Foto: Dokumen Pribadi
Sastrapuna.com, 30/05/2026 Kepedulian terhadap sesama dapat disampaikan melalui berbagai cara, salah satunya lewat karya tulis. Hal inilah yang dilakukan oleh Afifah Nailatul Izzah Siregar, siswi kelas XI SMA Negeri 1 Lhokseumawe, yang berhasil meraih juara 3 dalam ajang Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS3N) 2026 melalui cerpen karyanya.
Afifah, yang lahir di Lhokseumawe pada 21 September 2009, telah menekuni dunia kepenulisan sejak usia dini. Kecintaannya pada menulis tumbuh sejak sekolah dasar, ketika ia mulai menuangkan ide-idenya dalam bentuk cerita pendek yang kemudian dimuat dalam buku antologi.
Memasuki masa SMP, ia semakin serius mendalami teknik menulis, khususnya puisi, untuk memperkaya cara ia mengekspresikan perasaan dan gagasan. Perjalanan itu tidak berhenti begitu saja. Saat duduk di bangku kelas X SMA, Afifah berhasil menerbitkan buku solo, sebuah pencapaian yang mencerminkan konsistensi dan dedikasinya dalam berkarya.
Dalam kompetisi FLS3N 2026, Afifah mengangkat tema “Suara Nusantara”, sebuah tema yang menggambarkan kepedulian terhadap kehidupan masyarakat di pelosok daerah. Melalui cerpennya, ia berusaha menghadirkan suara-suara yang sering kali terabaikan, sekaligus mengajak pembaca untuk lebih peka terhadap realitas sosial di sekitar. Baginya, setiap cerita memiliki kekuatan untuk membuka mata dan menumbuhkan empati.
Motivasi yang melatar belakangi penulisan cerpen Afifah juga terangkat dari keinginan sederhana namun mendalam, yaitu menyampaikan pesan bahwa kepedulian tidak cukup hanya diucapkan.
Dalam pandangannya, kata-kata seperti “semoga cepat pulih” memang penting, tetapi akan jauh lebih berarti jika disertai tindakan yang membantu. Ia percaya bahwa sekecil apa pun bentuk kepedulian yang diberikan, tetap dapat membawa dampak besar bagi mereka yang sedang membutuhkan.
Siswa SMAN 1 Lhokseumawe Gelar Aksi Bersih Waduk: Wujud Kepedulian Lingkungan Generasi Muda
Inspirasi cerita yang ditulis Afifah tidak lepas dari pengalaman keluarga besarnya saat menjadi relawan dalam bencana banjir tahun 2025 di wilayah Bener Meriah dan Takengon. Meski tidak terlibat secara langsung di lapangan, Afifah mengikuti setiap perkembangan kegiatan tersebut melalui media sosial.
Dari sana, ia merasakan emosi, perjuangan, serta tantangan yang dihadapi para relawan. Ketidakmampuannya untuk hadir langsung justru mendorongnya untuk berkontribusi melalui cara lain yakni lewat tulisan yang mampu menyampaikan kisah dan pesan kemanusiaan kepada lebih banyak orang.
Kini, Afifah tak hanya menjadi inspirasi bagi orang-orang. Namun, juga telah sukses menjadi kebanggaan bagi SMA Negeri 1 Lhokseumawe atas pencapaian hebatnya mengharumkan nama sekolah melalui tulisan tangan dan imajinasinya, Afifah sendiri mampu membuat tulisan-tulisan indah melalui sisa sisa tinta dari pulpennya.
Karya yang ia hasilkan menunjukkan bahwa sastra dapat menjadi jembatan untuk menyuarakan kepedulian dan menggerakkan empati bagi seseorang.
Kontributor: Falisha Zahwa (Tim Departemen Jurnalistik OSIS SMAN 1 Lhokseumawe)

0 Komentar