Sastra dan Self- Growth, Bangun Karakter Lewat Certa

 

Foto: Dokumen  Pribadi

Oleh:  Rizqia Asyifa Kandi 

Pernah nggak sih kita merasa lagi ada di fase bingung sama diri sendiri? Ngerasa kecil, takut gagal, atau nggak yakin sama kemampuan kita? Kadang, jawaban itu bukan datang dari nasihat panjang, tapi dari cerita yang kita baca.

Kalau membahas tentang sastra, sebagian orang akan berfikir bahwa sastra hanya novel bergenre romansa yang membosankan. Padahal sastra tidak hanya berbentuk cerita romansa anak muda, melainkan pelajaran hidup yang dibalut dengan fiktif agar bahasanya lebih mudah dimengerti. 

Sastra berbeda dari kisah fiktif percintaan anak remaja yang selalu berakhir bahagia, sastra mengajarkan tentang segala permasalahan yang tidak dimengerti baik oleh remaja, dewasa, bahkan anak-anak. Banyak sekali buku-buku sastra yang sekarang telah beredar dengan banyak genre yang menarik, entah itu aksi atau fantasi, yang ternyata bukan hanya mengandung cerita yang menarik, tetapi juga memberi tahu kita tentang sesuatu yang tidak kita pahami secara gamblang.

Sekarang juga banyak tokoh-tokoh sastrawan yang terkenal, yang mengajarkan tentang mengenali jati diri kita sendiri, memberitahu tentang permasalahan yang terjadi di sekitar kita, tentang kebimbangan anak remaja, bahkan mereka turut membantu dalam perkembangan pola berpikir generasi muda saat ini. Sebagai generasi muda, membaca buku itu hal yang membosankan, padahal apa yang diajarkan di buku tersebut penting untuk perkembangan pola pikir kita, biasa alasannya itu adalah beratnya bahasa yang digunakan. Namun, para sastrawan mengolah bahasa tersebut dengan lebih mudah untuk diterima oleh generasi muda melalui sastra, sastra sering membantu dalam pembelajaran, bukan dengan bahasa dan penjelasan ilmiah yang complicated tapi dengan penjelasan yang lebih simple dan lebih mudah dimengerti.

Di era yang serba digital seperti sekarang ini, mempermudah kita untuk lebih mengenal sastra dengan lebih fleksibel, banyak platform yang dapat digunakan untuk membaca dan menulis karya sastra. Jadi sudah tidak ada alasan untuk enggan mengembangkan minat pada sastra. 

Tapi bukankah tetap membosankan membaca tulisan tanpa adanya gambar sebagai ilustrasinya? Itu pertanyaan yang sering saya terima dari teman-teman yang tampak heran melihat seseorang membaca buku yang biasa disebut sebagai “Novel”. Iya, kita akan membahas tentang Novel sebagai contoh sastra yang dapat membantu dalam perkembangan pola pikir, karakter, dan pencarian jati diri.

Selain digunakan sebagai selingan hobi dan sarana pembelajaran yang lebih simple, sastra seperti novel kerap kali digunakan sebagai side job yang dapat membangkitkan motivasi, kreatifitas, imajinasi, pola pikir yang kritis dan tentunya menghasilkan uang! Tapi sebenarnya apa sih sastra itu? Mari kita pahami lebih dalam lagi.

Hakikat Sastra

Sastra adalah tulisan atau penggambaran jiwa yang berisikan kata-kata yang indah. kata-kata yang dapat membuat pembaca dan penikmatnya merasakan kemarahan, kesedihan, keharuan, kesenangan, dan kebencian, serta pembaca dapat merasakan peningkatan emosional yang naik-turun seperti roller coaster. Sastra juga dapat diartikan sebagai pelukisan atau penggambaran kehidupan dan gagasan penulis yang berisi imajinasi kedalam bentuk-bentuk tulisan yang indah dan tersusun rapi. 

