Lima Menit Bersama di Warung Kopi, Filsafat Sederhana Sang Rektor UIN SUNA Lhokseumawe yang Tersembunyi di Balik Pertanyaan "Pue Na Menyum?"

 


Foto: Dokumen  Pribadi

Oleh: Mukhlis, S.Pd., M.Pd. 

Sabtu pagi seperti biasa, penulis menjalankan rutinitas kuliah doktoral di kampus kebanggaan masyarakat Aceh, UIN Sultanah Nahrasiyah (UIN SUNA) Lhokseumawe. Sistem blended yang kami jalani membagi aktivitas menjadi 50 persen daring dan sisanya tatap muka. 

Mengendarai motor butut menembus kabut dan angin dingin pegunungan pukul 07.30 WIB, penulis berhenti sejenak dari hiruk-pikuk jalanan untuk berlomba dengan matahari, menjemput ilmu dari para profesor dan doktor hebat.

Ritual Warung Kopi dan Pertemuan Tak Terduga

Sebelum tiba di kampus dari arah selatan, setelah mendaki bukit tak terlalu tinggi, tampaklah sebuah warung kopi. Di Aceh, singgah di sini seolah kewajiban yang setara dengan salat berjamaah di masjid. 

Tempat ini selalu menjadi tujuan mahasiswa doktoral melepas penat usai diskusi panjang. Penulis tergopoh-gopoh mencari tempat duduk dan memesan kopi serta makanan ringan. Ketepatan waktu bagi penulis bukan sekadar aturan, melainkan kebiasaan yang telah menyatu dengan jiwa.

Pembaca hebat, mari kita tinggalkan pengantar ini. Saat penulis baru saja duduk santai melepaskan tas yang mulai lelah di bahu, sosok  teladan itu muncul secara spontan tepat di hadapan, 

Profesor Dr. Danial, M.Ag., Rektor UIN SUNA Lhokseumawe. Beliau baru saja turun dari mobil dinas bersama sopir setianya, nampak bingung mencari posisi nyaman untuk menyeruput kopi pagi. Dengan kerendahan hati, penulis menghampiri. Beliau langsung menyapa dengan gaya bersahaja, "Oh, Pak Muklis! Sudah lama, Pak?"

"Baru saja, Prof!" jawab penulis sambil menyalami dan menarik kursi agar bisa sarapan bersama. "Silakan, Prof, pesan apa?" Para pramusaji segera berdatangan, namun sang profesor hanya memesan kopi sanger espresso tanpa makanan. "Kenapa tidak pesan makanan, Prof?" tanya penulis pelan. 

Beliau menjawab bahwa sudah sarapan dari rumah dan waktu tinggal lima menit lagi sebelum masuk kelas. Mendengar itu, penulis membatin: begitu disiplinnya waktu yang ditata, wajar gelar profesor lebih cepat melekat pada nama panjangnya.

Filsafat "Pue Na Menyum" dan Teladan Intelektual

Sebenarnya penulis tidak ragu berdiskusi akrab, mengingat kami pernah bertetangga di Kompleks Pelajar Mahasiswa Darussalam saat penulis masih kuliah Strata 1, dan beliau juga pernah mengabdi di UIN Ar-Raniry Banda Aceh. 

Namun, perlu penulis tegaskan  bahwa tulisan ini murni inisiatif pribadi sebagai mahasiswa doktoral di bawah kepemimpinannya, bukan pesanan atau branding lembaga, agar terhindar dari prasangka netizen.

Dari secangkir kopi dan dua potong kue selama lima menit, lahirlah tiga pertanyaan mendasar. "Bagaimana kuliahnya, Pak?" tanyanya sayup-sayup lewat seruputan kopi. "Alhamdulillah baik, Prof, banyak hal yang didapat," jawab penulis. 

Pertanyaan kedua menyusul tentang mata kuliah dan dosen hari ini. Setelah penulis menjawab santai, beliau menghela napas dan melontarkan pertanyaan kunci yang sangat filosofis: "Pue na menyum?" (Apa ada terasa?). Inilah yang menggelitik jiwa.

Menjawab pertanyaan tersebut butuh tiga halaman folio jika dideskripsikan utuh, karena menyangkut kompetensi dosen-dosen bergelar profesor dan doktor. Dengan bangga penulis menegaskan bahwa semua dosen memiliki kompetensi tinggi dan layak membimbing mahasiswa doktoral. 

Tanpa sungkan, penulis menambahkan bahwa meski semua dosen menjadi referensi berpikir, sang profesor sendiri adalah rujukan utama. Mendengar pujian itu, beliau tertawa lepas tanpa sedikit pun kesombongan. Ketidaksombongan inilah yang menjadi rujukan kedua bagi penulis.

Matahari terus berjalan dan jarum jam bergulir cepat. Minuman habis dituntaskan, beliau memanggil sopir untuk kembali ke kampus karena lima menit itu benar-benar telah tiba.

Lima menit bersama sang profesor muda bertalenta ini memberikan pelajaran berharga. Referensi berpikirnya luar biasa; ia bagai perpustakaan berjalan di ruang pikiran mahasiswa. Selama delapan kali pertemuan  matakuliah filsafat, tak satu pun informasi pengetahuan berulang disampaikan.

Kedatangan lebih awal dan penguasaan lintas disiplin ilmu termasuk sastra dan bahasa  juga menjadi keahlian beliau, menjadi teladan nyata. Cara menjelaskan materi yang lugas dengan analogi bernalar tinggi membuat beliau semakin disegani. Pertemuan hangat ini menjadi momentum bagi penulis bahwa ilmu harus dituntut secara interdisipliner demi mencapai kesempurnaan diri. Wallahu a'lam bisawab.

Penulis adalah Mahasiswa Doktoral Program Studi Islam UINSUNA dan Guru SMA Negeri 1 Lhokseumawe 










Berita Terkait

Posting Komentar

0 Komentar