Foto: Dokumen Pribadi
Oleh: Mukhlis. S.Pd., M.Pd.
Ada satu kelas di Harvard University yang diwajibkan kepada seluruh mahasiswa semester 1. Mau tahu kelas apa itu? Kalau pertanyaan ini diajukan kepada setiap orang Indonesia, mereka pasti akan menjawab kelas Matematika, kelas Fisika, atau kelas sains teknologi lainnya. Jawabannya tentu salah. Kelas yang diwajibkan untuk diambil oleh seluruh mahasiswa semester 1 yang kuliah di Harvard University adalah "Kelas Menulis."
Menghadirkan Tuhan dalam Ruang Kelas, Menghapus Sekularisme Terselubung dalam Pendidikan Indonesia
Lalu, apa pentingnya menulis bagi setiap mahasiswa, sehingga kelas tersebut wajib diambil di universitas terkemuka dunia tersebut? Jawabannya sangat sederhana, menulis berarti berpikir secara kompleks. Artinya, bagaimana seseorang mengonstruksi pikirannya secara utuh dalam bentuk teks dan wacana yang padu serta sistematis.
Konstruksi Pikiran dalam Jalinan Estetika
Jadi, Sahabat Cerdas, menulis juga memetakan pikiran secara komprehensif tentang suatu permasalahan yang ingin disampaikan kepada pihak kedua dalam jalinan komunikasi yang lengkap. Lebih lanjut, menulis itu menata alur pikir secara berkelanjutan. Maksudnya, jalinan antara kalimat satu dengan kalimat lainnya membutuhkan seni yang bernilai estetika.
Bernilai estetika juga bermakna mempermainkan seni berbahasa yang memunculkan imajinasi, yang membuat pembaca memfungsikan otak kanan dalam palung khayal dan imajinasi tinggi. Lebih jauh, Sahabat Cerdas, menulis juga menata buah pikir antara kalimat satu dengan kalimat lain dalam menyampaikan informasi kepada pembaca.
Jika mau dianalogikan, Sahabat Cerdas, jika buah pikiran adalah sebuah produk yang ingin dijual kepada konsumen, maka tulisan adalah jembatan rangka baja yang disusun dengan kepaduan dan koherensi dalam menyampaikan sebuah pengertian, konsep, dan seperangkat pengetahuan menuju para konsumen informasi.
Menulis sebagai Keterampilan Pamungkas di Era Digital
Sahabat Cerdas… Menulis bukan sekadar menggambar huruf atau grafologi dalam kehidupan pembelajaran, namun menulis merupakan suatu keterampilan pamungkas dari tiga keterampilan berbahasa lainnya seperti membaca, mendengarkan, dan berbicara. Menulis dalam konteks berpikir bukanlah menulis yang berlangsung pada tataran rendah, yaitu menyalin.
Banyak orang beranggapan bahwa selama ini menulis dianggap sama dengan menyalin. Padahal, ketika teknologi berkembang melampaui batas, komputer melejit tinggi, dan AI (Kecerdasan Buatan) menyerupai teknologi mutakhir yang mengerikan, menyalin tidak lagi dianggap sebagai menulis.
Menulis adalah sebuah keterampilan produktif yang mewadahi tiga keterampilan sebelumnya. Sebagai bagian dari produksi pikiran, tentu menulis membutuhkan seni menata kalimat yang tepat sehingga buah pikiran yang disampaikan tidak berulang. Misalnya, dapat dibayangkan jika tulisan yang Sahabat baca saat ini berulang-ulang, tentu apa yang disampaikan dari awal sampai akhir tidak akan tertata dengan mantap.
Simpulan
Sebagai penutup dan renungan, menulis adalah bagian dari representasi literasi yang mumpuni. Dengan menggunakan bahasa sebagai media, menulis tentunya dapat dijadikan sebagai indikator tentang sejauh mana seseorang mampu memahami informasi yang pernah ia baca, dengar, dan bicarakan. Menulis akan tampak ketidaksempurnaannya pada "loncatan pikiran" yang dimiliki oleh penulis, yang terlihat pada bagian-bagian tulisan yang ditampilkan.
Mengapa mahasiswa semester 1 di Harvard University diwajibkan mengikuti kelas menulis? Karena mereka sadar betul akan pentingnya menulis dalam konteks belajar dan pembelajaran. Satu kata kunci yang menjadi batasan dalam tulisan ini adalah, sesungguhnya menulis itu adalah Kegiatan Berpikir, apalagi menyampaikan pikiran-pikiran kritis dalam bentuk tulisan.
Mari kita jadikan tulisan ini sebagai bahan refleksi. Sebagai guru, dosen, dan praktisi pendidikan, sudah sejauh mana kita bertindak terhadap perkembangan pendidikan kita hari ini?
Wallahu a'lam bissawab.
Penulis adalah Mahasiswa Doktoral Program Studi Islam UINSUNA dan Guru SMA Negeri 1 Lhokseumawe

0 Komentar