Foto: Dokumen Pribadi
Di tengah keriuhan lapangan basket SMAN 1 Lhokseumawe, sesosok remaja tampak piawai mendribel bola, mencari celah di antara pertahanan lawan. Dialah Arib Alfath, pemuda kelahiran Lhokseumawe, 4 November 2007, yang kini tengah merajut mimpi besar di balik seragam putih abu-abunya.
Putra dari pasangan Muliadi dan Cut Novita ini bukanlah sekadar siswa biasa yang menghabiskan waktu di dalam kelas. Baginya, setiap detik di sekolah adalah proses pendewasaan diri, dan setiap keringat di lapangan basket adalah investasi bagi masa depan yang ia cita-citakan sebagai seorang insinyur di perusahaan internasional.
Meskipun dalam riwayat organisasinya tercatat tidak memiliki pengalaman formal, Arib membuktikan bahwa kepemimpinan dan ketangguhan bisa lahir dari hobi yang ditekuni dengan serius. Bakatnya di dunia basket bukan sekadar pengisi waktu luang.
Hal ini terbukti dengan torehan prestasi yang cukup membanggakan, di antaranya meraih Juara 3 pada ajang Beast Basketball Championship dan menyabet Juara 2 dalam Pertandingan Basket Antar Pelajar se-Provinsi Aceh yang diselenggarakan dalam rangka HUT Ke-68 Kodam Iskandar Muda tahun 2024. Melalui kompetisi-kompetisi tersebut, Arib belajar tentang sportivitas, kerja keras, dan bagaimana bangkit dari tekanan di lapangan.
Bagi Arib, SMAN 1 Lhokseumawe adalah laboratorium kehidupan yang sesungguhnya. Ia memandang sekolah bukan sekadar gedung untuk menghafal teori atau menelan materi pelajaran demi mengejar nilai di atas kertas. Baginya, dinamika sekolah,mulai dari tumpukan tugas yang seolah tak berujung hingga omelan guru—merupakan bentuk kepedulian yang menempa mentalnya.
Momen-momen bermain dan berbagi tawa bersama sahabat di sela-sela jam pelajaran diakuinya sebagai warna yang paling indah dalam kesehariannya. Di sekolah inilah, karakter Arib dibentuk untuk menjadi manusia seutuhnya yang memahami arti kebersamaan dan menghargai setiap jengkal proses pertumbuhan.
Langkah kaki Arib kini mulai terarah menuju jenjang pendidikan tinggi, dengan target khusus menembus Institut Teknologi PLN (ITPLN). Ia memiliki pandangan yang cukup matang mengenai strategi meraih cita-cita. Menurutnya, keinginan kuat hanyalah bahan bakar awal, namun tanpa perencanaan strategis, mimpi itu akan sulit digapai.
Arib menekankan pentingnya memahami langkah-langkah detail ke depan, mulai dari penguasaan materi ujian masuk hingga kesiapan mental yang prima. Bagi pemuda yang hobi basket ini, persiapan matang adalah jembatan yang menghubungkan antara impian dan realitas melalui rencana-rencana yang terukur.
Redaksi Sastrapuna.com

0 Komentar