Sayuti Abubakar Wali Kota Lhokseumawe, Sosok Bersahaja, Karisma, dan Harapan Aceh ke Depan



Foto: Dokumen Pribadi

Oleh: Mukhlis, S.Pd.  M.Pd.

Setelah mendapat informasi dari sohib penulis yang merupakan Pemred Beurita.Com, Yuswardi Mustafa, beliau lebih duluan datang ke acara Maulid Nabi Besar Muhammad Saw. yang dilaksanakan di SMAN 1 Lhokseumawe. 

Di tengah keramaian tamu, teman senior ini berbisik bahwa Bapak Dr. Sayuti Abubakar, S.H., M.H. akan tiba sebagai tamu kehormatan di acara religi tersebut. Penulis langsung menjawab, “Alhamdulillah, kita siapkan segala sesuatu tentang kedatangan beliau.” Penulis sebagai panitia yang mengirimkan undangan secara langsung ke nomor kontak beliau merasa bangga atas respon yang diberikan.

Setelah berbasa-basi dengan beberapa tamu yang sudah mulai padat di ruang aula sekolah favorit tersebut, penulis bersama teman senior ini langsung turun dan mengundurkan diri, menunggu di lobi sekolah. 

Tak berapa lama penulis berada di lobi sekolah, tiba mobil Fortuner berpelat merah dengan nomor khusus milik wali kota bersama rombongan. Tiba-tiba mobil masuk gerbang dan berhenti spontan di depan lobi.

Seorang lelaki muda turun dari mobil gagah tersebut. Gayanya begitu apik dan bersahaja. Penulis mendekat, menyapa, dan bersalaman erat, menggenggam tangan yang melambangkan hubungan emosional begitu lekat dalam jabat tangan. 

Lelaki muda ganteng dengan senyum menawan, dihiasi gigi yang tampak rapi seperti deretan jagung muda dalam balutan kelopak  berwarna hijau muda.

“Assalamualaikum,” dia berucap. Penulis dengan bangga dan haru menjawab, “Waalaikumsalam, Pak Wali. Silakan, Pak.” Dengan senyum berurai, dia menyapa kembali. Lalu penulis mengarahkan para rombongan untuk mengisi buku undangan yang dihidangkan panitia seksi tamu.

Tanpa berlama-lama, penulis mendampingi sang Ketua Demokrat Aceh yang baru ditetapkan  oleh Ketua Demokrat, Bapak Agus Harimurti Yudhoyono selama satu bulan terakhir. 

Sambil berjalan menuju tangga aula, dia bercerita bahwa istrinya juga merupakan alumni SMANSA Lhokseumawe. Penulis menimpali dengan bertanya, apakah dia juga alumni SMANSA?  Dia menjawab, “Bukan, saya SMA-nya di Jakarta.”

Tak terasa, tangga menuju aula sudah di depan mata. Setiap orang yang lewat selalu disalami dengan  kharisma yang menawan. Para siswa yang berdiri di tangga menyambut dengan senyum sumringah.

“Assalamualaikum, Pak Wali. Selamat datang. Silakan, Pak.”

Tiba di pintu aula, para undangan langsung menoleh dan terkesima, lalu membatin, “Oh, Bapak Wali Kota Lhokseumawe sudah datang.” Ada yang menggerutu, khususnya ibu-ibu, “Oh, ini Pak Wali Kota Lhokseumawe. Masih muda dan ganteng banget, ya?” Penulis mendengar pujian ibu-ibu dan para siswa sambil lalu mengarahkan Pak Wali Kota menuju meja hidangan yang sudah disiapkan.

Teman senior di awal kisah ini meminta penulis untuk duduk mendampingi di samping beliau. Penulis pun merasa terhormat. Jarang-jarang, lho, bisa duduk bersanding dengan orang nomor satu di Partai Demokrat Aceh dan nomor satu juga di Kota Lhokseumawe.

Sambil menyantap hidangan yang sudah disajikan, ternyata ada diskusi kecil yang menunjukkan karakter beliau sesungguhnya. Dalam diskusi bersama para kepala sekolah, Plt. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Lhokseumawe, serta unsur Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kota Lhokseumawe, juga berkembang pembicaraan tentang salah satu universitas swasta yang sedang melakukan suksesi untuk pemilihan ketua yayasan.

Di situlah penulis menangkap satu kalimat penting, tapi sederhana, bahwa "Kampus itu adalah kawasan bebas warna partai politik. Kalaupun ada warna, harus ada keberagaman, banyak warna. Dari keragaman warna akan melahirkan satu warna pendidikan yang padu.

Di sela-sela diskusi tersebut, penulis menimpali bahwa kampus itu merupakan milik masyarakat dan tertua dalam konteks pendidikan di Aceh hari ini. Banyak yang menyatakan setuju, dan beliau pun ikut menambahkan kekurangan dari diskusi yang terjadi, walaupun hanya 15 menit.

Kebersamaan dengan Bapak Sayuti Abubakar ini menunjukkan bahwa informasi yang berkembang tentang siapa beliau dan bagaimana kiprahnya di Kota Lhokseumawe memang menarik untuk dicermati. 

Mendengar dan mencocokkan desas-desus informasi yang berkembang tentang sepak terjang pembangunan yang begitu deras dan kasatmata, yang terjadi selama ini, penulis menduga dan berharap antusiasme warga Lhokseumawe melihat pergerakan pembangunan yang sudah memberikan denyut nadi pertumbuhan ekonomi akan terus meningkat.

Penulis berharap dan menduga, dengan Kendaraan Baru Berlatar Belakang Biru bermerek Mercy, beliau sangat layak untuk membawa kota Lhokseumawe ke arah yang  arah maju bersahabat dan inovatif.

Diskusi pun selesai. Penulis berpindah tempat. Beliau mohon diri, pamit melanjutkan rutinitas harian sebagai pejabat Kota Lhokseumawe. Penulis mengantar beliau keluar dari tempat kegiatan.

Anak-anak hebat sudah menunggu. Dengan cekatan, mereka mendekat meminta untuk difoto bersama. Dalam aula dan ruang makan yang sederhana, beliau menjadi bintang yang menerangi ruang sekaligus idola para siswa dan motivasi dalam belajar. Semoga.

Penulis adalah Mahasiswa Doktoral Program Studi Islam  konsentrasi Manajemen Pendidikan Islam UINSUNA  dan Guru SMAN 1Lhokseumawe 





Berita Terkait

There is no other posts in this category.

Posting Komentar

0 Komentar