Kalimantan dalam Kepungan Api, Hutan Terbakar, Asa Terancam

 


Foto: Dokumen Pribadi

Oleh: Putroe Maghfirah

Bagaimana jika tempat yang seharusnya menjadi rumah bagi kehidupan, berubah menjadi lautan api? Inilah wajah Kalimantan yang sedang berjuang melawan kebakaran.

Lahan yang baru subur, hingga hasil pertanian yang tengah memasuki masa panen, masyarakat Kalimantan yang biasanya selalu melakukan rutinitas yang berbeda-beda. 

Bertani, berkebun, dan menjalankan usaha di sekitar mereka, dengan kondisi lahan yang cenderung baik, subur dan mendukung untuk kegiatan memanen bahan pangan. Namun semuanya harus menghadapi ancaman kebakaran.  Karena kebakaran tersebut, Manusia tak hanya kehilangan sumber pangan, hewan pun ikut kehilangan habitatnya.

Agustus yang seharusnya menjadi bulan penuh kegembiraan dalam menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, dengan berbagai perayaan meriah dan karnaval yang dinantikan masyarakat.


Hal ini tidak bisa dinikmati sebagaimana mestinya, karena kalimantan masih perlu memecahkan persoalan kelingkungan yang penuh dengan tantangan.  Data satelit NOAA-20 menyebutkan sekitar 1.487 titik terbakar, dengan  wilayah Kalimantan Tengah yang menjadi konsentrasi terkuat.

1.     Kondisi Masyarakat Kalimantan PraBencana

Hari-hari berjalan seperti biasanya di Kalimatan. Sebagian pergi bertani dan sebagian pergi berkebun. Lahan kosong yang perlahan diisi oleh bibit pangan, hasil panen yang siap dijual ke luar, serta pangan yang siap diekspor, disiapkan dengan rapi untuk diantar.

Namun, cuaca mulai tidak bersahabat karena kemarau tak kunjung berakhir, menyebabkan panas ekstrem, peningkatan titik panas serta penurunan kualitas udara yang berangsur menjadi tidak sehat. Dengan terjadinya perubahan lingkungan dan iklim yang ekstrem, aktivitas sebagian masyarakat Kalimantan mulai terhambat. Petani perlahan mulai tidak bertani, begitu pun dengan kegiatan berkebun.

Namun, panas ekstrem dari cuaca dan kurangnya perhatian dari petani, kondisi lahan gambut yang mengering menjadi pemicu utama kerentanan terhadap percikan api sekecil apa pun. Meskipun hal ini belum bisa disebut sebagai penyebab kebakaran sepenuhnya, namun hal ini patut di waspadai.

2.   Upaya Penananan dari Pemerintah Pusat Kepada Korban Bencana

 Upaya  penanganan yang dilakukan oleh  pemerintah meliputi mitigasi mendesak kebakaran (penanganan pertama), termasuk juga mitigasi satwa. Hewan yang tindak tangani diantaranya Orangutan, Gajah dan satwa etnik lainnya dipindahkan menuju daerah yang lebih aman dan terjaga.

Pemerintah juga memperluas layanan kesehatan  seperti dengan memberikan distribusi masker kepada masyarakat secara gratis serta menyebarkan tenaga medis secara merata tanpa terkecuali.

Namun sampai saai ini, Kementerian Kehutanan sampai masih belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait kondisi terkini, meskipun BMKG dan pemerintah daerah

Kalimantan setempat sudah mengambil langkah  menuju lapangan untuk menangani dan mengamati kondisi di lapangan, apalagi dampak yang diberikan sudah mencapai lintas negara lain seperti Malaysia dan Brunei. 

Faktor utama dari bencana kebaran ini yaitu cuaca kemarau yang tak kunjung hujan, ditambah sifat lahan gambut yang cenderung mudah terbakar dan pembukaan lahan oleh industri dan penebangan pohon secara liar.

Kebakaran ini memicu banyak ancaman kesehatan bagi masyarakat sekitar membuat pemerintah menghimbau agar masyarakat tidak keluar rumah bila tak berkepentingan, karena dapat memicu masalah kesehatan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Gangguan penyakit ini sering ditemukan pada kelompok-kelompok yang rentan seperti ibu hamil, anak-anak atau balita, remaja, dan lansia. Selain itu, dampak yang kerap terjadi akibat bencana kebakaran meliputi lingkungan yang kehilangan vetegasi sehingga menghancurkan fungsi ekologis untuk menyimpan karbon yang menghasilkan oksigen dan keseimbangan ekosistem.

Simpulan

Kebakaran hutan di Kalimantan bukan sekadar bencana alam, melainkan teguran keras agar kita menghentikan pembalakan liar dan pembukaan lahan industri secara sembarangan. Praktik berpotensi merusak vegetasi dan mematikan fungsi ekologis hutan, yang memicu bencana susulan seperti banjir dan tanah longsor.

Selain merusak ekosistem, dampak terbesar dirasakan oleh para petani yang kehilangan bahan pangan, hasil panen, hingga penurunan produktivitas lahan pertanian. Oleh karena itu, mitigasi dan penanganan pertama bencana harus dipelajari sejak dini untuk meminimalkan jumlah korban jiwa.

 

Penulis adalah Siswa Kelas X-7  SMA N 1 Lhkoseumawe

Berita Terkait

Posting Komentar

0 Komentar