sudah keriput. Di usia tuanya tak ada anaknya yang mau menemani nenek.
Bahkan, om tama pun tak mau menemui nenek. Karna tak bisa menuruti kemauan om tama yang sangat cinta uang untuk bermain judol.
Pada suatu hari, ketika aku pulang sekolah. Aku melihat ada seseorang yang berkunjung ke puskesmas untuk menemui Nenek.
Alangkah terkejutnya aku melihat seseorang itu ternyata adalah Om Tama yang sudah tidak pernah terlihat lagi olehku selama 7 tahun, awalnya aku merasa senang karna anak nenek mau menjenguknya.
”Nenek pasti senang, karna Om Tama menjenguknya disaat ia sakit”.ucap ku didalam hati
Tetapi, tujuan Om Tama menjenguk nenek hanyalah untuk meminta emas seberat 100 gram yang nenek selama ini simpan di rumahnya. Om Tama menyuruh nenek yang sedang sakit untuk menyerahkan emas itu,
“BUK CEPAT BUK, Tama sangat membutuhkan emas
itu, Tama sekarang terjerat hutang dan ingin melunaskan hutang itu dengan emas
lalu bermain judol dan menjadi kaya lagi HAHAHAHA”.ucap Om Tama.
Tentu saja nenek menolak
keinginan Om tama, nenek mengetahui judul itu hanya membawa malapetaka bagi
kehidupan, kecanduan, kegilaan, mabuk uang, semua hal itu terpampang di wajah
om Tama.
“Tidak akan ku berikan emas
ini untukmu, sadarlah nak judol itu hanya membawa mu kepada dosaters“
“Hah dasar ibu yang payah,
judol itu lah yang membuat ku semakin kaya, hanya saja sekarang tama kurang
beruntung sehingga harus berhutang .sudahlah ibu cepat serahkan emas itu!!”
“TIDAKKK”
Penolakan tersebut membuat om
tama sangat marah dan berkata
“BAIKLAH IBU, AKAN TAMA AMBIL
SENDIRI SAJA “ucap om tama dengan nada marahnya
Lalu om tama segera pergi
meninggalkan Puskesmas dan menurutku dia pergi menuju rumah nenek.
“Zainal cepatlah pergi pulang
ke rumah, jangan biarkan anakku mengambil emas itu! “
“Baiklah nenek zainal akan segera pulang”
Dengan cepat aku pergi pulang kerumah untuk menghentikan rencana busuk om tama. Tiba nya aku dirumah, dan ternyata benar saja om tama itu sedang mengacak ngacak seluruh isi rumah hanya untuk mencari emas tersebut. Melihatnya mengacak rumah, segeralah aku menghentikannya.
“KEMANA! KEMANA EMAS EMAS
ITU!! “Ucap om tama dengan nada marah
“OM TAMA cepat berhenti”ucap aku sambil mendorongnya ke dinding”
Tiba-tiba om tama mengeluarkan pisau yang berada di dalam saku celananya lalu mengarahkannya ke perut ku dan tertusuk. Membuat aku shock dan mengeluarkan darah merah pekat dari dalam mulutku.
Cerpen: Harsa Nandikara
Aku merasakan adrenalin deras di tubuhku membuat aku tidak merasakan rasa sakit hanya kebas saja.
Lalu aku mengambil tongkat yang biasa nenek pakai dan menghantarkannya ke kepala om tama membuatnya terjatuh pingsan dan kepala bersimbah darah. Aku pun jatuh pingsan karna mengeluarkan banyak sekali darah dari perutku
Setelahnya aku terbangun di atas tempat tidur dengan ruangan bewarna putih, ku kira kehadiranku sudah sirna didunia dan sekarang berada di akhirat.
Tiba-tiba ada nenek disampingku. ternyata, aku masih hidup yang sekarang berada dirumah sakit untuk melakukan perawatan intensif. Nenek memberitahukan segala hal yang terjadi selama aku pingsan
“Zainal, kamu sudah pingsan
selama 5 hari. Nenek disini menemanimu nak”ucap nenek.
“loh loh, bukannya nenek
masih sakit di puskesmas? “ucapku.
“hahah sebenarnya itu
hanyalah kebohongan saja, sengaja nenek menyuruh perawat untuk mengatakan bahwa
nenek terkena penyakit yang tidak diketahui. Agar memancing Om Tama kesini”ucap
nenek.
“kok gitu sih nek, itu kan
bisa membuat nenek kedalam bahaya”ucap ku dengan bingungnya.
“sebenarnya nenek sudah tahu kalau Tama akan kesini untuk mencari emas nenek, dia pasti sudah merencanakan mencuri dengan diam diam.nenek memancingnya agar dia menampakkan diri dan ternyata benar saja kalau anak itu menampilkan dirinya lagi”.
Aku pun terkejut mendengar bagaimana rencana nenek untuk memancing Om Tama, aku heran kenapa ia bisa memikirkan rencana itu, bayangkan saja kalau tidak ada aku yang kembali ke rumah, pasti emas itu sudah di rayap habis oleh Om Tama.
Sehari setelahnya aku keluar dari rumah sakit. Dan aku terkejut bahwa diriku mendapatkan penghargaan dari kepolisian setempat dan diberi gelar “Perisai Emas” karna telah melindungi emas milik nenek. Aku tak menduga hal ini.
Tapi, aku juga mempertanyakan kemana Om Tama setelah akh memukulnya. Ternyata Om Tama telah dipenjarakan sesuai undang undang yang berlaku. Mendengar itu, aku pun senang. Akhirnya keberadaan yang mengancam telah hilang. Aku takut sekali jika harus merasakan tusukan pisau lagi. Sekarang aku pun dapat menjalani hidup yang aman dan tentram bersama nenek.
*TAMAT*
Penulis adalah Siswa Kelas XI-1 Program Unggulan SMAN 1 Lhokseumawe

0 Komentar