Menziarahi "Kekalahan" Ilmu" Catatan Kritis di Balik Megahnya Peradaban Modern


Oleh: Mukhlis, S.Pd., M.Pd.

Dalam panggung besar kehidupan berbangsa kita hari ini, sebuah ironi kerap tersaji tanpa tabir. Jika kita mengandaikan kemajuan sebagai sebuah lintasan pacu, maka ilmu pengetahuan seolah sedang tertatih di garis paling belakang. 

Di tengah hiruk-pikuk diskursus publik yang didominasi oleh syahwat politik, pragmatisme ekonomi, dan sentimen keagamaan yang terkadang sempit, sains acapkali hanya menjadi penonton setia di lorong sunyi.

Bahkan, dalam ekosistem pendidikan kita sendiri, ilmu pengetahuan belum sepenuhnya bertahta sebagai panglima. Kita sering menjumpai narasi-narasi di mimbar yang secara dikotomis membenturkan antara pengejaran ilmu duniawi dan ukhrawi. 

Ilmu pengetahuan dianggap sebagai produk profan yang tak menjanjikan ganjaran surgawi. Padahal, watak ilmu itu dinamis; ia tumbuh dari rahim keraguan yang produktif dan dialektika yang jujur. Sayangnya, ideologi yang mengerdilkan peran akal inilah yang justru kian mengakar.

Paradoks Kereta Kuda dan Gawai Canggih

Kita hidup dalam sebuah kontradiksi yang getir. Di satu sisi, masyarakat kita, tanpa memandang strata sosial maupun keyakinan adalah konsumen setia produk sains terkini. 

Kita menggenggam ponsel pintar dengan teknologi android paling mutakhir, aktif berselancar di media sosial, dan begitu ringan jempol ini membagikan nasihat keagamaan atau hoaks politik di grup-grup percakapan.

Namun, di sisi lain, banyak di antara kita yang justru menertawakan proses saintifik itu sendiri. Kita lebih memercayai mitos, rumor tak berdasar, dan teori konspirasi ketimbang data empiris. 

Kita ibarat manusia yang sedang berswafoto dengan kamera resolusi tinggi, namun pola pikir kita masih tertinggal ratusan tahun di belakang, layaknya menunggangi kereta ditarik kuda di tengah jalan tol peradaban. Kita menikmati "buah" dari sains, namun menghina "akar" yang menumbuhkannya.

Kondisi ini semakin terlihat nyata saat pandemi melanda. Ketika sains menawarkan data dan prediksi ilmiah, publik justru lebih nyaman dengan narasi irasional. Kebijakan publik pun tak jarang lahir dari pertimbangan popularitas ketimbang landasan riset yang kokoh. Di sini, ilmu kembali "dikalahkan" oleh kepentingan massa dan pencitraan.

Harmoni Islam dan Sains Hari Ini

Namun, di tengah sinisme tersebut, kita tidak boleh menutup mata terhadap geliat baru di dunia Islam global. Hari ini, narasi "Kekalahan Ilmu" mulai ditantang oleh kebangkitan kesadaran baru tentang pentingnya integrasi dan interkoneksi antara iman dan sains.

Dunia Islam hari ini mulai menyadari bahwa memisahkan wahyu dari akal adalah sebuah kekeliruan sejarah yang fatal. Kita melihat negara-negara seperti Turki, Qatar, hingga Indonesia.

Kemajuan teknologi kedokteran, eksplorasi luar angkasa oleh ilmuwan Muslim, hingga pengembangan ekonomi syariah berbasis digital adalah bukti bahwa Islam mulai kembali ke khitah sebagai agama peradaban. 

Kita sedang berupaya melahirkan generasi yang tidak hanya hafal kitab suci, tetapi juga piawai mengoperasikan rumus-rumus fisika dan algoritma. Inilah semangat "Iqra" yang sesungguhnya; membaca teks sekaligus membaca alam semesta.

Penutup 

Jika kita berkaca pada kemajuan di Amerika dengan kapitalisme risetnya, atau negara-negara Asia Timur seperti Jepang dan Korea Selatan dengan dedikasi teknologinya, kita sadar bahwa pengetahuan memerlukan "ekosistem". Pengetahuan harus "dikawinkan" dengan modal dan kebijakan politik yang berpihak pada kebenaran ilmiah.

Di Indonesia, kita berharap ada pergeseran ideologi. Kita ingin melihat para ilmuwan mendapatkan panggung yang setara dengan para pesohor atau politikus. 

Kita merindukan saat di mana modal besar tidak hanya mengalir untuk urusan penampilan kesalehan lahiriah atau komodifikasi agama, tetapi juga untuk mendanai riset-riset ambisius yang memecahkan masalah kemanusiaan.

Dalam amatan penulis  bahwa kejayaan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari seberapa khusyuk ia berdoa, tetapi juga seberapa sungguh-sungguh ia menggunakan akal budinya untuk menyingkap rahasia alam. 

Mari kita akhiri musim kekalahan ilmu pengetahuan ini, dan memulai era di mana sains serta iman berjalan beriringan membangun peradaban yang bermartabat.Sebab, Islam yang maju adalah Islam yang meletakkan perpustakaan setinggi kedudukan rumah ibadah.

Penulis adalah  Mahasiswa  Doktoral  Program  Studi Islamisasi  UINSUNA  Lhokseumawe 




Berita Terkait

There is no other posts in this category.

Posting Komentar

0 Komentar