Sastra lahir di tengah-tengah refleksi penulis terhadap gejala-gejala sosial yang terjadi di masyarakat, melahirkan ide, imajinasi, dan para pengarang mulai menjadikan sastra sebagai bentuk penyuaraan isi hati mereka sebagai masyarakat. Sastra berisikan sudut pandang penulis dalam menghadapi suatu masalah, kejadian, peristiwa, dan gejala-gejala sosial yang terjadi di masyarakat. Mengulik, menganalisa, menyusun, menulis, dan menyempurnakan ide penulis yang terinspirasi dari kehidupan bermasyarakat.

Seni tetap menjadi patokan utama dalam pembuatan sastra, namun dibalut dengan kalimat yang indah sehingga dapat menggabungan antara kejadian nyata dan imajinasi penulis dalam sebuah karangan yang memainkan kreatifitas penulis di dalamnya, dan pesan-pesan yang tersirat di dalamnya juga dapat tersampaikan kepada pembaca dan penikmat sastra.

Lalu, bagaimana suatu tulisan dapat dikatakan sebagai sastra dan apa fungsi dari sastra sendiri? Ayo kita selami bagian ini. Sebuah tulisan dapat dikatakan sebagai sastra jika memiliki nilai artistic, pengunggkapan ekspresi yang dapat tersampaikan secara jelas, dan memiliki nilai keindahan yang dapat dinikmati, baik secara lisan maupun tulisan.

Adapun fungsi dari karya sastra adalah, untuk menciptakan keindahan melalui bahasa dan penulisannya yang unik dan menarik, sastra juga berfungsi memberikan pesan moral dan nilai etika yang membantu dalam pembentukan karakter pembaca, juga berfungsi sebagai media pembelajaran yang memberikan wawasan yang luas. Sastra juga berfungsi sebagai reflektif dan rekreatif yang menjelaskan tentang sejarah, sosial,dan kebudayaan suatu masyarakat dan memberikan hiburan bagi penikmatnya.

Selain fungsi-fungsi di atas sastra juga berfungsi sebagai pengungkapan perasaan, penyampaian kritik, sarana untuk menumbuhkan rasa nasionalisme dan sebagai pelestarian budaya, serta sastra berfungsi sebagai sarana komunikasi yang menyampaikan gagasan, pesan, dan informasi kepada pembaca.

Demikian bisa kita ambil kesimpulan bahwa sastra merupakan refleksi dari kehidupan manusia atau imitasi dari kehidupan yang digambarkan dalam tulisan lalu dipublikasikan. Tidak hanya sebuah imitasi dari kehidupan, sastra juga merupakan representasi dari kehidupan yang disempurnahkan oleh penulis atau penciptanya yang menggabungkan antara kejadian nyata dan imajinasi dari sudut pandang penulis.

Novel serial Bumi Sebagai Bentuk Representasi Dari Seni Sastra dan Sarana pengembangan diri dan karakter

Tentu banyak sekali bentuk dari sastra sendiri, seperti puisi, cerpen, novel, dan pantun. Tetapi, kita tidak akan membahas semua, jadi saya akan mengambil salah satu bentuk yang sudah sangat familiar bagi kita, terutama bagi kalangan muda, yaitu NOVEL! 

Novel bukan hanya sekedar buku bacaan tanpa makna dan pesan apapun, melainkan banyak pelajaran dan pesan tersirat yang disampaikan penulis kepada pembaca. Salah satu buku novel yang ingin saya bahas di sini adalah karya seorang penulis terkenal yaitu, novel serial Bumi karya Tere Liye.

Novel serial Bumi karya Tere Liye ini terdiri dari 17 buku saat ini, buku novel serial bumi ini berbeda dari novel remaja lainnya. Buku ini menceritakan tentang pertualangan tiga sahabat yang penasaran akan sesuatu di balik dunia yang mereka kenal, tentang kekuatan aneh yang mereka miliki, genetic yang baru mereka pahami ketika pertualangan ini dimulai mereka memecahkan teka-teki dunia, menyusun satu persatu tumpukan puzzel yang berantakan.

