Hakikat Menulis, Antara Seni Menata Pikiran dan Mengantarkan Informasi

Foto: Dibuat AI

 Oleh: Mukhlis. S.Pd., M.Pd.

Hampir setiap hari penulis melakukan rutinitas membaca. Apa saja yang terlintas di hadapan penulis dalam bentuk tulisan selalu dinikmati dengan penuh kehausan akan informasi. Apapun itu, bisa berupa buku, iklan, koran, dan bahkan running text yang dipasang di toko, rumah ibadah, dan sekolah; semua dilahap oleh penulis.

Banyak buku yang dikonsumsi penulis dalam kehidupannya. Hal itu dilakukan untuk menjaga kesegaran dan kebaruan dalam berpikir. Penulis sering beranggapan bahwa dengan banyak mengonsumsi tulisan orang lain dalam bentuk apa pun, lama-kelamaan akan menghasilkan ide-ide brilian yang akan diproduksi ulang dalam bentuk tulisan baru.

Namun, yang membuat hati penulis jenuh dan bosan adalah ketika menghadapi tulisan-tulisan yang berseliweran dalam kehidupan ini, justru memberikan penyiksaan terbesar bagi pembaca. Sebenarnya, jika pembaca mengonsumsi tulisan yang bersifat toxic bagi pemahaman, hal itu akan membunuh minat baca.

Bayangkan saja, sebuah judul dan ulasan yang menarik melintas di media sosial Anda, biasanya di aplikasi TikTok, Instagram, dan Facebook. Anda pasti terpengaruh. Ulasan yang dibangun dengan narasi yang menyimpan sejuta tanya membuat Anda  menekan "keranjang kuning".

Setelah buku sampai di tangan, perasaan justru diaduk-aduk dan menjadi dongkol. Hampir semua isi buku ditulis tidak sistematis, dan yang berbahaya adalah penulis bertindak sadis terhadap pembaca. Setiap kalimat yang ditawarkan adalah penyiksaan semata.

Semakin memilukan ketika penulis membeli buku di media sosial dengan kualitas terjemahan yang sangat jelek dan menyakitkan hati. Dalam konteks di atas, penulis menyadari bahwa tidak semua penulis mampu mengatur dan menata kalimat-kalimatnya secara efektif. 

Hal ini terlihat pada kalimat yang digunakan; terdapat kesenjangan antara harapan penulis dengan tujuan pembaca. Agar permasalahan di atas lebih mudah dipahami, penulis merasa perlu menjelaskan: bagaimana sih hakikat menulis sesungguhnya?

Menulis Itu Mengantarkan Informasi Kepada Pembaca

Sudah menjadi kebutuhan manusia sebagai makhluk pembelajar untuk selalu mencari pengetahuan melalui berbagai media yang tersedia. Media yang dituju dalam subjudul ini adalah media tulisan. Dalam setiap tulisan biasanya tersedia sejumlah informasi. Tentunya, informasi tersebut tergantung pada apa yang ingin disampaikan oleh penulis.

Nah, berbicara tentang penulis sebagai penyebar informasi dalam uraian teks panjang berarti mengulas kemampuan ilmu menulis yang dimiliki. Hal ini penting untuk ditelusuri jauh lebih dalam agar pembaca mengetahui bagaimana alur pikir dan disiplin ilmu yang dimiliki. 










Menulis itu bukan sekadar menyusun kalimat dalam jumlah banyak yang dihamparkan di hadapan pembaca. Akan tetapi, menulis menunjukkan kualitas berpikir terhadap suatu masalah yang disajikan.

Dalam menyajikan sebuah informasi, dibutuhkan keterampilan menulis yang mumpuni. Meminjam istilah Muklis Puna dalam tulisan sebelumnya, bahwa "Selemah-lemahnya iman menulis adalah mampu memberikan secuil saja informasi pengetahuan kepada pembaca." Agar informasi yang disampaikan tersampaikan dengan baik, dibutuhkan penataan kalimat secara efektif dan efisien. 

