Menulis sebagai Manifestasi Jiwa dan Jalan Abadi Menembus Batas Zaman

  


Foto: Pixabay
Oleh: Mukhlis, S.Pd., M.Pd.

"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan  sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian." ( Pramoedya Ananta Toer)

Dalam panggung kehidupan ini, intelektualitas yang menjulang tinggi sering dianggap sebagai puncak pencapaian seorang insan. Namun, sejarah  membuktikan dengan dingin bahwa kecemerlangan akal semata tidak  cukup untuk memahat nama di dinding waktu jika ia hanya tersimpan dalam sunyi. Sering kali kita menyaksikan ide-ide brilian terkubur bersama raga pemiliknya, menguap tanpa jejak karena enggan diabadikan dalam aksara. 

Pramoedya Ananta Toer, sang maestro sastra, pernah menitipkan pesan mendalam bahwa tanpa keberanian untuk menorehkan tinta, seorang manusia yang pandainya setinggi langit sekalipun akan senyap ditelan pusaran masa dan hilang dari ingatan masyarakat. Menulis, dalam pandangan ini, bukanlah sekadar aktivitas teknis merangkai diksi di atas kertas buram, melainkan sebuah ikhtiar spiritual dan intelektual untuk melawan pelapukan ingatan.
 
Baca Juga

Menulis adalah cara kita “bekerja untuk keabadian”, memastikan bahwa gagasan dan marwah pemikiran kita tetap hidup melampaui usia biologis, serta menjadi lentera yang tak kunjung padam bagi generasi yang akan datang.

Penulis-penulis besar yang namanya kini menggema di seluruh penjuru dunia tidak lahir dari kemudahan yang memanjakan. Mereka adalah para penyintas yang telah melewati berbagai rintangan terjal dalam proses kreatifnya. Jika kita membayangkan menulis sebagai sebuah perjalanan, maka mereka telah mendaki tanjakan bebatuan yang dihiasi jurang curam nan dalam.  Setiap  langkahnya menyatu dengan kedalaman jiwa. Nama besar yang mereka sandang hari ini tidak datang secara tiba-tiba; ia merupakan hasil dari proses pengerdilan oleh masa yang begitu panjang, sebuah fase di mana ego ditekan dan semangat diuji oleh kesunyian serta penolakan.

Menelusuri biografi para penulis dunia sesungguhnya dapat dijadikan sebagai motivasi utama bagi setiap insan pencinta literasi di Indonesia. Orang-orang hebat ini rupanya telah ditempa oleh segala persoalan hidup yang mendera tanpa henti. Ada sebuah momen krusial dalam hidup mereka ketika lingkungan sekitar, bahkan teman dekat sekalipun, sudah mulai enggan mendengar ocehan atau keluh kesah tentang beratnya hidup. Dalam titik nadir tersebut, rata-rata dari mereka memilih kertas sebagai landasan pacu untuk menumpahkan segala keresahan yang tak lagi mau dipinjamkan kepada siapa pun. Kertas menjadi muara bagi segala emosi yang tersumbat, tempat di mana kejujuran tidak lagi memerlukan topeng sosial.




Luka dan Rahasia di Balik Sampul Buku Saku

Sering kali, ketika ruang di media massa terasa begitu sempit dan terbatas bagi pemikiran mereka yang luas, para penulis ini lebih memilih media yang lebih intim. Mereka beralih pada buku saku yang judulnya sengaja dikaburkan atau disamarkan sebagai tempat mencurahkan masalah yang setiap hari singgah dan berlalu dalam benak. Buku kecil bersampul emas dalam kemasan indah itu tidak hanya sekadar tumpukan kertas, melainkan telah menjelma menjadi teman setia di kala duka maupun suka. Di sana, terdapat sebuah gembok kecil berukuran dua sentimeter yang bertugas membungkam segala kumpulan diksi yang terkulai mesra dalam lembaran rentetan hidup yang begitu panjang.

Betapa hebat dan kokohnya lembaran-lembaran itu dalam membungkus air mata dan menyulam kembali senyum yang bertandang pada setiap halaman. Untaian balada pada tabulasi diksi semacam ini adalah harta karun yang hanya dimiliki oleh mereka yang benar-benar hebat dalam menulis. Hampir semua pemilik "tarian jemari" yang bergerak lincah di bawah panduan pikiran yang tajam memiliki catatan pribadi yang sangat terjaga kerahasiaannya. 

Catatan-catatan tersebut dikumpulkan dalam rentang waktu yang tak berbilang tahunnya, hingga pada saat yang tepat, ia menjelma menjadi mahakarya yang mampu menghipnotis jutaan pasang mata dan telinga di seluruh dunia. Tanpa buku saku dan catatan kecil yang dianggap sepele itu, dunia mungkin tidak akan pernah mengenal karya-karya yang mampu mengubah peradaban.

Manifestasi Perlawanan, Dari Kemiskinan Rowling hingga Petuah Sang Imam

Mari kita sedikit mengulik biografi Joanne Kathleen Rowling, atau yang lebih dikenal sebagai J.K. Rowling. Penulis novel Harry Potter ini merupakan sosok yang sangat digandrungi oleh remaja di seluruh dunia, termasuk generasi masa kini. Namun, di balik kemegahan dunia sihir yang ia ciptakan, tersimpan fakta bahwa setiap pengalaman hidupnya yang pahit justru menjadi bahan bakar utama bagi imajinasinya. Kepahitan itulah yang mengantarkannya pada kedalaman rasa yang luar biasa, sehingga karya tulisnya memiliki jiwa yang kuat dan mampu memberikan sensasi "magis" yang nyata bagi para pembacanya, bahkan bagi para penonton film yang diadaptasi dari bukunya.

