Foto: Dokumen Pribadi
Lhokseumawe Sastrapuna.Com. Semangat literasi terus digelorakan di kalangan pelajar Kota Lhokseumawe. Kali ini, SMA Sukma Bangsa Lhokseumawe menghadirkan sosok pegiat literasi dan penulis produktif, Hamdani, S.Pd dengan nama pena "Hamdani Mulya", guru Bahasa Indonesia dari SMAN 1 Lhokseumawe untuk berbagi ilmu tentang kiat-kiat sukses menulis artikel opini agar bisa dimuat di media massa.
Kegiatan yang berlangsung pada Rabu, 4 November 2026 di Perpustakaan SMA Sukma Bangsa Lhokseumawe tersebut berlangsung hangat dan penuh antusias. Acara ini terselenggara berkat kolaborasi apik antara Hamdani Mulya dengan guru Bahasa Indonesia SMA Sukma Bangsa, *Ibu Dewi Puspita Sari, S.Pd*, selaku penyelenggara dan inisiator kegiatan literasi sekolah.
Hamdani diundang sebagai *guru tamu* untuk memberikan motivasi dan teknik praktis menulis bagi siswa-siswi yang selama ini memiliki minat besar dalam dunia tulis-menulis, namun masih bingung bagaimana memulai dan bagaimana agar tulisannya bisa tembus koran.
Dalam pemaparannya, Hamdani yang dikenal sebagai penulis di berbagai surat kabar dan majalah seperti Serambi Indonesia, Waspada, Kutaradja, Haba Rakyat, majalah Santunan Jadid, majalah Fakta, serta penulis buku antologi puisi dan esai pendidikan, sejarah, dan sastra, menjelaskan bahwa menulis opini itu bukan bakat, tapi keterampilan yang bisa dilatih.
"Menulis opini itu rumusnya sederhana: ada keresahan, ada bacaan, dan ada keberanian," ujar Hamdani di hadapan seratusan siswa SMA Sukma Bangsa.
Menurut pria kelahiran Paya Bili, Meurah Mulia, Aceh Utara, 10 Mei 1979, dan alumni Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Syiah Kuala (USK) ini, ada lima kiat utama yang harus dipegang oleh penulis pemula:
Pertama, mulai dari hal yang dekat.* Tulis apa yang dilihat, dirasakan, dan dialami di sekolah, di desa, dan di lingkungan sekitar. Jangan langsung menulis tema besar yang jauh dari kehidupan.
Kedua, banyak membaca. Seorang penulis opini harus kaya referensi. Hamdani menyarankan siswa untuk membiasakan diri membaca koran, buku, dan jurnal minimal 30 menit sehari.
Ketiga, gunakan struktur yang jelas.* Opini yang baik memiliki pembuka yang menarik (lead), isi dengan argumen dan data yang logis, serta penutup yang memberikan solusi atau refleksi.
Keempat, bahasa harus jernih dan khas.* Hindari bahasa yang berbelit-belit. Gunakan bahasa yang sederhana, lugas, tapi tetap memiliki ciri khas penulis.
Kelima, jangan takut ditolak redaksi "Saya dulu juga sering ditolak. Tapi dari penolakan itulah kita belajar memperbaiki tulisan. Kirim terus, revisi terus," pesan Hamdani yang juga pengamat sastra dan sejarah Aceh.
Ibu Dewi Puspita Sari, guru Bahasa Indonesia SMA Sukma Bangsa, menyampaikan rasa terima kasihnya atas kehadiran Hamdani Mulya. Menurutnya, kehadiran sosok guru yang juga praktisi penulis dari sekolah lain sangat penting untuk membuka wawasan siswa bahwa guru bisa menjadi penulis produktif dan inspiratif.
"Kami ingin siswa Sukma Bangsa tidak hanya cerdas secara akademik, tapi juga literat. Mampu menyampaikan gagasannya lewat tulisan opini di media massa. Kolaborasi dengan Pak Hamdani Mulya dari SMAN 1 Lhokseumawe ini adalah langkah awal yang sangat baik," ujar Dewi.
Kegiatan yang berlangsung selama dua jam tersebut ditutup dengan sesi tanya jawab dan praktik menulis paragraf pembuka opini. Sejumlah siswa terlihat antusias menunjukkan tulisan mereka langsung kepada Hamdani untuk mendapatkan masukan.
Di akhir acara, Hamdani berharap akan lahir penulis-penulis muda dari SMA Sukma Bangsa yang nantinya bisa menjadi bagian dari Forum Penulis Aceh.
"Setiap siswa punya cerita. Tugas kita sebagai guru adalah membantu mereka menemukan cara untuk menceritakannya lewat tulisan," tutupnya.
Konstributor; Sri Wahyuni Sy Tim Komunitas Forum Penulis Aceh


0 Komentar