Puisi: Nyanyian Gulita di Peron Takdir

Foto: Tangkapan Layar

Muklis Puna

Kau dan aku dalam antrean  gulita,
Kau, pendobrak gerbang istana, 
Aku, merangkak di muka gerbang, 
Menjejak bayangan yang samar.
terjerat pusaran takdir.

Tali pusar melilit langkah, 
Membelenggu di jalanmu.
Menyusuri sabit bulan,

Baca Juga:

Dentingan menit memutar arah, mengikis sisa waktu.Tergesa kau, menopang langit yang hampir runtuh,

Darah persalinan bunda masih membasahi mata kaki,
Ari-arimu, belum tuntas disantap belatung dunia,
Namun kau, telah berlarian menjengkal bumi, tanpa ragu.

Aku, mengusung  ragu yang memberat di pundak,
Barisan pulau-pulau menjalar di kening, kerutan masa.
Danau peluh mengapung, bergenang di lesung pipi.

Mengapa jasadmu tak meninggalkan bayangan?
Mengapa kakimu tak mencium bumi, tak menyisakan jejak?
Atau mungkinkah, kau kekasih gelap sang malaikat?
Rahasia yang tak terucap.

Baca Juga

Puisi:Sajak di Pinggang Malam

Kau dan aku, berada dalam kereta panjang kehidupan,
Adakah kau dengar raungan peron, merangkak menuju napas terakhir?

Aku, tlah kau campakkan dalam jarak tak berujung,
Padahal setelah kau dahaga dengan susu bunda,
Aku menyusul, mengharap giliran kasih.

Kini, tlah kulepaskan pelukan harapan yang kian pudar,
Jemari tak lagi merangkul kepalan, tak ada lagi perlawanan.


Lengan kubiarkan sejajar bahu, pasrah pada takdir.
Mataku tlah kuberi tirai, agar tak lagi melihat semu.
Sang pemburu nyawa, merampas harapan dari jiwa yang angkuh.

Aku tetap menanti, di muka gerbang waktu,
Saat jam mengundang pulang, kembali ke asal.
Antrean membuncit, mengapit masa yang fana,
Pengaitmu patah, digilas roda peron, hancur lebur.

Lhokseumawe, 12 September  2025


Berita Terkait

Posting Komentar

0 Komentar