Lalu apa hubungannya novel ini dengan pengembangan diri dan karakter? Mari kita telusuri! Pertualangan pertama bermula dari novel serial ini yang bertajuk “BUMI”. Novel yang menceritakan tentang ikatan persahabatan dan kerjasama tiga anak yang memiliki karakter yang berbeda. Raib salah seorang anak perempuan yang digambarkan sebagai anak yang bijaksana dalam mengambil keputusan, dan menimbang dampak jangka panjang yang akan terjadi pada pengambilan keputusannya. 

Seli seorang anak perempuan lainnya yang digambarkan sebagai anak yang penyayang, perasa, dan ingin melalukan apapun untuk menyelamatkan sahabatnya dan orang-orang disekitarnya. Yang terakhir Ali seorang remaja laki-laki yang digambarkan sebegai sosok yang genius, pemikir dalam kelompok petualang mereka, otak perjalanan petualangan mereka dan pencipta semua alat-alat keren yang mereka gunakan selama petualangan.

Mereka bertiga menjelajah dunia pararel yang berada disisi lain dunia mereka, memahami cara kerja dunia pararel yang berbanding terbalik dengan dunia mereka, memahami bagaimana dunia itu bisa tidak saling mengganggu dunia lainnya. Dalam petualangan mereka di dunia pararel yang tidak mereka kenal, banyak hambatan dan dukungan yang mereka temui. 

Banyak pelajaran dari konflik-konflik yang mereka hadapi. Dan mereka tumbuh dengan belajar dari konflik tersebut. Tentang kerakusan, keserakahan, kebencian, dendam, kekecewaan, luka yang mendalam dan berusaha untuk mengingklaskan, belajar untuk tetap bersikap baik dan ramah tanpa menghilangkan kewaspadaan, serta toleransi terhadap perbedaan, juga menghargai keputusan dan pendapat orang.

Raib belajar untuk menerima kekuatannya, ini mengejarkan kita bahwa kadang kita takut sama potensi diri sendiri. Seli dan Ali yang tidak meninggalkan teman bahkan di situasi yang sulit, karakter itu terbentuk lewat kebersamaan mereka. 

Ali selalu mikir out of the box. Ini contoh dari self-growth yang bukan soal perasaan tetapi juga cara berpikir. Dan mereka juga mengajarkan kita bahwa setiap keputusan memeiliki konsekuensinya dan harus kita pertanggung jawabkan.

Di era yang serba digital dan cepat ini, banyak orang yang pengen hasil instan, padahal karekter kita ga dibentuk sehari. seperti karekter pada serial “BUMI” ini, mereka harus jatuh bangun dulu untuk bisa berkembang. Sastra mengajarkan proses. 

Dan proses itu bukan glamor, tapi penting. Untuk sebagian orang mungkin merasa hal itu mustahil diajarkan di dalam novel apalagi novel fantasi, karena menurut mereka novel hanya membahas masalah percintaan.

Namun, siapa yang tidak mengenal Tere Liye, nama pena yang tidak hanya terkenal di kalangan pembaca, melainkan juga familiar di kalangan luar. Sebagai pembaca novel serial ini, saya sendiri merasa hal itu diajarkan secara detail oleh penulis. Novel-novel serial bumi tidak hanya membahas tentang persahabatan dan kerjasama tetapi juga membahas tentang cara beradaptasi dan bijak dalam mengambil keputusan serta melatih pola pikir kritis dan strategis.

Hal ini tentunya juga menjadi salah satu side job yang menyenangkan bagi penulis, menyalurkan hobi, meningkatkan potensi, juga menjadi sumber penghasilan sampingan bagi mereka. Tidak jarang ditemukan penulis-penulis novel luar sana, bahkan mungkin juga di sekitar kita, mereka yang lebih dikenal dengan nama penanya dibandingkan dengan nama aslinya.

Demikian saya sampaikan bahwa membaca bukan cuma soal menyelesaikan halaman terakhir. Tapi tetang siapa kita setelah menutup buku itu. Karena pada akhirnya, cerita terbaik bukan yang paling seru, tapi yang mengubah cara kita melihat diri sendiri

Penulis adalah Siswa SMA Negeri 1Lhokseumawe 















Berita Terkait

Posting Komentar

0 Komentar