Dalam konteks permasalahan sederhana yang ditujukan kepada pembaca awam, tidak perlu tampil gagah dengan gaya kaum akademik tingkat dewa. Hal seperti itu jika dilakukan akan membuat pembaca jengah dan bosan terhadap informasi yang disajikan. Ini seringkali terjadi karena istilah dan kalimat-kalimat yang digunakan justru menyiksa pembaca.

Terlalu banyak menggunakan istilah asing pada masalah sederhana, dengan tingkat pengetahuan pembaca yang juga sederhana, membuat isi tulisan jadi tidak berkualitas. Sebaliknya, banyak masalah rumit yang justru bisa disampaikan secara sederhana dan mudah dipahami. Ini juga akan berdampak pada kualitas tulisan yang dikupas tentang permasalahan tersebut.

Sebagai simpulan pada subjudul ini, setiap tulisan yang berkualitas tidak ditentukan oleh beratnya masalah dan istilah yang digunakan, tetapi sangat tergantung pada penulis itu sendiri. Artinya bagaimana? Ia menempuh jalan berliku agar tujuan utama dari tulisan itu tersampaikan pada pembaca.










Menulis Itu Seni Menata Pikiran

Menulis adalah keterampilan produktif. Artinya, keterampilan ini harus dibarengi dengan keterampilan konsumtif. Semakin banyak orang mengonsumsi informasi, baik dalam bentuk tulisan maupun lisan, maka semakin banyak ide baru yang didapat. 

Ide-ide tersebut jika dikolaborasikan dengan ide asli penulis pasti akan melahirkan pikiran baru. Pikiran dan ide baru seperti inilah yang mampu menambah khazanah keilmuan di dunia. Seorang penulis handal adalah pembaca yang profesional; lagi-lagi meminjam istilah Muklis Puna pada tulisan sebelumnya.

Apa yang menjadi informasi baru bagi penulis tidak serta merta bisa dimuntahkan dalam bentuk tulisan baru. Hal seperti ini membutuhkan ilmu menulis yang tepat. Menata pikiran dalam menulis adalah seni berpikir sistematis dan runtut.

Keruntutan menyampaikan pikiran menunjukkan kejelasan dalam berpikir. Secara konseptual bisa dipahami bahwa jalan pikiran seseorang sangat tergantung pada penataan buah pikirnya dalam menulis.

Apabila terdapat gagasan yang lompat-lompat dalam tulisannya, maka seperti itulah yang tergambar dalam benaknya. Kembali ke awal subjudul tulisan ini. Karena menulis adalah seni menata pikiran, berarti kemampuan menulis di sini adalah suatu konsep manajemen mengatur dan menata gagasan secara tepat yang disampaikan kepada pembaca. Untuk sampai pada tahap manajemen menata konsep seperti ini, seorang penulis dituntut harus punya jam terbang tinggi.

Kebiasaan menulis yang mantap dengan jumlah tulisan yang banyak dapat mengasah kemampuan seseorang untuk menata pikiran secara apik. Kebiasaan menulis seperti ini harus dijadikan pembiasaan bagi setiap penulis, terutama untuk pemula. 

Biasakan setiap minggu ada dua atau tiga tulisan yang dihasilkan. Anggap ini sebagai kebutuhan batin setiap penulis agar minat menulis itu menjadi sebuah kebutuhan batin yang tak tergantikan.

Penutup 

Tulisan ini hanya bersifat reflektif. Ini ditujukan untuk setiap penulis, terutama untuk diri pribadi. Uraian panjang dari tulisan ini memberikan simpulan yang prediktif: apabila seorang penulis mau belajar menulis secara matang, Insyaallah setiap tulisan yang dihasilkan akan bermakna dan bermanfaat bagi setiap pembaca.

Akhirnya, sebagai penutup tulisan ini" Menulislah sebelum anak cucumu menulis tentangmu bahwa selama hidup kamu tak pernah menulis. Muklis Puna (2017)













Berita Terkait

Posting Komentar

0 Komentar