Rowling adalah potret nyata dari seorang ibu rumah tangga yang harus mengarungi bahtera kehidupan yang sangat rumit. Badai keluarga terus menghantamnya, namun ia menolak untuk karam dan tetap memilih untuk terus berkarya hingga namanya meledak di pasar global. Kisah Rowling memicu sebuah renungan besar: mengapa orang-orang yang memiliki kecukupan dan bebas dari keterbatasan justru sering kali enggan untuk menulis? Jawaban atas pertanyaan ini tentu tersimpan rapat di dalam diri masing-masing pembaca. Sejatinya, menulis bukan soal fasilitas, melainkan soal panggilan jiwa untuk mengekspresikan keberadaan diri di dunia.

Pentingnya menulis juga ditegaskan oleh petuah seorang imam besar sekaligus filsuf legendaris, Al-Ghazali, yang mengatakan, "Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis." Jika dicermati lebih dalam, kutipan tersebut mengandung pesan eksplisit bahwa hanya anak raja dan anak ulama besar yang secara otomatis dikenal oleh khalayak melalui garis keturunan mereka. 

Selebihnya adalah manusia biasa yang hidup hanya mengikuti proses alamiah dan berisiko terlupakan begitu saja. Sang Imam menyisipkan frasa "maka menulislah" sebagai solusi bagi orang biasa untuk melampaui takdirnya. Menulis adalah jembatan yang mampu membawa nama seorang penulis berkeliling dunia dan memungkinkannya untuk "beristirahat" dengan tenang di setiap taman bacaan hebat yang dikunjungi oleh orang-orang hebat pula.

Terapi Aksara dan Keberanian Menaklukkan Ketakutan

Selain sebagai jalan menuju keabadian sejarah, menulis juga memiliki dampak kesehatan yang signifikan. Fatimah Mernissi, dalam sebuah pemikiran pada tahun 2018, menyarankan agar seseorang mengusahakan untuk menulis setiap hari. Ia meyakini bahwa dengan menulis, kulit seseorang akan menjadi segar kembali akibat kandungan manfaat psikologis yang luar biasa dari proses pelepasan beban emosi. Hal ini sangat logis, mengingat ketika masalah datang menggusur ketenangan jiwa, manusia sering kali mencari bahu untuk bersandar. Namun, perlu dipahami bahwa tidak semua bahu bersedia dijadikan sandaran secara sembarangan. Mengeram masalah terlalu lama tanpa saluran yang tepat hanya akan berdampak pada kerutan wajah dan penuaan dini, karena wajah adalah profil dari keadaan jiwa kita yang terdalam.

Lantas, bagaimana, kapan, dan di mana kita harus mulai menulis? Ini adalah pertanyaan klasik yang sering kali menjadi tembok penghalang bagi setiap calon penulis. Pengalaman menunjukkan bahwa menulis tidak harus selalu tampil sempurna atau memukau dalam seketika. Segalanya bisa dimulai dari hal-hal sederhana yang dialami setiap hari. 

Pengalaman pribadi adalah anugerah terbesar yang bisa diolah menjadi narasi yang menarik. Namun, rintangan terbesar biasanya datang dari dalam diri sendiri berupa rasa takut diejek teman, takut dikritisi, atau takut salah dalam mengolah bahasa. Ribuan ketakutan ini sering kali bersemayam di alam bawah sadar dan mematikan potensi kreatif seseorang sebelum sempat berkembang.

Untuk menghadapi rasa cemas tersebut, seseorang harus berani mengusir perasaan negatif itu ke lembah terjauh. Tulislah hal-hal yang paling disenangi secara runtut dan sistematis tanpa perlu menoleh ke belakang untuk melakukan pengeditan secara prematur. Jika aliran tulisan sudah mulai bergerak, namun kita terlalu sering berhenti untuk mengevaluasi setiap kata, maka tulisan tersebut justru akan kehilangan daya hidupnya. 

Jika pikiran mulai terasa suntuk, mata berkunang-kunang, dan kreativitas mulai buntu, tinggalkanlah sejenak tulisan itu. Hibur diri dengan berolahraga atau mendengarkan musik untuk mengendurkan kembali saraf-saraf yang tegang. Kapan waktu yang tepat untuk kembali menulis? Jawabannya adalah kapan saja si penulis merasa siap, karena niat dan motivasi adalah pemicu utama yang tidak bisa dipaksakan oleh orang lain.

Simpulan

Pada akhirnya, menulis adalah sebuah proses panjang untuk mencintai ide dan memberikan ruang bagi jemari untuk menari mengikuti irama pikiran. Menulis bukan hanya soal bakat, melainkan soal ketangguhan dalam menghadapi diri sendiri dan lingkungan sekitar. Seperti halnya seorang wartawan hebat yang dituntut mampu menulis secara menarik di tengah dentuman meriam dan mesiu peperangan, seorang penulis sejati harus mampu melahirkan karya di tengah badai kehidupan apa pun. Dengan menulis, kita tidak hanya sedang menyembuhkan diri sendiri dari luka-luka emosional, tetapi juga sedang menyusun bata demi bata untuk membangun sebuah monumen ingatan yang akan terus berdiri tegak bahkan setelah raga kita tak lagi ada di dunia ini.

Penulis adalah Mahasiswa Doktoral  Program Studi Islam UIN SUNA dan Guru SMA Negeri 1  Lhokseumawe




Berita Terkait

Posting Komentar

0 Komentar